SELAMAT DATANG DI PORTAL LEMBAGA KANTOR BERITA KALIMANTAN (LKBK) - UNTUK INDONESIA KAMI ADA
Home » , , , , » Ketapang Tempo Doeloe “Ada Sekolah Chung Hua Cing Hui”

Ketapang Tempo Doeloe “Ada Sekolah Chung Hua Cing Hui”

Written By lkbk on Monday, July 31, 2017 | 10:22 AM

KETAPANG - Konon di Kalangan etnis Tionghoa di Ketapang sudah begitu maju pada tempo doeloe. Karena itu  di Jalan Merdeka Ketapang, (sekarang eks Pasar Melati-red),pernah ada sekolah Tionghoa yang bernama Chung Hwa Ching Hui.

“Seingat saya pada tahun 1968 ketika saya masih kelas IV SD, saya pernah berkunjung ke Sokolah ini. Tapi sudah bubar, yang ada hanya SD V, tetapi masih ada tulisan cukup besar Chung Hwa Ching Hui.”kata Yudo Sudarto, M.Si,mantan Kadis Budparpora Ketapang,kepada media ini Minggu (30/07/201) kemarin di rumahnya.

Menurutnya beberapa ada beberapa literature menjelaskan bahwa  yang benar mungkin Chung Hwa Hui.  Yaitu sebuah perkumpulan  pendidikan zaman Hindia Belanda.  Setelah bubar, sekolah Tionghoa ini juga dimanfaatkan untuk SDN V, dan sekolah Guru yang bernama KPG atau sejenis guru bantu yang kalau praktek para calon gurunya di sekolah SDN III jalan Sudiono.

“Gurunya ada orang Belanda yang kalau ngajar sopan sekali dan lues”, papar mantan birokrat ini.

Selanjutnya kata Yudo,di tempat itu juga merupakan studio Radio Daerah Ketapang (RDK,sekarang RKK-Red) pertama kali berdiri. “Beberapa tehnisi yang saya ingat, ada Pak Akok Yasa Nageri, Residen B. Opereter termasuk penyiar, (Alm) Kamarudin Bakri dan masih banyak lagi”,kenangnya.

Konon sekolah ini tak hanya ada di Ketapang di Kota kota di Jawa juga memiliki sekolah Chung Hwa Hui ini. Pada masa penjajahan Belanda Chung Hwa Hui adalah bentuk Nasionalisme etnis Tionghoa yang berorientasi pada Hindia Belanda.

“Namanya berasal dari organisasi politik Chung Hwa Hui (CHH) yang didirikan pada tahun 1928. Gerakan ini mendapatkan dukungan dari kalangan intelektual peranakan. Kelompok ini menganjurkan menerima kekawulaan Belanda dan aktif berpartisipasi dalam lembaga-lembaga politik lokal termasuk dalam Volksraad (Dewan Rakyat). Dan ternayata cukup berkembang layaknya taman Siswa, karena itu tak hanya di Ketapang”,kata Yudo.

Tetapi lanjut Yudo,beberapa daerah di Jawa juga terdapat sekolah sejenis. Dengan pendidikan khusus ini warga Tionghoa berharap sejajar dengan warga Belanda dan warga Pribumi.

“Runtuhnya sekolah ini diperkirakan pada tahun 1967 dimana pemerintah melarang sekolah yang berbau etnis dan berharap bergabung dengan sekolah nasional lain”,terang Yudo Sudarto.

Seperti diketahui bahwa sekelompok orang asal Cina yang anak-anaknya lahir di Hindia Belanda, merasa perlu mempelajari kebudayaan dan bahasanya. Pada tahun 1900, mereka mendirikan sekolah di Hindia Belanda, di bawah naungan suatu badan yang dinamakan “Tjung Hwa Hwei Kwan“, yang bila lafalnya di Indonesia kan menjadi Tiong Hoa Hwe Kwan (THHK).

THHK dalam perjalanannya bukan saja memberikan pendidikan bahasa dan kebudayaan Cina, tapi juga menumbuhkan rasa persatuan orang-orang Tionghoa di Hindia Belanda, seiring dengan perubahan istilah “Cina” menjadi “Tionghoa” di Hindia Belanda.***(Halim Anwar/LKBK65).

Gambar: Salah satu sudut Klenteng tempat orang orang Tionghoa melakukan ibadah. ***(Ist).
_______

“MENGUTIP SEBAGIAN ATAU SELURUH ISI PORTAL INI HARUS SEIZIN REDAKSI. HAK CIPTA DILINDUNGI UNDANG-UNDANG”
______
Share this post :

Post a Comment