Oleh : Dr.H.Susilo Bambang Yudhoyono
Ada situasi yang agak membahayakan, dan saya harus bertindak cepat. Sebab,
kalau tidak akan menjadi "ketegangan" (tension) komunal.
Kemudian bisa mengarah ke aksi-aksi kekerasan.
Pada hari Jumat, 24 Mei 2013, saya mendapat informasi bahwa sejumlah pemimpin
umat Islam berkumpul di Jakarta untuk menyikapi pernyataan atau surat terbuka
Pak Franz Magnis-Suseno yang intinya menggambarkan bahwa di Indonesia tidak ada
toleransi dalam kehidupan beragama dan tidak ada perlindungan terhadap kaum
minoritas. Meskipun tidak secara eksplisit, bisa ditafsirkan bahwa seolah umat
Islam bisa berbuat apa saja. Meskipun sebenarnya surat terbuka itu sebagai
bentuk protes dan ketidaksetujuan Pak Franz atas rencana pemberian sebuah
penghargaan internasional kepada saya, tetap saja membuat sejumlah pemuka Islam
tidak nyaman.
Sebagaimana diketahui oleh publik, sebuah lembaga internasional yang bernama
The Appeal of Conscience Foundation (ACF) yang bermarkas di New York telah
memutuskan untuk memberikan gelar World Statesman Award kepada saya.
Keputusan itu sendiri sebenarnya sudah diambil dan diumumkan pada tahun 2012
lalu, di sela-sela Sidang Umum Perserikatan Bangsa Bangsa di New York. Sejumlah
kepala negara dan tokoh dunia telah terlebih dahulu menerima penghargaan ni. Di
antaranya adalah Lee Myung-bak, Angela Merkel, Gordon Brown, Abdullah Gul, dan
Manmohan Singh.
Kembali kepada ketidaknyamanan dan bahkan kemarahan para pemuka Islam tadi,
rencananya mereka akan bertemu saya dan akan menyampaikan pernyataan terbuka
untuk merespons pernyataan Pak Franz Magnis-Suseno tersebut. Terhadap hal ini
saya justru harus bertindak cepat dan tepat, jangan sampai akhirnya memicu
konflik antar-agama yang justru tidak kita kehendaki.
Alhamdulillah, dalam percakapan saya dengan Menteri Agama Suryadharma Ali, hal
itu dapat kita cegah. Saya juga bersyukur, karena tampaknya para pemimpin umat
Islam itu juga memiliki pengertian yang mendalam untuk tidak memanaskan
situasi. Beliau semua bisa bersabar dan tidak ingin terprovokasi oleh siapa
pun.
Surat terbuka Pak Franz Magnis-Suseno yang dimuat oleh harian Kompas itu
memang segera mendapatkan dukungan dari sejumlah kalangan. Dukungan itu berasal
dari sejumlah aktivis hak asasi manusia, LSM, politisi, dan juga pengamat.
Suara mereka muncul baik di media konvensional maupun di media sosial.
Seperti yang sering terjadi di negeri kita, pembicaraan di ruang publik yang
dipicu oleh surat terbuka Pastor Magnis-Suseno itu akhirnya melebar ke
mana-mana. Kritik dan kecaman yang disampaikan kepada negara dan saya pribadi
banyak yang berlebihan dan juga tidak relevan. Alias tidak obyektif dan tidak
faktual. Banyak yang terlalu emosional. Masuk pula unsur politik di sana-sini.
Oleh karena itu, beberapa saat kemudian, tidak sedikit pula yang membela saya.
Mereka justru tidak bersimpati kepada Pak Franz Magnis-Suseno.
Menghadapi hal ini sebenarnya saya relatif tenang. Pertama, dalam era
demokrasi dan kebebasan dewasa ini setiap orang bisa berbicara. Bisa
menyampaikan apa saja. Kedua, penghargaan yang akan diberikan kepada
saya itu pun tidak pernah saya cari. Saya juga tidak mengenal lembaga yang akan
memberikan award itu. Artinya, tidak ada pesanan dari saya. Saya justru
khawatir jika ada tuduhan rekayasa atas pemberian penghargaan itu ACF akan
marah dan amat tersinggung. Apalagi, saya mendengar bahwa lembaga internasional
itu memiliki kredibilitas dan reputasi yang tinggi.
Reaksi saya yang pertama adalah meminta para pembantu saya untuk mencari tahu
apa sebenarnya pertimbangan ACF memberikan penghargaan World Statesman Award
itu kepada saya. Saya minta Menteri Luar Negeri dan juga Dubes Indonesia untuk
Amerika Serikat bisa berkomunikasi dengan lembaga itu. Setelah dihubungi,
ternyaya menurut pimpinan ACF Arthur Schneier, kriterianya cukup luas. Kriteria
itu antara lain adalah kebebasan, demokrasi, dan kemanusiaan. Jadi bukan soal
kemerdekaan beragama dan toleransi semata. Jauh lebih luas dari itu. Tadinya,
kalau penilaiannya didasarkan hanya soal toleransi antar-umat beragama
barangkali respons saya akan berbeda. Belum tentu saya bersedia menerima
penghargaan itu.
Pihak ACF memang mengatakan ada protes dari sejumlah kalangan di Indonesia.
Yang "menarik" protes itu seperti digerakkan. Mendengar hal seperti
ini saya tidak heran. Sama dengan unjuk rasa yang terjadi selama ini di negeri
kita. Ada yang spontan, ada yang digerakkan. Ada yang memang ingin menyampaikan
protes dan tuntutannya, ada juga yang sifatnya bayaran. Lagi-lagi harus saya
katakan "jangan ada dusta di antara kita".
Pada malam saya menerima World Statesman Award itu, dalam pidato saya,
saya sampaikan pula tantangan yang dihadapi Indonesia. Meskipun lembaga itu,
dan sejumlah pihak memuji capaian Indonesia yang dianggap luar biasa sejak
reformasi digulirkan tahun 1998, saya tetap dengan rendah hati menyampaikan
masih banyak tugas dan tantangan yang saya hadapi sebagai pemimpin Indonesia.
Antara lain, saya menyampaikan hal-hal ini:
"We are still facing a number of problems on the ground. Pockets of
intolerance persist. Communal conflicts occasionally flare up. Religious
sensitivities sometimes give rise to disputes, with groups taking matters into
their own hands. Radicalism still exists on the fringe. This, I believe, is a
problem that is not exclusive to Indonesia alone, and may in fact be a global
phenomenon", demikian ucap saya jujur. Juga obyektif dan terbuka.
Kemudian saya tambahkan:
"To be sure, we have more work to do. We shall continue to advance
Indonesia's transformation, while tackling these problems."
Sebenarnya, setiap kali saya menerima penghargaan dari pihak internasional
selalu saya tanyakan apa yang melatarbelakangi pemberian penghargaan itu.
Misalnya, yang belum lama terjadi, ketika saya menerima penghargaan Doktor Honoris
Causa dari Universiti Utara Malaysia dan juga dari Nanyang Technology
University of Singapore.
Saya mendapat penjelasan bahwa alasan Universiti Utara Malaysia memberikan
penghargaan kepada saya adalah sebagai apresiasi atas kepemimpinan saya di
dalam mendorong perdamaian. Saya juga dinilai berjasa dalam mempererat hubungan
kedua negara tidak hanya di bidang politik, tetapi juga di bidang sosial,
budaya, dan pendidikan. Penilaian itu juga karena keberhasilan Indonesia dalam
ikut mendorong kemakmuran Asia Tenggara.
Sementara alasan Nanyang Technology University, Singapura, dalam memberikan
Doktor Honoris Causa kepada saya adalah penilaian yang positif atas sejumlah
capaian Indonesia di bawah kepemimpinan saya. Prestasi yang dinilai menonjol
adalah capaian Indonesia dalam political stability, economic development and
democratic change ~ stabilitas politik, pembangunan ekonomi, dan
perkembangan demokrasi. Presiden NTU Profesor Bertil Andersson mengatakan bahwa
penghargaan itu dilatarbelakangi oleh pengakuan terhadap apa yang kita capai.
"President Yudhoyono's outstanding leadership and public service in
diverse areas ~ as an advocate for peace, democracy, moderate Islam and human
rights; his instrumental role as a champion for the marine environment and sustainable
forestry conservation; as well as his firm commitment to modernisation and
transformation of Indonesia."
Juga ditambahkan oleh Profesor Andersson:
"As an international statesman, President Yudhoyono has raised
Indonesia's visibility through his leadership of and involvement in a range of
international events, including ASEAN, APEC and the East Asia Summit and G-20
meetings. President Yudhoyono also played an important leadership role in
getting the ASEAN Charter passed."
Kembali ke topik "gaduh sekitar pemberian World Statesman Award"
tadi, reaksi lain yang saya lakukan adalah untuk menjelaskan ke publik bahwa
tidak semua yang disampaikan oleh Franz Magnis-Suseno melalui surat terbukanya
itu benar. Misalnya bila dikatakan saya tidak peduli dan tidak mengayomi
minoritas. Juga tidak berbuat apa pun untuk memperkuat toleransi dan harmoni
antar-umat beragama. Semua itu jelas tidak benar. Agar rakyat Indonesia
mendapatkan kebenaran yang sejati, saya minta para Staf Khusus Presiden untuk
menjelaskan hal ini kepada publik. Bagi saya, kalau soal kebenaran tidak boleh
ditawar-tawar.
Sebagai contoh, kepada publik perlu terus diingatkan bahwa tidak henti-hentinya
saya menyerukan kerukunan antar dan bahkan intra umat beragama. Juga toleransi
yang harus dijunjung tinggi. Juga hubungan yang baik antara mayoritas dan
minoritas. Juga tercegahnya konflik dan benturan horizontal karena perbedaan
agama. Sehingga menggambarkan saya seperti tidak peduli dan tidak punya atensi
terhadap hal-hal ini tentu sesuatu yang sangat berlebihan. Juga keliru.
Saya kira sebagian rakyat Indonesia juga tahu, jauh sebelum menjadi presiden,
saya bekerja amat keras untuk mengatasi konflik komunal berdarah dengan korban
yang amat besar yang teradi antara tahun 1999-2003 dulu. Yaitu, konflik komunal
yang terjadi di Poso, Ambon, dan Maluku Utara, serta juga di Sampit, Kalimantan
Tengah. Saya bersumpah dan bekerja amat serius untuk mengatasi konflik berdarah
itu. Saya, dan saya kira kita semua, ingin agar masyarakat di daerah-daerah itu
yang kebetulan berbeda agama bisa segera rukun kembali.
Ketika pada tahun 2013 ketegangan dan konflik komunal antara komunitas Sunni
dan Syiah di Sampang, Madura, secara proporsional saya juga melibatkan diri.
Tujuan saya, agar dapat dicari solusi yang damai, adil dan insya Allah
permanen. Untuk itu dalam rangkaian Safari Ramadhan saya ke Jawa Timur, saya
sempatkan bertemu dengan para ulama Madura bertempat di Surabaya. Sebelumnya,
di Jakarta saya juga menerima sejumlah tokoh dari komunitas yang lain. Satu hal
yang saya syukuri, tampaknya para ulama tersebut juga ingin menempuh cara
penyelesaian yang bermartabat. Meskipun penyelesian konflik intra-agama ini
memerlukan waktu, tetapi satu hal mereka sepakat untuk menghindari kekerasan.
Namun, apakah dengan demikian kerukunan, toleransi, dan kebebasan dalam
menjalankan agama ini tidak ada lagi masalah di Indonesia, jawaban saya adalah
"di sana sini masih ada masalah". Dengan jujur hal itu harus saya
akui. Tetapi, menggambarkan seolah negeri ini begitu buruknya dari segi
toleransi dan kerukunan antar-agama, terus terang saya berkeberatan. Sama
berkeberatannya para tokoh Islam yang berniat bertemu saya, sebagaimana yang
telah saya sampaikan tadi.
Sebenarnya saya juga menaruh hormat kepada Pastor Franz Magnis-Suseno. Bahkan,
dalam sejumlah acara yang saya selenggarakan beliau juga saya undang. Saya
menghormati semua pemimpin agama. Saya ingin dekat dan adil dengan semua.
Tetapi, apa yang disampaikan Pak Magnis kepada masyarakat Indonesia dan dunia
tersebut terasa berlebihan. Jika tujuan Pak Magnis adalah untuk mengingatkan
saya dan kita semua tentang masih adanya masalah yang berkaitan dengan
toleransi dan kebebasan beragama di Indonesia, saya anggap itu hal yang baik.
Saya mengucapkan terima kasih. Sungguhpun demikian, menurut pendapat saya,
sebagai pemimpin agama sebaiknya beliau lebih bijak dan lebih proporsional di
dalam menceritakan urusan bangsa dan negaranya ke masyarakat dunia. Semestinya
Pak Magnis tahu ~ jika terus mengikuti apa yang saya lakukan ~ sikap dan pandangan
saya tentang pluralisme dan pentingnya toleransi, termasuk apa saja yang saya
lakukan selama ini.
Sebagaimana yang saya sampaikan sebelumnya, akhirnya penghargaan itu saya
terima di New York tanggal 31 Mei 2013, di sela-sela kegiatan saya di Perserikatan
Bangsa-Bangsa untuk menuntaskan tugas saya sebagai Ketua Bersama Panel Tingkat
Tinggi untuk mempersiapkan Agenda Pembangunan Pasca 2015.
Yang membuat saya bersyukur, ketika di dalam negeri sendiri ada elemen yang
kelewat keras menentang pemberian penghargaan tersebut, tidak sedikit dukungan
dan ucapan selamat yang saya terima. Juga baik dari dalam negeri maupun dari
luar negeri. Sejumlah penerima penghargaan Nobel Perdamaian dan tokoh dunia
yang lain juga secara khusus menyampaikan ucapan selamat secara tertulis.
Mereka adalah Barack Obama, Ellen Johnson Sirleaf, Aung San Suu Kyi, Ramos
Horta, David Cameron, Lee Myung-bak, Ekmeleddin Ihsanoglu, dan Jens
Stoltenberg.
Mengakhiri cerita ini saya harus mengatakan bahwa hal begini bukan yang pertama
kalinya saya alami. Setiap saya mendapatkan penghargaan dari masyarakat
internasional selalu ada yang menentangnya. Tetapi, saya tetap hormati sikap
dan pandangannya itu. Indonesia adalah land of the free people. Cuma
kadang alasannya membuat sedih dan saya juga malu, misalnya itu semua pesanan
dan rekayasa SBY. Siapa yang bisa merekayasa dunia?
Saya jadi ingat seloroh teman-teman saya yang berbunyi SMS ~ senang melihat
orang lain susah, susah melihat orang lain senang. Semoga bangsa kita segera
dibebaskan dari penyakit ini.***
Dikutip dari: Susilo Bambang Yudhoyono, 2014, Selalu Ada Pilihan, Jakarta:
Penerbit Buku Kompas, halaman 271 - 276.

Post a Comment