KETAPANG-Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat adalah merupakan
daerah majemuk yang terdiri dari beberapa suku bangsa baik pribumi maupun
non pribumi. Masing masing warga desa hidup berdampingan secara damai meskipun tiap desa
itu memiliki budaya dan adat istiadat yang berbeda satu sama lain,
yang sakaligus menjadi ciri suatu pemukiman.
Konon
salah satu desa di Kecamatan Benua Kayong
Kabupaten Ketapang yang bernama Desa Tuan Tuan merupakan salah satu desa
yang dulunya dihuni oleh para pedagang dan ulama, kata Pangeran Ratu
Kertanegara Ir. Gusti Kamboja pada Gelar Arkeologi di Keraton Matan
Tanjungpura, baru baru ini.
Karena itu desa yang kini menjadi Kelurahan tersebut
warganya hidup berdampingan secara
damai dengan desa desa lainnya yang dihuni beragam etnis lain di kawasan
Keraton Matan Tanjungpura.
Menurut
Gusti Kamboja prularisme sudah dipelihara warga Ketapang sejak zaman dahulu,
dibawah Keraton Matan Tanjungpura warga multi etnis berkumpul, bahu membahu,
hidup berdampingan bertolerasnsi secara
damai.
Tuan
tuan berarti orang yang menjadi majikan, ulama atau tokoh yang terkemuka,
karena itu banyak warga yang bermarga Syarif dan Utin di desa ini. Larangan
perkawinan dengan orang luar untuk mempertahankan zuriat pernah menjadi adat di
desa ini.
Namun dengan semakin majunya zaman, tradisi ini
menjadi lenyap seiring dengan pembauran dan asimiliasi. Kelurahan yang
letaknya sebelah selatan 4 km dari Kota Ketapang sampai sekarang terkenal
dengan desa yang relegius, dengan masjid yang menjadi ion kelurhan ini yang letaknya
di pertigaan desa Tuan Tuan.***(Yudo
Sudarto/LKBK65).
Gambar: Ir. Gusti Kamboja, Pangeran Ratu
Kertanegara.***(Ist).
_______
“MENGUTIP SEBAGIAN ATAU
SELURUH ISI PORTAL INI HARUS SEIZIN REDAKSI. HAK CIPTA DILINDUNGI
UNDANG-UNDANG”
______


Post a Comment