SELAMAT DATANG DI PORTAL LEMBAGA KANTOR BERITA KALIMANTAN (LKBK) - UNTUK INDONESIA KAMI ADA
HEADLINES NEWS
Loading...

Showing posts with label sosbud. Show all posts
Showing posts with label sosbud. Show all posts

Lestarikan Budaya Adat Dayak, WHW-AR Laksanakan Acara Adat “Bapalas Benua Bekasik”

KENDAWANGAN – PT Well Harvest Winning Alumina Refinery (WHW AR) bekerjasama dengan Dewan Adat Dayak Kecamatan Kendawangan turut melestarikan adat budaya Dayak dengan menyelenggarakan upacara adat Dayak, Bapalas Benua Bekasik di Jarau Kota Mara (Gerbang Adat) Kecamatan Kendawangan, Kabupaten Ketapang, Provinsi Kalimantan Barat.

Upacara Bapalas adalah upacara yang dilaksanakan oleh suku Dayak pada saat usai masa panen. Upacara ini dilakukan sebagai ungkapan rasa syukur yang telah dianugerahkan oleh Sang Pencipta kepada para petani desa dan juga sebagai media tolak bala terhadap roh-roh jahat.

Bapalas Benua Bekasik diselenggarakan oleh WHW AR di Desa Mekar Utama, yang merupakan upacara Bapalas pertama yang diadakan di Kendawangan. Upacara ini diselenggarakan dalam rangka melestarikan budaya Dayak yang bertujuan untuk mengucap syukur atas konstruksi pabrik yang telah selesai dan operasional yang lancar dan juga untuk memohon keselamatan bagi seluruh karyawan dan manajemen WHW AR serta memperbaiki hubungan dengan sesama manusia, dengan alam dan dengan Sang Pencipta.

Upacara ini dihadiri oleh para Demong Adat Kendawangan, Muspika (Musyawarah Pimpinan Kecamatan), Muspida (Musyawarah Pimpinan Daerah), Dewan Adat Dayak Kendawangan, Ketua Harian DAD Ketapang, Bupati Ketapang yang diwakili oleh Asisten 3, serta manajemen WHW AR yang diwakili oleh Stevi Thomas selaku Deputy General Manager Jakarta dan Li Yuyong selaku General Manager Site.

Stevi Thomas mengungkapkan "Upacara Bapalas Benua Bekasik ini merupakan wujud nyata terciptanya hubungan yang harmonis antara PT Well Harvest Winning dengan masyarakat sekitar khususnya suku Dayak. WHW AR berharap upacara ini dapat senantiasa melestarikan budaya Dayak yang merupakan salah satu kebanggaan dari keanekaragaman bangsa Indonesia."

Di saat yang sama, Li Yuyong selaku General Manager Site WHW AR juga mengutarakan “Well Harvest Winning memulai operasional dan berjalan dengan baik selama satu tahun pertama adalah berkat dukungan masyarakat sekitar area lokasi pabrik. Di tempat inilah tercipta  semangat kebersamaan. Hal ini terus kami bina dan tumbuh kembangkan dengan turut melestarikan budaya Dayak salah satunya melalui upacara Bapalas Benua Bekasik”, ujar Li.

Upacara Bapalas Benua Bekasik dimulai dengan prosesi pemasangan atribut kepada para peserta upacara yang dilanjutkan dengan pemasangan Ancak dan  Menara Tajau di area Gerbang Adat serta ritual Bapalas yang dipimpin oleh Demong Adat. Upacara ini juga dimeriahkan oleh rekan-rekan dari Sanggar Tari Ketapang yang menampilkan tarian khas Dayak.

Adil Ka'talino, bacurramin ka'saruga, basengat ka'jubata.***(Adv/LKBK65).

Gambar : Documen PT Well Harvest Winning Alumina Refinery (WHW AR), untuk LKBK65.





_______

“MENGUTIP SEBAGIAN ATAU SELURUH ISI PORTAL INI HARUS SEIZIN REDAKSI. HAK CIPTA DILINDUNGI UNDANG-UNDANG”
_____

Satu Syuro Diperingati di Ketapang Dengan Berbagai Kegiatan

KETAPANG – Peringatan Satu Syuro yang bertepatan dengan ulang tahun ke 20 Paguyuban Jawa, Kabupaten Ketapang, Kalbar digelar dengan pawai budaya mobil hias keliling Kota Ketapang.

Puluhan mobil hias karnaval yang terdiri dari  Sub Paguyuban Jawa asal beberapa daerah tampil dengan budayanya masing masing ambil  bagian. Pawai karnaval dilepas secara resmi Bupati Ketapang, Martin Rantan, SH di halaman GOR Tentemak, Jalan Gatot Subroto, Minggu (17/09/2017) kemarin.

Ketua Paguyuban Jawa Kabupaten Ketapang, Drs Suwigno melaporkan bahwa pawai budaya dilakukan untuk memperingati HUT ke 20 Paguyuban Jawa, menjalin silaturahmi serta menggalakkan kepariwisataan di Kabupaten Ketapang.

Kata Suwigno, selain pawai budaya panitia akan adakan bakti sosial sunatan massal, pada hari Rabu (20/9/2017) pukul 08.00 pagi di halaman Gor Tentemak, yang didahului ceramah agama oleh KH Habib Mahmud Alwi Al-Hadad. Kemudian pada malam harinya akan dilakukan pegelaran wayang kulit.

Bupati Ketapang, Martin Rantan, dalam sambutannya mengatakan  bahwa, Pemerintah Kabupaten Ketapang mendukung upaya organisasi etnis yang ada di Ketapang.

”Kita harus harmonis dalam etnis, karena tugas pemerintah tidak hanya membangun jalan, jembatan, lapangan pesawat, pelabuhan dan lain sebagainya. Tetapi, tugas pemerintah juga menciptakan stabilitas keamanan”, kata Bupati Martin.

Untuk menjaga keamanan, lanjut Martin, tidak hanya tugas dan menjadi tanggungjawab Polisi dan Tentara saja.Tetapi, menjadi tanggungjawab kita semua.

Karena itu, atas nama pribadi dan Pemerintah Daerah, Martin Rantan mengucapkan terima kasih kepada Paguyuban Jawa yang sudah memberikan kontribusi bagi pemerintah atau sudah memberikan kebhinekaan yang ada di Ketapang.

Dalam HUT ke 20 Paguyuban Jawa, dijadwalkan akan digelar pegelaran
wayang. Bupati Ketapang menjanjikan akan hadir menyaksikan pegelaran wayang yang dimainkan Ki Dalang Joko Suharjo. ***(Yudo Sudarto/LKBK65).

Gambar: Pawai Karnaval peringatan Satu Syuro di Ketapang.***(Ist).
_______

“MENGUTIP SEBAGIAN ATAU SELURUH ISI PORTAL INI HARUS SEIZIN REDAKSI. HAK CIPTA DILINDUNGI UNDANG-UNDANG”
_____

Awal Oktober, Festival Kebudayaan Hong Kong Akan Diselenggarakan

"Tari Naga Api Tai Hang, sebuah tradisi tahunan yang masih mengikat masyarakat dari semua generasi"

HONG KONG - Tai Hang dahulu hanyalah sebuah perkampungan masyarakat Cina Hakka, yang kebanyakan mencari nafkah sebagai petani atau nelayan. Pada akhir abad ke-19, sebuah wabah penyakit yang mematikan menyerang perkampungan ini dan mengambil nyawa banyak penduduk desa.

Menurut cerita rakyat yang beredar, Buddha berkata kepada ketua adat desa untuk melakukan Tari Naga Api (Fire Dragon Dance) dan membakar petasan untuk menghentikan wabah tersebut. Nasehat itu diikuti dan zat belerang dari petasan serta hio yang dibakar terbukti ampuh menghentikan wabah penyakit.

Tradisi ini kemudian bertumbuh menjadi acara sembahyang untuk memohon kesehatan dan kemakmuran bagi penduduk desa yang dilakukan setiap tahun. Pada tahun ini, acara akan diselenggarakan dari tanggal 3 -- 6 Oktober.

Dengan posisi menghadap ke depan dan tangan terjulur lurus, Chan Tak-fai mencoba memperagakan gerakan-gerakan Tari Naga Api kepada sekelompok "Tai-Hangers" di sebuah lahan parkir kendaraan. Pria berusia 70 tahun ini sangat bersemangat mengajari setiap gerakan dan langkah tarian secara mendetail, dengan harapan agar para peserta yang umumnya berusia muda dapat mengingat setiap langkah tersebut, sebab kelangsungan tradisi Hong Kong ini berada di pundak mereka.

"Mereka yang menghabiskan masa kecil di Tai Hang pasti mengetahui bahwa partisipasi dalam Tari Naga Api adalah suatu kehormatan besar," ujar Chan. "Jika Anda belum pernah ikut serta dalam tradisi ini, Anda bukanlah seorang Tai-Hanger yang sejati."

Chan sangat antusias dalam melestarikan tarian tradisional ini. Sejak tahun 1880, tradisi unik ini telah berlangsung berkat kerja keras para penduduk Tai Hang. Festival ini telah menjadi salah satu atraksi utama dalam Warisan Budaya Hong Kong dan bahkan terdaftar sebagai budaya nasional pada tahun 2011.

Hari ini, Tai Hang bukan lagi sebuah perkampungan penduduk. Tai Hang telah bertransformasi menjadi sebuah kawasan modern, dengan berbagai restoran kekinian serta apartemen mewah. Sebagian besar penduduk aslinya telah pergi meninggalkan Tai Hang. Walau demikian, tradisi Tari Naga Api tetap hidup dan banyak penduduk asli kampung Tai Hang datang kembali pada hari spesial ini untuk ikut serta dalam tradisi tersebut atau sekadar menyaksikan keindahan tarian.

Salah satunya adalah Alan Fok Chun-fung, 21 tahun. Saat masih anak-anak, Alan sangat terpukau dengan keindahan "ular naga" sepanjang 220 kaki yang terbuat dari bambu, jerami dan batang hio. Ular naga tersebut mampu menjadikan jalan-jalan sekitar kampung Tai Hang menjadi terang benderang.

"Saya tinggal di lantai atas, jadi saya bisa melihat dengan leluasa Tari Naga Api," ujar Fok, sembari mengenang masa kecilnya di Wun Sha Street, salah satu lokasi diselenggarakannya tarian.

"Saya sangat terkesima dengan keindahan dan gerakan Naga Api. Ibu saya bahkan menyarankan agar saya turut ambil bagian."

Fok ambil bagian dalam tarian tersebut untuk pertama kalinya saat berumur 14 tahun. Semangat para generasi muda ternyata sangat menyentuh Pang Man-kan, seorang bapak berusia 81 tahun yang telah ambil bagian dalam tradisi ini sejak masih remaja dan saat ini berperan sebagai konsultan setelah pensiun.

"Saya senang sekali melihat banyaknya orang muda yang turut ambil bagian. Bahkan orang-orang asing yang tinggal di sini juga ikut serta dan kami menyambut mereka dengan tangan terbuka," ujar Pang.

Mengendalikan Naga Api bukan hal yang mudah. Naga itu sendiri atas 32 bagian dengan berat lebih kurang 100 kilogram -- bagian kepala memiliki berat 48 kilogram. Namun berat tersebut tidak lantas mematikan semangat Fok. Walaupun para orang-orang tua sangat perduli akan kelestarian tradisi ini, para generasi muda memiliki sudut pandang yang berbeda.

"Sejarah dan tradisi memang penting, namun bagi kami yang paling penting adalah rasa menjadi bagian dari komunitas ini," ujar Fok.

Tari Naga Api Tai Hang 2017 :
Tanggal 3 -- 6 Oktober 2017 (4 malam)
Waktu : 20:15 sampai 22:30
Lokasi terbaik untuk menyaksikan di Wun Sha Street, Tai Hang
Pertunjukan tambahan ; 4 Oktober 2017; 22:45 sampai 23:45;
Soccer Pitch, Victoria Park, Causeway Bay
Informasi lanjut : www.discoverhongkong.com .***(Halim Anwar/LKBK65).

Gambar : Tari Naga Api Tai Hang merupakan bagian yang tak terpisahkan dari perayaan Festival Musim Gugur di Hong Kong. (Dari kiri) Pang Man-kan, Chan Tak-fai dan Alan Fok Chun-fung sangat antusias dalam melestarikan tradisi Tari Naga Api Tai Hang.***(Ist).
_______

“MENGUTIP SEBAGIAN ATAU SELURUH ISI PORTAL INI HARUS SEIZIN REDAKSI. HAK CIPTA DILINDUNGI UNDANG-UNDANG”
_____

Idul Adha, Ketupat Colet Menu Utama Warga Ketapang

KETAPANG – Sebentar lagi perayaan Hari Raya Idul Adha datang. Momen ini biasanya identik dengan tersedianya makanan khas berbahan baku daging sapi yang disajikan bersantan kental di rumah-rumah.

Beberapa sajian khas kuliner masyarakat Ketapang adalah ketupat colet. Ketupat colet berbahan baku beras ketan (pulut) maupun ketupat dari beras biasa.

Di sebut “colet” karena saat mencicipinya menggunakan irisan ketupat yang dicolet dengan lauk pauknya. Lauk dapat terdiri dari daging sapi, kambing, ayam bahkan juga bahan penganti daging seperti “ale ale”  yaitu sejenis kerang yang hidup di perairan laut Ketapang yang dibuat serondeng.

Masakan lauk biasanya diolah dengan santan, yang memiliki cita rasa gurih, lemak dengan wangi rempah mencolok. Ketupat colet ini dimakan bersama keluarga dan tamu.

Yang istimewa dari menu ketupat colet ini adalah penyajian yang lebih praktis, dengan kemasan nasi yang terbungkus ketupat. Kemudian baru lauk untuk di cocol maupun di colet dengan ketupatnya. Praktis bukan.***(Yudo Sudarto/LKBK65).

Gambar: Ketupat.***(Ist).
_______

“MENGUTIP SEBAGIAN ATAU SELURUH ISI PORTAL INI HARUS SEIZIN REDAKSI. HAK CIPTA DILINDUNGI UNDANG-UNDANG”
______

Kapolres Waykanan AKBP Asrul Kurniawan Hina Wartawan, Ini Catatan Superman

Oleh : Harry Adryanto Daya (Ketua Dewan Kehormatan IWO Wilayah Kalimantan Barat)

CATATAN SUPERMAN : Ucapan menusuk jantung insan pers, yang dilakukan Kapolres Waykanan AKBP Asrul Kurniawan tentu sudah sangat diluar batas. Membandingkan karya jurnaslis cetak dan teve dengan gambar atau video tidak senonoh, sebuah pelecehan tingkat tinggi.

Pimpinan polisi wilayah Waykanan Lampung ini wajib mendapatkan sanksi kode etik yang berat, dan tidak pantas lagi menjabat sebagai pemimpin.  Karena ucapannya menandakan perbuatannya : " Dia lebih suka melihat gambar atau menonton video porno dari pada membaca berita koran atau menonton berita di televisi."

Dia tidak menyadari bahwa tidak semua orang sependapat atau punya prilaku seburuk itu. Tetapi ini juga menjadi cacatan khusus bagi masyarakat kita. Termasuk untuk para jurnalis dan perusahaan media. 

Bahwa pernyataan yang dikeluarkan Sang Kapolres itu memang sedang trend terjadi di semua kalangan. Bahwa banyak orang lebih doyan membaca WA, menerima kiriman video atau gambar porno dan tentu yang lainnya yang juga positif. Seperti tips kesehatan, kecantikan, kehidupan, agama, info berita dan lainnya termasuk gambar atau vedio lucu. Belum lagi jika masuk ke dunia facebook, IG, Youtobe, Line, video games, dan banyak lagi. 

Artinya, semua pihak termasuk masyarakat,  khususnya para guru dan orangtua harus waspada dengan trend virus dunia maya yang sedang menjalar kemana mana saat ini.

Sedangkan Media dengan para jurnalisnya harus dituntut lebih peka, cekatan dan profesional menghadapi lajunya arus dunia digital dan online. Perusahaan Media harus memiliki SDM jurnalis yg tajam dan berani mengungkap kebenaran dan melarang dengan keras jika bertindak tidak profesional saat menjalan tugas jurnalisnya. 

Karena tidak benar apa yang dikatakan AKBP Budi Asrul Kurniawan jika media tidak dibutuhkan lagi di masyarakat, karena masyarakat atau negara ini sangat membutuhkan media yang berani mengungkap kebenaran untuk menjaga keadilan. Dan itu dibutuhkan wartawan atau seorang pemimpin berjiwa Superman !!!!***(LKBK65).

Gambar: Documen Harry Daya.
_______

“MENGUTIP SEBAGIAN ATAU SELURUH ISI PORTAL INI HARUS SEIZIN REDAKSI. HAK CIPTA DILINDUNGI UNDANG-UNDANG”
______

Ini Alasan Wisatawan Berkunjung ke Pantai Tanjung Batu

SUNGAI NANJUNG – Pantai “Tanjung Batu” merupakan salah satu destinasi wisata favorit di Kabupaten Ketapang, Kalbar. Bagi wisatawan yang berkunjung ke Kota Ale Ale ini merasa belum lengkap liburnya jika tidak mampir ke Pantai Tanjung Batu.

Lokasi pantai ini saangat mudah ditempuh menggunakan kendaraan, 40 km dari Kota Ketapang, tepatnya di Desa Sungai Nanjung Kecamatan Matan Hilir Selatan, Kabupaten Ketapang. Lalu apa saja yang menjadi daya tarik Pantai “Tanjung Batu” ?

1. Pantai  dengan batu yang menjorok

Pantai Tanjung Batu ini memiliki panorama pantai yang cukup menawan. Dengan hamparan pasir, dan batu yang menjorok ke laut. Di belakangnya terdapat bukit kecil yang berhutan, sehingga terasa sejuk dengan rindangnya pepohonan di kawasan ini.

2. Tempat memancing

Selain menikmati keindahan pantai, wisatawan juga bisa  memancing di pantai ini. Terutama di kawasan Pulau Cebe dan pulau pulau karang yang terdapat di kawasan itu. Saat memancing yang tepat tentu menunggu informan pemandu wisata pemancingan yang ada di kawasan tersebut. Musim ikan tenggiri dan ikan karang menjadi atraksi menarik para pehobi mancing maniak.

3. Event lomba gress trak

Saat  hari liburan penting seperti hari raya, tahun baru, kawasan ini menjadi tempat lomba grasstrak antar kecamatan bahkan juga sering menjadi ajang antar kabupaten se Kalbar dan Kalteng. Tempat yang luas menjadikan event ini menarik para pengunjung.***(Yudo Sudarto/LKBK65).


_______

“MENGUTIP SEBAGIAN ATAU SELURUH ISI PORTAL INI HARUS SEIZIN REDAKSI. HAK CIPTA DILINDUNGI UNDANG-UNDANG”
______

Warisan Budaya Tanah Merah Yang Belum Terungkap

NANGA TAYAP – Salah satu warisan budaya di Desa Tanah Merah, Kecamatan Nanga Tayab Kabupaten Ketapang, Kalbar adalah banyak terdapat makam kuno yang diduga merupakan situs Kerajaan Tanjungpura tempo dulu. Konon daerah ini pernah menjadi lokasi Kerajaan Tanjungpura.

Salah satu makam yang cukup dikenal masyarakat di desa tersebut adalah makam Ratu Pano. Makam dengan kaligrafi Arab Melayu yang tertulis di nisan tersebut tidak terlalu jelas siapa  yang wafat.

Salah satu peninggalan yang juga cukup unik dan masih misterius adalah peninggalan berupa Batu Bundar. Menurut penjelasan para arkeolog batu tersebut dinamai Batu Umpak.

Umpak merupakan  bagian dari bangunan kuno untuk tiang penyangga dan bisa juga landasan tiang bendera. Apa hubungannya dengan Ratu Pano tersebut sampai sekarang masih belum terungkap.

Apakah ini peninggalan Ratu Pano, peninggalan Kerajaan Tanjungpura. Dan silsilah darimana Ratu Pano yang sering disebut warga Desa Tanah Merah tersebut sampai kini juga masih misteri.***(Yudo Sudarto/LKBK65). 
_______

“MENGUTIP SEBAGIAN ATAU SELURUH ISI PORTAL INI HARUS SEIZIN REDAKSI. HAK CIPTA DILINDUNGI UNDANG-UNDANG”
______

Untuk Ketapang dan Kayong Utara, Desa Tempurukan Adakan Festival Dangdut

TEMPURUKAN – Dalam rangka memeriahkan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI ke-72, Desa Tempurukan, Kecamatan Matan Hilir Utara, Ketapang, Kalimantan Barat, telah mengadakan Festival Dangdut untuk dua Kabupaten yaitu Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Kayong Utara, diiukti sebanyak 48 peserta dari tanggal 13 hingga 20 Agustus 2017.

Event tahunan ini sudah seminggu berlangsung,bertempat di halaman kantor Desa Tempurukan,pada malam Grand Final ini tanggal 20 Agustus 2017 menyisakan 7 peserta dari 48 peserta yang mengikuti.

Erham Zainal selaku ketua panitia dalam sambutannya mengucapkan banyak terima kasih atas terselenggaranya acara ini,dukungan masyarkat Desa Tempurukan khususnya.Ia juga mengapresiasi masyarakat yang antusias menyaksikan acara tersebut dengan damai dan tertib.

Acara ini juga dihadiri oleh Ketua IWO Provinsi Kalimantan Barat Kristoporus Popo,S.Pd,"ini acara bagus,saya mendukung,tidak hanya menghibur tapi juga sebagai ajang mengasah kemampuan guna mencari bibit penyanyi untuk mengharumkan nama Kalbar dipentas yang lebih tinggi lagi",ungkapnya.

Selain itu,tidak hanya festival dangdut, Desa Tempurukan juga mengadakan pertandingan Futsal dan acara lainnya,Ketua Pemuda dan Olahraga Desa Tempurukan Heriwanto yang juga Bendahara IWO Kalbar mengatakan, bahwa kegiatan seperti ini tidak hanya bagus untuk pemuda tapi juga bermanfaat untuk masyarakat setempat.

“Selama hampir seminggu acara ini berlangsung,banyak warga sekitar yang berjualan, ini baik buat menambah penghasilan mereka",kata Heriwanto yang di aminkan juga oleh Apok selaku Kades Tempurukan.

Tahun ini acara lebih meriah, kata Apok, banyak kegiatan bermanfaat yang diadakan,”tahun depan akan kita buat lagi acara yang lebih besar dari ini " tutup Apok selaku Kepala Desa Tempurukan..***(Halim/Putra/LKBK65).

Gambar: Documen Humas IWO Kalbar untuk Portal LKBK65.
_______

“MENGUTIP SEBAGIAN ATAU SELURUH ISI PORTAL INI HARUS SEIZIN REDAKSI. HAK CIPTA DILINDUNGI UNDANG-UNDANG”
______

Kunjungi Desa Wisata Gunung Kelir di Jogjakarta, Ini Cerita Abdurahman Al Qadrie

KETAPANG – Bicara tentang wisata alam, tidak hanya bagaimana keindahan tentang alam saja, tapi bagaimana kelestarian jenis yang menjadi daya tarik, kesiapan masyarakat setempat, dan dukungan infrastruktur yang nyaman bagi pengunjung.

Demikian antara lain dikatakan Abdurahman Al Qadrie, Ketua Konservasi Biodiversitas Ketapang (KBK), sebuah perkumpulan yang beraktivitas tentang upaya pelestarian keanekaragaman hayati Ketapang, Kalimantan Barat, kepada media ini, Sabtu (12/08/2017) malam.

Selanjutnya kata Abdurahman, untuk itulah dia mengunjungi Desa Wisata yang sejak 2008 dan mulai ramai dikunjungi baru tahun 2014 akhir, tepatnya di Dusun Gunung Kelir, Desa Jatimulyo, Kecamatan Girimulyo, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Jogjakarta, belum lama ini.

Desa ini kemudian digagas menjadi Desa ramah burung oleh komunitas pengamat burung. Sebagai dukungan terhadap pemerintah desa yang telah mengeluarkan Peraturan Desa (Perdes - red) pelestarian lingkungan hidup. Salah satu dari amanat Perdes tersebut adalah upaya perlindungan jenis-jenis burung di wilayah desa Jatimulyo.

Ada 94 jenis burung yang berhasil didata para pengamat burung yang dipelopori Imam Taufiqurahman. Mayoritas penduduk desa ini adalah petani, peternak kambing dari jenis peranakan Ettawa, bahkan ada yang menekuni untuk produksi kopi dan madu, seperti yang ditekuni Mas Kelik alias Supono, warga Dusun Gunung Kelir yang memiliki pengetahuan luas mengenai flora fauna desa Jatimulyo.

Adalah Sidiq Harjanto. yang  berkegiatan sejak 2006 yang waktu itu masih berstatus mahasiswa Biologi di UGM, awalnya datang ke desa ini untuk kegiatan penelusuran gua. yang kemudian menemukan jenis laba-laba baru, oleh para peneliti dari LIPI kemudian diberi nama jenisnya Amauropelma matakecil.

Desa ini sangat menarik dengan memiliki jenis serangga endemik Jawa yaitu jenis capung dari Genus drepanosticta. Untuk itu lah desa ini menjadi tujuan utama kunjungan para peserta Jambore Capung 2017 yang diadakan di UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta.

"Ini hal yang sangat positif, jika kita berbicara tentang desa wisata di Ketapang, perlu kiranya kita berkaca pada desa desa yang telah memulainya", tutup Abdurahman.***(Halim Anwar/LKBK65).

Gambar: Keindahan panorama Dusun Gunung Kelir, Desa Jatimulyo, Kecamatan Girimulyo, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Jogjakarta.***(Ist).


_______

“MENGUTIP SEBAGIAN ATAU SELURUH ISI PORTAL INI HARUS SEIZIN REDAKSI. HAK CIPTA DILINDUNGI UNDANG-UNDANG”
______

“Ketapang Heritage” Mengapa Tidak ?

KETAPANG-Ketapang yang terkenal sebagai kota tua, dengan warisan budaya kerajaan Tanjungpura yang begitu lengkap, perlu digali dan dilestarikan keberadaannya. Kekayaan nilai luhur bangsa Indonesia itu sangat perlu untuk menatap masa depan kita, karena itu para pencinta budaya Ketapang menggagas berdirinya  “Ketapang Heritage” 

Beberapa tokoh budaya Ketapang seperti Mochamad Sifradansyah, Ir. H. Gusti Kamboja, Yudo Sudarto, Agus Kurniawan, Misnawar Huddin, Gusti Cerma Dwi, Yasa Nagari, dll. Ketapang Heritage  adalah sebagai wadah bagi pemerhati dan pecinta  budaya untuk  menyebarluaskan pemahaman mengenai pentingnya pelestarian alam, budaya, serta pentingnya pembangunan berkelanjutan.

Hal itu diungkapan oleh Sifradiansyah pecinta budaya Ketapang kepada media ini. Selain itu, hadirnya  komunitas Ketapang Heritage diharapkan juga akan senantiasa menyelenggarakan kegiatan penggalian serta pelestarian  warisan budaya itu sendiri.

Di  Kabupaten Ketapang peninggalan sejarah seperti artefak, kraton candi, nilai peradaban, seni budaya dan bangunan peninggalan zaman kolonial masih sangat terasa. Istilah Heritage sendiri dapat diartikan sebagai warisan sejarah, tradisi, dan nilai-nilai penting sebagai ciri khas suatu bangsa serta menunjukkan sebuah fakta sejarah.

Jadi ini bisa menjawab pertanyaan “kenapa pentingnya menggagas hadirnya sebuah komunitas Ketapang Heritage. Bisa dibilang, Ketapang  Heritage Societ merupakan garda terdepan dalam upaya melindungi benda peninggalan sejarah, khususnya bangunan cagar budaya.

“Kami selalu berupaya berkarya untuk daerah, meski komunitas kami baru dibentuk beberapa waktu lalu”,kata Sifra.***(Kurnia/LKBK65).

Gambar: Salah satu sudut kota Ketapang, Kalbar.***(Foto: LKBK65).



_______

“MENGUTIP SEBAGIAN ATAU SELURUH ISI PORTAL INI HARUS SEIZIN REDAKSI. HAK CIPTA DILINDUNGI UNDANG-UNDANG”
______

Ini Asal Usul Desa Tuan Tuan yang Multikultural

KETAPANG-Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat adalah merupakan daerah majemuk yang terdiri dari beberapa suku bangsa baik pribumi maupun non pribumi. Masing masing warga desa hidup berdampingan secara damai meskipun tiap desa itu memiliki budaya dan adat istiadat yang berbeda satu sama lain, yang sakaligus menjadi ciri suatu pemukiman.

Konon salah satu desa di Kecamatan Benua Kayong Kabupaten Ketapang yang bernama Desa Tuan Tuan merupakan salah satu desa yang dulunya dihuni oleh para pedagang dan ulama, kata Pangeran Ratu Kertanegara Ir. Gusti Kamboja pada Gelar Arkeologi di Keraton Matan Tanjungpura, baru baru ini.

Karena itu desa yang kini menjadi Kelurahan tersebut warganya hidup  berdampingan secara damai dengan desa desa lainnya yang dihuni beragam etnis lain  di kawasan Keraton Matan Tanjungpura.

Menurut Gusti Kamboja prularisme sudah dipelihara warga Ketapang sejak zaman dahulu, dibawah Keraton Matan Tanjungpura warga multi etnis berkumpul, bahu membahu, hidup berdampingan bertolerasnsi secara damai.

Tuan tuan berarti orang yang menjadi majikan, ulama atau tokoh yang terkemuka, karena itu banyak warga yang bermarga Syarif dan Utin di desa ini. Larangan perkawinan dengan orang luar untuk mempertahankan zuriat pernah menjadi adat di desa ini.

Namun dengan semakin majunya zaman, tradisi ini menjadi lenyap seiring dengan pembauran dan asimiliasi. Kelurahan yang letaknya sebelah selatan 4 km dari Kota Ketapang sampai sekarang terkenal dengan desa yang relegius, dengan masjid yang menjadi ion kelurhan ini yang letaknya di pertigaan desa Tuan Tuan.***(Yudo Sudarto/LKBK65).

Gambar: Ir. Gusti Kamboja, Pangeran Ratu Kertanegara.***(Ist).
_______

“MENGUTIP SEBAGIAN ATAU SELURUH ISI PORTAL INI HARUS SEIZIN REDAKSI. HAK CIPTA DILINDUNGI UNDANG-UNDANG”
______

Meriam Padam Pelite Diletupkan, Gawai Arkeologi di Kraton Matan Tanjungpura Dimulai

KETAPANG-Balai arkeologi Banjarmasin, Kalimantan Selatan, kembali gelar Rumah Peradaban bertajuk Gawai Arkeologi, yang di laksanakan  di kawasan Keraton Matan Tanjungpura, Ketapang, Kalimantan Barat, Senin (07/08/2017) kemarin.

Pembukaan telah dilakukan dengan meletupkan Meriam Padam Pelite oleh Bupati Ketapang yang di wakili Sekretaris Daerah Ketapang, Drs.H.M.Mansyur,M.Si.

Beberapa pejabat hadir, diantaranya  Kepala Balai Arkeologi Pusat Jakarta, Kepala Balai Arkeologi Banjarmasin Bambang Wiku Atmodjo, Balar Palembang, Balar Bali, Kepala  Bapeda Ketapang, sejumlah tokoh masyarakat dan juga tuan rumah, Pengeran Kertanegara, Ir Gusti Kamboja, M.Hum.

Kepala Balai Arkeologi Banjarmasin, Bambang Wiku Atmodjo dalam penjelasannya mengatakan, bahwa perhelatan di Ketapang ini sudah dilakukan untuk yang kedua kalinya, saat ini Gawai Arkeologi pelaksanaannya dipusatkan Komplek Keraton Matan Tanjungpura.

Gawai ini  menampilkan beragam materi, seperti membatik, jelajah situs, diskusi dan jamuan agung. Juga sejumlah kegiatan budaya seperti "melangi," jelajah budaya diselenggarakan Balai Arkeologi Kalimantan Selatan dengan melibatkan warga setempat untuk mentransformasi nilai sejarah dan budaya.***(Yudo Sudarto/LKBK65).

Gambar: Meriam Padam Pelite ketika diletupkan.***(Ist).
_______

“MENGUTIP SEBAGIAN ATAU SELURUH ISI PORTAL INI HARUS SEIZIN REDAKSI. HAK CIPTA DILINDUNGI UNDANG-UNDANG”
______
 
WARTAWAN LEMBAGA KANTOR BERITA KALIMANTAN65 (LKBK65) DALAM MELAKSANAKAN TUGAS JURNALISTIK DILENGKAPI DENGAN KARTU PERS RESMI DAN NAMANYA TERDAFTAR DIBOX REDAKSI