Oleh : Dr.H.Susilo Bambang Yudhoyono
Kita sering mendengar istilah "tebang pilih". Kata-kata ini kerap
digunakan oleh pihak-pihak yang mengkritisi para penegak hukum bahwa hukum
tidak berlaku bagi semua. Tidak adil. Bahkan saya sebagai Presiden juga ikut
didamprat seolah-olah dalam pemberantasan korupsi, isu yang paling menarik,
saya pun dianggap melakukan tindakan tebang pilih. Meskipun sudah berulang kali
saya katakan bahwa presiden tidak mencampuri urusan penegakan hukum, dalam arti
tidak melakukan intervensi, tetapi tunduhan itu tetap ada. Pikir sebagian
kalangan, presiden bisa memerintahkan penegak hukum untuk menangkap dan menahan
seseorang. Juga seolah bisa meminta seseorang untuk dibebaskan dan harus
dinyatakan tidak bersalah dalam proses penegakan hukum.
Terhadap isu ini saya ingin berbagi pikiran dengan Anda semua. Pernyataan saya
adalah siapa yang sebenarnya suka melakukan tebang pilih? Mungkin tidak banyak
yang menyadari bahwa jawabannya adalah sebagian pers dan media massa.
Mengapa pers dan media massa?
Ya, karena media massa bisa menentukan topik dan arah pembicaraan. Bisa
menetapkan yang disebut agenda setting. Meskipun ada moto yang indah
bahwa pemberitaan pers haruslah fair and balance, tetapi dalam praktik
tetap saja ada keberpihakan media. Terlebih jika pemilik dan pemimpin redaksi
media yang bersangkutan memilik kepentingan politik, termasuk politik
kekuasaan.
Suatu hari di tahun 2012 saya bertemu dengan salah seorang pemimpin redaksi.
Saya mengenal dan bersahabat dengan tokoh itu sewaktu saya sedang aktif
melakukan reformasi internal TNI dan juga reformasi nasional di tahun 1998 yang
lalu. Dia termasuk wartawan senior yang rasional dan jernih dalam berpikir.
Tetap kritis, tapi tidak "genit". Saat ini yang bersangkutan masih
menjadi pemimpin redaksi di media televisi, oleh karena itu untuk sementara
belum tepat saya sampaikan siapa dia.
"Pak SBY, menurut saya ada yang tidak fair," ucapnya.
"Apa yang tidak fair? Tentang apa?" tanya saya.
"Anda dikerjain oleh pers. Pemberitaan kurang berimbang. Yang baik-baik
dari Pak SBY hampir tidak diangkat, tetapi yang dipandang tidak baik
dieksploitasi habis-habisan."
"Itu kan biasa. Pers kan memang begitu. Di luar negeri, di negara
demokrasi yang lain juga begitu," lanjut saya.
"Ya. Tetapi di sini keterlaluan. Sepertinya tidak ada baiknya yang Pak SBY
lakukan. Anda sangat dirugikan. Hak Anda dirampas," lanjut yang
bersangkutan.
Saya mengangguk. Saya pandangi sahabat saya itu. Amat langka ada insan pers
yang punya pandangan seperti itu. Biasanya kalau ada yang mengkritik pers
responsnya langsung tidak menyenangkan. Defensif.
Diam-diam saya juga merasakan. Apa yang saya ucapkan sering dipenggal dari
konteksnya, kemudian disorot secara negatif. Untuk membenarkan apa yang
diangkat oleh media itu, segera diundang sejumlah pengamat dan pembicara yang
nadanya sama. Tentu stoknya amat banyak. Menyalahkan dan menyudutkan saya.
Istiah teman-teman saya, televisi yang bersangkutan amat cerdas dan kreatif untuk
membuat serangan terhadap saya itu menjadi tayangan yang menarik. Berhari-hari.
Bercabang-cabang.
Saya pernah merasa menghadapi sesuatu yang kurang adil. Waktu itu sedang musim
gerakan cabut mandat. Intinya saya diminta mundur. Seperti biasanya, alasannya
tidak jelas. Saya mengikuti pemberitaan pers yang lebih dari 60 persen
mengangkat pandangan yang segaris dengan gerakan cabut mandat itu. Dari pihak
saya, dan juga teman-teman yang sehaluan dengan saya, sedikit sekali diberi
ruang oleh media. Di tengah suasana seperti itu saya berbicara dengan beberapa
staf khusus saya bagaimana menghadapi ulah pemberitaan pers seperti ini. Saya
masih ingat kata-kata mereka.
"Pak Presiden sebaiknya Bapak masuk ke media sosial. aktif di sana. Bapak
bisa berbicara langsung dengan rakyat. Tidak disaring oleh media
konvensional," ucap salah satu staf khusus saya.
Yang lain memiliki pendapat yang sama.
Tetapi, entah apa pertimbangan saya dulu, usulan itu tidak segera saya lakukan.
Karena, saya pikir, saya juga telah memelihara komunikasi melalui SMS dengan
masyarakat. Saya juga kerap melakukan dialog di banyak tempat, dan diberbagai
kesempatan. Belakangan saya menyadari bahwa komunikasi yang saya lakukan selama
ini kurang cukup.
Pada awal Maret 2013, saya berbincang-bincang dengan Kustanto, Staf Pribadi
Presiden. Saya memintakan pandangannya apakah memang tepat dan sudah saatnya
saya masuk ke dunia media sosial. Misalnya, Twitter atau Facebook. Kemudian
saya minta secara jujur pendapatnya apakah jika saya masuk ke social media
tidak dianggap sebagai pencitraan.
"Saya berpendapat Bapak sudah saatnya masuk ke media sosial. Kan dulu Pak
SBY pernah berkata bahwa sering terjadi distorsi pemberitaan yang menyangkut
Presiden. Ketika Bapak ingin melakukan klarifikasi ternyata juga tidak mudah.
Tidak selalu tersedia ruang untuk itu," saran Kustanto.
Saya mengangguk.
"Maaf Bapak, kalau soal tudingan pencitraan akan selalu ada. Sampai kapan
pun suara-suara seperti itu akan tetap terdengar."
Saya kembali mengangguk. Kustanto benar. Kalau dibilang melakukan pencitraan,
saya sudah hampir selesai sebagai Presiden. Tidak akan running kembali.
Masih pada bulan yang sama ada lagi yang menguatkan hati saya bahwa memang
sepatutnya saya segera memasuki dunia media sosial. Ceritanya saya kedatangan
sejumlah kawan. Diantara mereka ada yang ahli komunikasi. Dan juga public
relations. Ada pandangan yang menurut saya patut saya simak. Dia
mengatakan:
"Pak SBY tahu tidak mengapa popularitas Bapak, dan juga elektabilitas
Partai Demokrat sempat anjlok selama hampir 2,5 tahun ini. Meskipun akhir 2012
dukungan terhadap Pak SBY kembali meningkat dan ada pada angka yang normal,
tetapi Demokrat masih menderita," tanya kawan saya itu.
Kawan saya itu pernah menjadi anggota DPR RI di periode yang lalu, sehingga
disamping ahli komunikasi dia juga mengerti politik.
"Ya, saya cukup mengerti. Pers dan media massa, terutama sejumlah
televisi, menghajar Partai Demokrat bertubi-tubi. Bahkan menurut sebuah lembaga
survei, yang mengakibatkan jatuhnya Demokrat memang dari televisi dan bukan
media cetak," jawab saya.
"Anda benar. Teori saya, Demokrat diserang oleh sejumlah monster. Tanpa
ampun. Kalau dibilang ada kader yang melakukan korupsi, kan bukan hanya
Demokrat. Saya pernah dengar statistik menunjukan bahwa sesungguhnya bukan
Demokrat yang paling tinggi kasus korupsinya. Baik di pusat maupun di
daerah," lanjutnya.
Saya mengangguk dan membenarkan ucapannya.
Dengan pertimbangan yang sangat matang akhirnya saya memutuskan untuk bergabung
ke dunia Twitter, dan nantinya jika sudah siap juga Facebook. Sespri Presiden
dengan stafnya saya tugasi untuk mempersiapkannya. Saya kasih waktu satu bulan
untuk mempersiapkan akun Twitter saya, dan saya ingin 2-3 bulan kemudian saya
bisa aktif di media Facebook.
Beberapa saat sebelum saya luncurkan akun Twitter saya, saya mengundang
sejumlah pengguna Twitter termasuk ahli media sosial untuk berdiskusi dan
berbincang-bincang dengan saya. Mereka dari kalangan yang amat beragam.
Disamping pakar media sosial, juga ada penggiat sosial, musisi, artis film,
mahasiswa, dan ahli pendidikan. Pertemuan santai itu berlangsung pada hari
Jumat malam, 12 April 2013, di Istana Cipanas.
Setelah mengetahui bahwa saya akam memasuki dunia Twitter, mereka menyambut
dengan antusias. Welcome, kata mereka. Cuma hampir semua mengingatkan
bahwa saya harus kuat dan siap mental untuk di bully. Artinya, diserang
dan dihajar. Kata mereka, bahasanya suka kasar dan keterlaluan. Terhadap
peringatan itu saya jawab secara singkat bahwa insya Allah saya siap.
Tepat tanggal 13 April 2013 saya luncurkan akun Twitter saya. Respons publik
luar biasa. Dalam waktu empat hari followers saya sudah mencapai 1 juta.
Bahkan oleh Socialbakers, pertumbuhan jumlah followers saya
adalah tertinggi di dunia. Rata-rata respons masyarakat positif. Tentu, tetap
ada yang menganggap yang saya lakukan tidak tepat, kontra-produktif dan bahkan
dianggap sebagai pencitraan belaka. Pesis seperti apa yang saya perkirakan.
Khusus terhadap tudingan pencitraan ini saya mendengar sahabat saya Imam Prasobjo,
yang juga sering kritis terhadap pemerintah dan juga saya, membantah bahwa yang
saya lakukan itu untuk pencitraan semata. Bung Imam mengatakan untuk apa SBY
melakukan pencitraan. SBY sudah akan selesai. SBY tidak maju lagi sebagai
presiden mendatang.
Tiga bulan kemudian, tepatnya tanggal 5 Juli 2013, bertempat di Istana Bogor
saya luncurkan fanpage Facebook saya. Seperti respons terhadap Twitter
saya, respons masyarakat juga baik. Hingga naskah buku ini saya persiapkan,
jumlah followers Twitter saya sudah mencapai lebih dari 4 juta.
Sedangkan untuk Facebook mencapai lebih dari 1,5 juta.
Ternyata apa yang saya lakukan sebagai salah satu world leaders bukanlah
sendiri. Sejumlah rekan saya sudah lebih dahulu memasuki dunia media sosial
ini. Bahkan ada yang sudah lebih dari lima tahun. Di antara mereka adalah
Presiden Amerika Serikat Barack Obama, Perdana Menteri Malaysia Najib Razak,
Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong,Presiden Filipina Beniqno Aquino,
Perdana Menteri Inggris David Cameron, Presiden Turki Abdullah Gul dan juga
Perdana Menteri Turki Recep Tayyip Erdogan.
Yang jelas, setelah saya aktif di media sosial, saya menjadi lebih lega. Saya
bisa bicara kepada rakyat kapan saja dan tentang apa saja. Tidak ada yang
menyortir. Tidak ada bias dan distorsinya. Sekali tweet misalnya
langsung menuju ke sekian juta alamat. Di sini saya bisa menjelaskan keputusan
dan tindakan yang baru saya ambil sebagai Presiden. Real time. Juga
kebijakan-kebijakan yang penting. Juga kegiatan saya di dalam menjalankan roda
pemerintahan. Juga pesan-pesan saya yang sifatnya inspirasional.
Satu hal lagi, di masa lalu pernyataan saya tidak selalu diinput oleh media
massa. Ada yang tidak tertarik dan ogah-ogahan. Kini, tidak sedikit pembicaraan
saya di Twitter yang dijadikan rujukan oleh media massa konvensional.
Memang ada pula komentar sejumlah wartawan yang menarik.
"Jadi Pak SBY lebih memilih masuk ke media sosial, ketimbang harus
berbicara dengan kami-kami?" demikian kurang lebihnya kata-kata mereka.
Para wartawan itu, apalagi wartawan yang bertugas di kantor presiden,
sebenarnya juga saya kenal. Hubungan saya dengan mereka baik. Mereka juga punya
hati nurani dan kejernihan berpikir. Tetapi, bukan menjadi rahasia umum lagi,
setiap media punya kebijakan dan politiknya sendiri-sendiri.
Oleh karena itu, untuk diketahui oleh insan pers dan rakyat Indonesia, saya
tidak pernah meninggalkan media konvensional. Setiap sidang kabinet saya selalu
memberi pengantar di hadapan pers, apa yang menjadi agenda dan tema sidang itu.
Biasanya juga saya sertai dengan pernyataan saya atas sejumlah isu aktual. Di
luar itu, sekali-sekali saya juga masih menjawab pernyataan wartawan baik
televisi, radio maupun media cetak. Setiap saya beserta delegasi mengemban
tugas ke luar negeri, juga selalu saya lakukan jumpa pers, bahkan sering lebih
dari satu kali. Artinya, saya berpandangan bahwa peran dari media konvensional
tetap penting.
Namun, di atas segalanya, dengan dunia baru yang saya masuki ini ~ media sosial
~ saya bersyukur, Allah telah menuntun saya untuk "thinking outside the
box". Alhamdulillah, hasilnya nyata.***
Dikutip dari: Susilo Bambang Yudhoyono, 2014, Selalu Ada Pilihan, Jakarta:
Penerbit Buku Kompas, halaman 242 - 247.

Post a Comment