Oleh : Letkol Inf Drs. Solih
MARAKNYA penyebaran berita Hoax di jagat maya ternyata
sudah tersusun secara rapi. Jika Anda membaca kabar miring yang bertebaran di
media sosial jangan cepat percaya dan perlu memeriksa sumber informasinya. Jika
sumbernya tak jelas, Anda perlu waspada dan jangan cepat menyebarluaskannya.
Sebab, bisa jadi Anda sudah menjadi korban kelompok penyebar kabar bohong (Hoax)
dan sentimen SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan).
Terbongkarnya sindikat Saracen yang diduga aktif
menyebarkan berita bohong bernuansa SARA di media sosial berdasarkan pesanan,
memang merupakan hal yang terorganisir, bukan semata aksi individu dan uang
semata, ada indikasi-indikasi lain untuk kepentingan kelompok yang disenghaja
untuk menjatuhkan pemerintah agar menjadi gaduh. Hal tersebut sangat berbahaya
bagi ke utuhan NKRI. Modusnya, sindikat yang beraksi sejak November 2015
tersebut mengirimkan proposal kepada sejumlah pihak, kemudian menawarkan jasa
penyebaran ujaran kebencian bernuansa SARA di media sosial. Memang itu keliatan
hanya uang semata, dibalik itu adalah kejahatan luar biasa, karena ini akan
melibatkan semua anak bangsa untuk saling membenci dan saling menyakiti.
Kita pernah mendengar jauh-jauh sebelumya Panglima TNI
Jenderal TNI Gatot Nurmantyo mengingatkan prajurit TNI dan Polri agar
mewaspadai adanya upaya adu domba kedua institusi negara itu dari kelompok
tertentu. TNI dan Polri jangan mau diadu domba, dan perlu meningkatkan
kewaspadaan. Terutama untuk terus menjaga kesatuan antara aparat negara. Jangan
sampai ada yang merusak hubungan TNI dan Polri. Indikasi ini memang sudah
mencium sejak beberapa waktu yang lalu. Kalau kedua insitusi bisa diadu, domba
habislah riwayat NKRI ini, siapa lagi yang akan mepertahan NKRI benteng
terakhirnya pun sudah rapuh akibat adu domba.
TNI sebagai garda terdepan dan sekaligus sebagai
benteng terakhir bangsa, harus senantiasa menjunjung tinggi komitmen untuk
mempertahankan dan membela keempat pilar (Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhineka
Tunggal Ika) yang menjadi konsensus dasar dalam berbangsa dan
bernegara. Dengan demikian TNI akan tetap konsisten dan berkomitmen
menindak tegas oknum-oknum, kelompok maupun golongan tertentu dalam masyarakat
yang berkeinginan untuk menggoyang empat pilar yang sudah menjadi konsensus
bangsa ini.
Lemahnya tali perekat rasa kebangsaan maupun semangat
nasionalisme terhadap bangsa Indonesia merupakan ancaman tersebut tidak
boleh dibiarkan sampai berlarut-larut. Disamping dapat mengurangi
kewibawaan pemerintah juga sangat mengganggu ketenangan masyarakat, yang pada
muaranya dapat menimbulkan keresahan sosial. Indonesia adalah bangsa
besar yang terdiri dari masyarakat majemuk. Namun, keragaman dan perbedaan itu
tidak boleh menjadi sumber konflik namun bisa dijadikan pembelajaran yang dapat
diajadikan suatu kemajuan dan kemakmuran bangsa.
TNI Menjadi Sasaran Hoax
Di Indonesia masyarakatnya 90 % menggunakan media sosial,
misalnya facebook, you tube, twitter, instagram dan selama 24 jam, masyarakat
Indonesia selalu melihat atau ketergantungan kepada media sosial minimal 4 - 5
jam perharinya disela-sela aktifitasnya setiap hari, atau kadang apabila
menemukan sesuatu yang aneh, mereka tidak segan-segan mengirim foto tersebut di
media sosial. Dari sini kita bisa melihat bagaimana ketergantungan masyarakat
akan media sosial dalam kehidupannya. Alangkah bahayanya apabila dalam
setiap hari masyarakat mengomsusi sajian berita-berita bohong yang bersipat
menebar kebencian untuk memancing emosional seseorang maupun kelompok, apalagi
dikaitkan dengan `publik` sangat sensitif dan bisa jadi mengundang kemarahan
pihak yang tertuduh melakukannya.
Kecanggihan dan perkembangan teknologi internet yang
saat ini sedang mengalami peningkatan yang tajam membuat segala informasi yang
berasal dari dalam maupun luar negeri dapat dengan mudahnya diakses oleh semua
orang dari berbagai kalangan. Kini, kita tidak hanya melihat berita dari televisi,
radio, surat kabar, majalah dan film kita dapat mencari dan memperbaharui
informasi dari internet. Kita mau mencari apa saja di internet sudah tersaji,
betapa luarbiasa internet bisa membatu informasi yang baik maupun yang jelek
sekalipun disitu ada.
Menyikapi semakin masifnya berita-berita
bohong (Hoax) yang dapat menyebabkan perpecahan, membahayakan persatuan
dan kesatuan, kebhinneka tunggal ikaan, dan munculnya kebencian diantara anak
bangsa, maka perlu upaya-upaya dari semua komponen masyarakat untuk
menyikapi media sosial ini dengan pembelajaran, kedewasaan, penuh
kehati-hatian. Berita bohong ini memang diciptakan untuk tujuan tertentu dengan
memamfaatkan media sosial yang begitu cepat nyapai kepada masyarakat sebagai
propaganda kelompok tertentu. Propaganda merupakan kegiatan yang dilakukan individu atau kelompok tertentu
untuk proses mempengaruhi pihak lain dengan tidak mengindahkan etika, moral,
aturan, nilai, norma dan lain-lain guna memenangkan tujuan yang akan dicapai.
Akibatnya, apapun akan dilakukan untuk memenangkan tujuan yang akan dicapai
tersebut.
Beberapa kasus beredarnya berita bohong (Hoax)
yang merugikan institusi TNI dan nama baik Panglima TNI antara lain; Dukungan
kepada Panglima TNI untuk Menjadi Presiden RI, Isu Makar yang Dilakukan oleh
Purnawirawan TNI yang ditayangkan Dragon TV yang diilustrasikan seperti
peristiwa pemberontakan G 30 S/PKI tahun 1965, Isu ceramah Panglima TNI pada
acara Maulid Nabi di Petamburan, Isu Keberpihakan TNI kepada Rakyat Bertujuan
Makar, Rumor Jabatan Panglima TNI Mau Dicopot, Kuda Troya Jokowi dan Gatot
Nurmantyo, juga Isu Panglima TNI minta Sumbangan untuk Korban Aceh. Serta
foto-foto Panglima TNI dan Pejabat TNI dengan keterangan gambar berisi
informasi untuk mnguntungkan pihak tertentu.
Selain itu, penggunaan akun yang mengatasnamakan
Jenderal TNI Gatot Nurmantyo berkembang cukup banyak. Di facebook saja
misalnya, ada 70 akun lebih atas nama Gotot Nurmantyo yang semuanya sangat
merugikan institusi dan pribadi Jenderal TNI Gatot Nurmantyo, belum di
instragram, twitter dan platfrom media lainnya.
Akun – akun yang tersebar yang mengatas namakan
pejabat TNI dipantau oleh dinas penerangan TNI dan bekerja sama dengan
Kominfo untuk melakukan pengawasan dan pencegahan terhadap akun yang tidak bertanggung
jawab, bahkan Puspen sendiri tidak segan-segan langsung memberikan cap
HOAX karena merugikan insitusi TNI terutama Panglima TNI yang dijadikan gambar
tampilan diakun tersebut. Tidak mau insitusinya dijadikan berita Hoax Puspen
sendiri sudah puluhan meng setempel Hoax diakun yang memuat Panglima TNI
dan pejabat TNI lainya.
Mari sama-sama menjadi
orang yang tidak mudah tertipu oleh sebuah berita. Mari kita semua bersikap
kritis dan skeptis terhadap seluruh informasi yang diterima, sekalipun informasi
itu berasal dari sumber yang paling kredibel. Sikap kritis dan skeptis akan
membawa kita untuk selalu ingin tahu. Sifat selalu ingin tahu akan
membangkitkan semangat belajar sehingga pengetahuan juga semakin bertambah.
Namun jangan begitu saja percaya pada sebuah artikel dan pemberitaan yang ada
di dunia maya. Semoga tulisan ini bermanfaat dan menjadi barokah untuk NKRI dan
seluruh bangsa Indonesia, amin.
TNI Sebagai perekat Bangsa Untuk Melawan Hoax
Negara-negara kuat di dunia seringkali dapat dengan
mudah mencampuri urusan dalam negeri suatu negara. Mereka telah tampil
sebagai kekuatan politik utama di dunia, karena negara itulah yang paling kuat
ekonomi dan sistem persenjataannya. Setiap saat negara-negara di dunia dapat
mengalami instabilitas akibat intervensi negara dan bangsa lain terhadap urusan
dalam negeri suatu negara.
Mulai tahun 2010 dan 2011 kita menyaksikan berbagai
gejolak politik di berbagai negara dan kawasan. Negara-negara di kawasan timur
tengah secara signifikan menampakkan gejolak politik yang menuntut perubahan
kepemimpinan dan sistem pemerintahan negara. Negara-negara yang di kawasan
timur tengah yang mengalami gejolak politik menuntut perubahan kepemimpinan dan
sistem pemerintahan yang demokratis, antara lain Tunisia, Suriah, Mesir, Yaman,
Libya, dan lain-lain.
Indonesia harus berkaca pada negara yang Timur Tenggah
dan kita harus bersiap tidak menutup kemungkinan akan terjadi kepada negara
kita, oleh sebab itu kita memiliki kekuatan harus kita gali dan diaplikasikan
sesuai dengan pembukaan UUD 1945, pertahanan negara merupakan usaha untuk
mewujudkan satu kesatuan pertahanan negara guna mencapai tujuan nasional, yaitu
untuk melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan
kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut serta melaksanakan
ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan
sosial. Dari pernyataan tersebut dapat dimaknai bahwa upaya perlindungan
terhadap masyarakat, bangsa dan negara adalah sebuah keniscayaan dan keharusan
bagi setiap komponen bangsa Indonesia dalam rangka mempertahankan Negara
Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang terus eksis di kancah percaturan
global.
Oleh karena itu, merupakan hal yang wajar apabila
Bangsa Indonesia menyiapkan benteng terakhir bangsa jika dihadapkan pada
kondisi lingkungan internal bangsa yang sangat rentan untuk disusupi oleh
kekuatan asing. Implementasi Peran TNI dalam membantu pemerintah dalam
melaksanakan pembangunan kehidupan berbangsa dan bernegara, dilakukan melalui
kegiatan Pembinaan Teritorial dengan metode yaitu Bakti TNI yang
merupakan pendayagunaan kemampuan TNI terhadap obyek yang bersifat fisik,
dan Pembinaan Ketahanan Wilayah (Bintahwil) dalam rangka membangun
kesadaran berbangsa dan bernegara, serta Komunikasi Sosial (Komsos) dalam
obyek membina kesadaran mental spiritual sebagai wujud pembinaan kehidupan
berbangsa dan bernegara.
Pembinaan Teritorial tersebut adalah semata-mata untuk
kepentingan membangun kepekaan komponen bangsa dalam mewujudkan Ketahanan
Nasional, baik untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat dan terjaminnya
penyiapan pertahanan dan keamanan negara, sehingga kita perlu mengoptimalkan
peran bersama untuk mencegah segala kemungkinan terjadi ditenggah-tenggah
masyaraka yang kini yang sedang viral dengan penyebarab berita bohong (Hoax)
melalui media sosial dengan menyebarkan kebencian sesama anak bangsa.
Menurut pendapat penulis, TNI mampu sebagai perekat
Bangsa dengan kegiatan Bakti TNI untuk menghadapi kondisi sekarang
seperti berita bohong melalui media sosial yang menyebarkan kebencian, terutama
program komunikasi sosial yang sudah dilaksanakan oleh TNI dari mulai Babinsa
sampai dengan Panglima TNI melakukan komunikasi sosial kepada semua komponen
masyarakat, karena kalau kami liat kegiatan komunikasi sosial itu terjalin
komunikasi timbal balik antara Babinsa maupun masyarakat, sehingga komunikasi
yang digagas oleh TNI sudah tepat, karena materi komunikasi tidak baku dan
menyesuaikan dengan keadaan sosial di masyarakat, termasuk audiennyapun beragam
mulai dari anak SD hingga mahasiswa, dari tokoh agama, pemuda hingga para
petani, ini menurut penulis adalah luar biasa dan ini mampu untuk memerangi
berita bohong (Hoax).
Komunikasi
sosial yang dilakukan TNI bagai mana tida efektif, dari unsur teritorial hingga
unsur tempur baik itu TNI AD, TNI AL dan TNI AU melakukan komuniksi sosial
sesuai dengan tugas dan dimana TNI itu berada, sekalipun di pulau terdepan NKRI
melakukan komunikasi sosial. Inilah salah satu perekat yang dilakukan TNI
terhadap masyarakat untuk membentuk jati diri yang kuat dan kokoh terhadap
badai apapun yang menepah ditenggah-tenggah masyarakat, seperti berita bohong (Hoax).***(SP/LKBK65).
***) Penulis adalah Kasubbidstrakomnet Puspen TNI
Gambar: Documen Puspen TNI untuk LKBK65
_______
“MENGUTIP SEBAGIAN ATAU
SELURUH ISI PORTAL INI HARUS SEIZIN REDAKSI. HAK CIPTA DILINDUNGI
UNDANG-UNDANG”
_____

Post a Comment