KETAPANG - Konon di Kalangan etnis Tionghoa di Ketapang
sudah begitu maju pada tempo doeloe. Karena itu
di Jalan Merdeka Ketapang, (sekarang eks Pasar Melati-red),pernah ada
sekolah Tionghoa yang bernama Chung Hwa Ching Hui.
“Seingat saya pada tahun 1968 ketika saya
masih kelas IV SD, saya pernah berkunjung ke Sokolah ini. Tapi sudah bubar,
yang ada hanya SD V, tetapi masih ada tulisan cukup besar Chung Hwa Ching Hui.”kata
Yudo Sudarto, M.Si,mantan Kadis Budparpora Ketapang,kepada media ini Minggu
(30/07/201) kemarin di rumahnya.
Menurutnya beberapa ada beberapa literature
menjelaskan bahwa yang benar mungkin
Chung Hwa Hui. Yaitu sebuah
perkumpulan pendidikan zaman Hindia
Belanda. Setelah bubar, sekolah Tionghoa
ini juga dimanfaatkan untuk SDN V, dan sekolah Guru yang bernama KPG atau
sejenis guru bantu yang kalau praktek para calon gurunya di sekolah SDN III
jalan Sudiono.
“Gurunya ada orang Belanda yang kalau ngajar
sopan sekali dan lues”, papar mantan birokrat ini.
Selanjutnya kata Yudo,di tempat itu juga
merupakan studio Radio Daerah Ketapang (RDK,sekarang RKK-Red) pertama kali berdiri.
“Beberapa tehnisi yang saya ingat, ada Pak Akok Yasa Nageri, Residen B.
Opereter termasuk penyiar, (Alm) Kamarudin Bakri dan masih banyak lagi”,kenangnya.
Konon sekolah ini tak hanya ada di Ketapang di
Kota kota di Jawa juga memiliki sekolah Chung Hwa Hui ini. Pada masa penjajahan
Belanda Chung Hwa Hui adalah bentuk Nasionalisme etnis Tionghoa yang
berorientasi pada Hindia Belanda.
“Namanya berasal dari organisasi politik Chung
Hwa Hui (CHH) yang didirikan pada tahun 1928. Gerakan ini mendapatkan dukungan
dari kalangan intelektual peranakan. Kelompok ini menganjurkan menerima
kekawulaan Belanda dan aktif berpartisipasi dalam lembaga-lembaga politik lokal
termasuk dalam Volksraad (Dewan Rakyat). Dan ternayata cukup berkembang
layaknya taman Siswa, karena itu tak hanya di Ketapang”,kata Yudo.
Tetapi lanjut Yudo,beberapa daerah di Jawa
juga terdapat sekolah sejenis. Dengan pendidikan khusus ini warga Tionghoa
berharap sejajar dengan warga Belanda dan warga Pribumi.
“Runtuhnya sekolah ini diperkirakan pada tahun
1967 dimana pemerintah melarang sekolah yang berbau etnis dan berharap bergabung
dengan sekolah nasional lain”,terang Yudo Sudarto.
Seperti diketahui bahwa sekelompok orang asal
Cina yang anak-anaknya lahir di Hindia Belanda, merasa perlu mempelajari
kebudayaan dan bahasanya. Pada tahun 1900, mereka mendirikan sekolah di Hindia Belanda, di
bawah naungan suatu badan yang dinamakan “Tjung Hwa Hwei Kwan“,
yang bila lafalnya di Indonesia kan menjadi Tiong Hoa Hwe Kwan (THHK).
THHK dalam perjalanannya bukan saja memberikan
pendidikan bahasa dan kebudayaan Cina, tapi juga menumbuhkan rasa persatuan
orang-orang Tionghoa di Hindia Belanda, seiring dengan perubahan istilah “Cina”
menjadi “Tionghoa” di Hindia Belanda.***(Halim Anwar/LKBK65).
Gambar: Salah satu sudut Klenteng tempat orang orang Tionghoa melakukan
ibadah. ***(Ist).
_______
“MENGUTIP SEBAGIAN ATAU
SELURUH ISI PORTAL INI HARUS SEIZIN REDAKSI. HAK CIPTA DILINDUNGI
UNDANG-UNDANG”
______

Post a Comment