JAKARTA - Kementerian Perdagangan
(Kemendag) kembali membuka pintu impor gula rafinasi. Kebijakan ini telah
menimbulkan keresahan para petani tebu. Pasalnya, gula rafinasi yang merembes
ke pasar tradisional saja belum semuanya terserap. Tentu ini sangat mengancam
produksi gula tebu para petani di Tanah Air.
Anggota Komisi VI DPR RI Ferrari Roemawi (F-PD) yang
dihubungi lewat telepon, Selasa (5/8), berpendapat, sepanjang kuota impor gula
rafinasi tersebut tidak merembes ke pasar tradisional, kebijakan impor itu
tidak masalah. Selama ini yang jadi masalah, para importir gula rafinasi yang
sesungguhnya ditujukan untuk konsumsi industri, malah menyelewengkan kuota
impornya ke pasar tradisional.
Rembesan gula rafinasi beberapa waktu lalu saja belum
terserap habis di pasar tradisional. “Kebijakan ini perlu kita evaluasi. Kalau
memang tepat ditujukan untuk industri, tidak ada masalah. Persoalannya ini
rembes ke pasar tradisional. Nah, rembesan ini yang kita evaluasi,” terang
Ferrari.
Pemerintah dihimbau Ferrari agar menindak tegas para
importir nakal yang merusak harga gula konsumsi dengan gula industri. “Yang
penting sekarang, pemerintah kendalikan peredaran gula rafinasi. Semuanya harus
sesuai kuotanya dan jangan mengacaukan gula konsumsi.” Untuk itu, perlu ada
operasi pasar yang rutin dilakukan, baik di pasar tradisional maupun pasar
modern.
Masalah ini, sambung Ferrari, sudah menjadi masalah
klasik di Tanah Air. Selanjutnya, kasus rembesan gula rafinasi ke pasar
konsumsi atau tradisional jangan pernah terulang lagi. Harus ada sokterapi yang
diberikan kepada para importir yang sengaja menyalahi izin impornya.***(mh/foto:iwan
armanias/parle/iw).
Post a Comment