ENTAH apa yang
menyebabkan dan dulu seperti apa sejarahnya, setiap pemimpin utamanya pemimpin
puncak, sering menjai obyek gosip. Juga bahan pergunjingan, kabar burung,
kecurigaan, dan bahkan fitnah. Oleh karena itu, sebagaimana yang saya dan
keluarga rasakan, pemimpin di samping harus sabar juga harus tegar menghadapi
semua itu.
Berbicara mengenai kecurigaan sebagian kalangan masyarakat terhadap saya, saya
bisa berbagi banyak cerita dengan Anda semua.
"Bu, apa benar ada bisnis Ibu di tambang batu bara?"
Tentu Ibu Ani dengan nada jengkel balik bertanya siapa yang menggosipkan itu.
Bisnis batu bara di mana? Ternyata, usut punya usut, adalah orang yang
kasak-kusuk di daerah untuk mendapatkan konsesi tambang batu bara dengan
mengatas namakan Cikeas. Berita, atau tepatnya gosip dan kecurigaan, seperti
itu selalu ada. Datang silih berganti.
Yang lumayan seru adalah gosip tentang bisnis saya di Pertamina. Tepatnya, saya
digosipkan ada bisnis di Pertamina yang kemudian katanya ada setoran ke Cikeas.
Berita ini merebak di awal tahun 2012. Cukup serius, karena juga ramai
dipergunjingkan di social media.
Seorang sahabat saya, purnawirawan Mayor Jendral TNI, menyampaikan kepada saya
dengan nada serius.
"Anda digosipkan lagi punya bisnis di Pertamina".
"Bisnis apa itu? Satu rupiah pun saya tidak berbisnis seperti
itu," respon saya.
"Benar. Bukan Anda yang berbisnis, tetapi katanya ada seseorang yang
menjalankan bisnis jual beli minyak. Kemudian mereka diminta setor ke
Cikeas."
"Jahat benar orang-orang itu. Kawan, seribu persen berita itu tidak
benar. Bukan hanya seratus persen. Saya ini keras pada urusan seperti itu. Termasuk
menjaga jangan sampai ada benturan kepentingan saya, atau yang disebut
conflict of interest," ucap saya.
Tampaknya, beberapa hari kemudian Mensesneg Sudi Silalahi dan Seskab Dipo Alam
juga menyampaikan hal yang sama. Mereka berdua juga sangat kesal.
"Saya kesal Pak. Saya telepon pejabat terkait. Kalau Presiden kita
difitnah dan dicemarkan seperti itu, dan Anda semua mengetahui bahwa berita itu
sangat tidak benar, jangan diam saja. Berikan penjelasan. Bantah berita yang
ngawur seperti itu. Sembilan tahun saya mendampingi Pak SBY selaku Presiden,
dan delapan tahun pula bersama-sama di TNI dan Polkam, hal-hal seperti itu jauh
dari kehidupan beliau," ujar Pak Sudi Silalahi.
Mendengar cerita yang menyakitkan itu, meskipun saya dan istri sebenarnya sudah
mulai kebal, tetap saja jengkel. Saya pikir manusiawi. Presiden juga manuusia
biasa. Saya malah menjadi tidak jujur kalau mengatakan tidak pernah kesal.
Tidak pernah marah. Tidak pernah sedih. Tidak pernah merasa terhina. Dalam raga
saya ada hati, dalam jiwa saya ada rasa.
Memang banyak orang yang kreatif sekarang ini. Sayang kreativitasnya tidak
membawa manfaat bagi bangsa, tetapi hanya membikin keonaran sosial. Juga
menambah dosa.
Beberapa tahun yang lalu, terbit buku yang berjudul Gurita Cikeas, tulisan
George Aditjondro. Sebagian masyarakat ikut mempergunjingkan apa yang ada dalam
buku itu. Terhadap apa yang ditulis dalam buku itu, saya sekeluarga memilih
untuk lebih santai. Tak harus naik pitam. Karena kebenaran, akurasi, dan fakta
ilmiah hampir tidak dipenuhi oleh penulisnya. Saya memilih bersikap seperti itu
dari pada waktu, pikiran, dan tenaga saya habis untuk mengurusi hal yang
begitu. Padahal, waktu dan pikiran saya amat terbatas untuk menjalankan
tugas-tugas saya, mengatasi masalah yang dihadapi oleh pemerintah untuk terus
membangun negeri ini.
Kecurigaan lain, dan ini salah satu "lagu lama", adalah SBY sering
didikte oleh Amerika. Isu begini pernah menjadi serius ketika suatu ketika saya
diinterpelasi oleh DPR soal persetujuan Indonesia menyangkut Resulusi PBB
tentang nuklir Iran. Saya tidak habis pikir ketika ada seorang anggota DPR yang
amat lantang menyuarakan, tanpa beban, bahwa sebelum Indonesia mengambil posisi
itu katanya SBY ditelepon oleh Presiden merika Serikat George W. Bush. Jelas
berita itu tidak benar.
Untuk lebih jelasnya saya ingin menceritakan ringkasan keadaan waktu itu.
Waktu itu, bulan Maret 2007, Indonesia sedang menjadi anggota tidak tetap Dewan
Keamanan PBB. Salah satu yang tengah diperdebatkan di DK PBB adalah urusan
nuklir Iran. Singkat kata, karena Iran dinilai tidak kooperatif dengan
International Atomic Energy Agency (IAEA), maka DK PBB tengah menyiapkan
resolusi untuk "menegur" Iran. Sebenarnya Indonesia berpendapat biar
saja persoalan itu diselesaikan antara Iran dengan IAEA daripada harus
senantiasa diambil alih oleh DK PBB. Tetapi 14 dan 15 anggota DK, termasuk
sejumlah negara Islam, sudah hampir bulat menyetujui isi dari resolusi.
Oleh karena itu, kita mengatur strategi dan langkah diplomasi agar Indonesia
bisa memasukkan elemen tertentu dalam resolusi itu sehingga isinya menjadi
lebih fair. Anggota Dewan tidak keberatan untuk mewadahi butir-butir
usulan Indonesia itu, yang lebih menguntungkan Iran, asalkan Indonesia juga
bersetuju dengan resolusi itu sendiri.
Nah, di situlah dilema yang saya hadapi. Tetapi, akhirnya, dengan pikiran
jernih dan niat yang baik, saya memutuskan untuk lebih baik membikin isi dari
resolusi itu lebih fair dan tidak sangat memojokkan Iran, dari pada kita
berada di luar dan tidak bisa berbuat apa-apa. Keputusan itu sepenuhnya saya
pertanggungjawabkan.
Namun, di Indonesia ceritanya lain. Seperti yang saya sampaikan tadi ~ tersiar
berita, terutama di kalangan parlemen, bahwa SBY ditelepon dan didikte Bush
untuk melakukan itu. Justru sebaliknya, ketika draf resolusi itu sedang
hangat-hangatnya diperdebatkan di DK PBB, baik Presiden Bush dan Presiden Iran
Ahmadinejad ingin menelepon saya. Terhadap itu saya sampaikan kepada Menlu
Hassan Wirajuda dan Staf Khusus Presiden Hubungan Internasional Dino Patti
Djalal:
"Lebih baik saya tidak terima telepon dari kedua-keduanya. Saya ingin
tidak ada yang menekan dan mempengaruhi kita. Indonesia adalah negara yang
berdaulat. Biar saya menentukan posisi sendiri sendiri yang tepat, yang sesuai
pula dengan kepentingan nasional kita."
Baik Menlu Hassan dan Dr. Dino Patti Djalal setuju dan mendukung sikap saya
itu. Meskipun demikian, Dr. Dino sambil berkelakar menyampaikan komentar yang
menarik.
Pak Presiden, barangkali Bapak adalah Presiden pertama di dunia ini yang
tidak mau menerima teleponnya Presiden Amerika Serikat."
Kami semua tersenyum. Yang disampaikan staf khusus saya tersebut, seorang
diplomat andal dan amat mengerti sisi-sisi hubungan internasional, barangkali
benar adanya. Tetapi, bagi saya tidak mengapa. Karena sebenarnya hubungan saya
dengan Presiden Ahmadinejad dan Presiden Bush baik.
Cerita saya ini tentu akan membikin orang yang berpikir jernih
menggeleng-gelengkan kepalanya. Kok ada berita aneh seperti itu, yang
mengatakan, 15 menit sebelum Indonesia menentukan sikap di DK PBB, SBY
ditelepon oleh Presiden Amerika Serikat.
Kalau saya lanjutkan cerita itu, pada kesempatan lain, juga ketika DK PBB
menerbitkan Resolusi untuk Iran dan tetap berkaitan dengan isu nuklir Iran,
Indonesia mengambil sikap abstain. Posisi Indonesia kali itu berseberangan
dengan 14 anggota DK yang lain. Tetapi, sikap itu saya ambil, dengan segala
resiko, karena pertimbangan saya justru IAEA waktu itu mengatakan ada kemajuan
dalam kerja sama Iran dengan lembaga Internasional itu. Oleh karena itu, di
mata Iran Indonesia dianggap pahlawan. Dan ketika kebetulan sebelum menghadiri
Pertemuan Puncak Organisasi Kerjasama Islam (OKI) di Dakar, Senegal, saya
singgah dulu ke Teheran untuk melakukan kunjungan kenegaraan saya, tidak ada
yang meributkan di dalam negeri. Tidak ada yang menuduh saya didikte oleh Iran.
Meskipun, terus terang sebelum saa berkunjung ke Iran itu di Bandara Halim
Perdanakusuma, sesaat sebelum pesawat yang saya tumpangi lepas landas menuju
Teheran, ada seorang duta besar dari negara Eropa yang menyampaikan
"kekhawatirannya" jika Indonesia lebih dekat dan kemudian mendukung
Iran dalam urusan nuklir Iran tersebut.
Ada lagi kecurigaan yang membikin saya tertawa, ketimbang kesal dan marah. Anda
pun kalau mendengar pasti ikut tertawa. Ceritanya begini.
Ketika saya sering mendapatkan penghargaan dari masyarakat internasional, baik
itu dari PBB, LSM Internasional, bahkan media massa internasional, ada kalangan
yang mengatakan bahwa itu rekayasa massa internasional, ada kalangan yang
mengatakan bahwa itu rekayasa SBY. Jadi, kalau PBB memberikan penghargaan
kepada saya berupa Global Champion for Disaster Risk Reduction, tiga
Internasional NGO memberikan penghargaan Valuing Nature Award, juga
media massa dunia memberikan penghargaan The 100 Most Influential Person in
the World, semuanya itu pasti rekayasa dan permintaan SBY.
Coba, apa tidak tertawa kita. Bagaimana caranya? Ngapain saya melakukan
hal begitu? Mudah-mudahan mereka, yang memberikan penghargaan kepada saya yang
hakikatnya juga penghargaan untuk bangsa Indonesia itu, tidak mendengar hal-hal
begini. Malu kita. Di samping mereka bisa sangat tersinggung, mungkin juga geli
dan tidak habis pikir kok ada orang berpikir seperti itu.
Kecurigaan yang lain juga sering berkaitan dengan apa yang sedang menjadi topik
pemberitaan media massa. Jika headline dan topik hangat media massa
terasa sangat menyudutkan Presiden dan pemerintah, betapapun seringnya, tidak
banyak yang berkomentar. Tetapi, ketika muncul isu dan topik baru dalam
pemberitaan media kita, langsung saya dicurigai melakukan pengalihan isu. Ada
lagi. Bagaimana Caranya? Maukah media massa dititipi hal-hal begitu oleh
"kekuasaan" yang justru doktrinnya harus dikritisi?
Kecurigaan yang sempat mengemuka beberapa tahun yang lalu adalah
"jangan-jangan" SBY menerima aliran dana Bank Century. Atas isu yang
digosipkan oleh para ahli gosip itu sempat memengaruhi sejumlah kalangan,
termasuk teman-teman saya.
Pada suatu hari, di medio tahun 2011, saya bertemu dengan Ketua Umum PB
Nahdlatul Ulama Prof. Dr. Said Aqil Siradj. Ulama terkenal dan pemimpin
organisasi massa Islam terbesar itu, yang juga sahabat saya, dengan hati-hati
menanyakan kepada saya. Hati-hati karena isunya sensitif, dan bisa-bisa saya
akan tersinggung karenanya.
"Pak SBY, minta maaf, saya ingin mengajukan satu pertanyaan. Ini sangat
penting bagi teman-teman lain, utamanya jajaran NU."
"Silakan," sambil menduga-duga kira-kira isu apa yang akan
diangkat.
"Itu Pak, mengenai Bank Century."
"Silakan. Apanya yang ingin Pak Aqil tanyakan?"
Kiai Aqil Siradj berhenti sejenak, mengatur kata-katanya.
"Ada dua isu yang dipergunjingkan. Pertama tentang M. Nazaruddin. Kedua
tentang aliran dana Bank Century."
Saya langsung menangkap.
"Saya diisukan dapat dana dari situ, ya?"
"Benar. Kalau dari M. Nazaruddin, saya dan teman-teman sudah tahu bahwa
itu tidak benar. Sudah selesai. Tapi, tapi... teman-teman ingin mendengar bahwa
Pak SBY benar-benar "clean" dari aliran dana Bank Century
itu," ucap Ketua PB NU tersebut.
"Pak Said Aqil. Kedua-duanya sangat, sangat "clean". Kalau
menyangkut Pak M. Nazaruddin, yang bersangkutan telah membantah katanya pernah
mengasih dana ke anak saya, Edhie Baskoro. Tidak ada logikanya. Dalam Pemilihan
Ketua Umum Partai Demokrat yang lalu, Ibas menjadi steering committee. Bukan
tim sukses."
Pak Said Aqil mengangguk tanda setuju dan juga tampak membenarkan.
"Begitupun soal aliran dana Bank Century. Isu itu sungguh jahat. Saya
ini Presiden yang ketika ekonomi kita sedang terdampak oleh Krisis ekonomi
global ibaratnya tidak tidur karena harus berupaya dan bekerja keras agar
ekonomi kita selamat. Tidak rontok seperti tahun 1998 dulu. Alhamdulillah,
ekonomi kita selamat dan dapat bertahan, bahkan kini tumbuh tinggi. Tidak terpikir
sama sekali untuk mendapatkan sesuatu, termasuk keuntungan finansial. Yang
terpikir oleh saya janganlah kita mengalami krisis seperti krisis ekonomi tahun
1998-1999 dulu. Kerugian dan kehilangan negara mencapai 600 triliun rupiah, dan
hanya kembali sekitar 200 triliun. Lainnya amblas. Mengapa amblas, karena ikut
diambil oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab," ucap saya.
Tamu saya itu tampak mendengarkan dengan seksama. Kemudian, saya lanjutkan.
"Uang seperti itu haram. Sebagai Kepala Negara saya harus memberi
contoh untuk tidak melakukan hal-hal yang tidak terpuji. Bahkan ketika isu itu
masih merebak, saya tantang, silahkan cek ke BPK, KPK, PPATK, dan bahkan Bank
Century itu sendiri, apakan ada satu rupiah pun uang yang mengalir ke kantong
saya. Jawabannya nihil kan? Itulah Pak Said, yang harus saya katakan. Sekarang
pun Allah mendengar ucapan saya ini".
Mendengar penjelasan saya itu pimpinan umat nahdliyin itu menjadi amat lega.
Pak Said berjanji akan meneruskan berita yang amat positif itu kepada
teman-teman beliau.
Masih berkaitan dengan isu Bank Century, ada satu lagi yang dapat pula saya
kategorikan sebagai kecurigaan terhadap saya. Ketika Pansus DPR tentang Bank
Century sedang ramai-ramainya menggelar persidangan, termasuk memanggil dan menghadirkan
banyak pihak untuk dimintai keterangan, ada yang melemparkan isu bahwa tidak
mungkin SBY tidak tahu bahwa Gubernur BI Boediono dan Menteri Keuangan Sri
Mulyani mengambil keputusan untuk melakukan bail-out Bank Century pada
akhir November 2008. Isu itu bahkan berkembang ke arah "pasti SBY
menelepon dari luar negeri agar bail-out terhadap Bank Century"
dilaksanakan. Meskipun barangkali SBY tidak memerintahkan, pastilah mereka
minta izin kepada SBY.
Meskipun baik Pak Boediono dan Ibu Sri Mulyani dengan tegas membantah adanya
perintah dari saya, juga pengambilan keputusan itu tidak dimintakan izin dari
saya, tetap saja ada pihak-pihak yang curiga.
Apa yang saya lakukan menanggapi tuduhan seperti itu? kalu soal apakah saya
mengeluarkan perintah atau juga dilapori oleh baik Menteri Keuangan maupun
Gubernur BI untuk minta izin atau persetujuan kepada saya itu jelas tidak ada.
Saya ulangi jelas tidak ada. Kebenaran ini akan saya pertanggungjawabkan dunia
akhirat. Tetapi, saya penasaran. Oleh karena itu, berhubung pada saat keputusan
Peru, untuk mengikuti pertemuan puncak APEC, saya melakukan pengecekan baik
kepada Mensesneg Hatta Rajasa dan Seskab Sudi Silalahi, apakah kedua pejabat
itu ada komunikasi dengan Menteri Keuangan atau Gubernur BI. Jawabannya
benar-benar negatif, alias tidak ada.
Saya masih tetap penasaran, oleh karena itu saya tanyakan kepada Sespri Ediwan
Prabowo dan para ADC Presiden, apakah mereka menerima telepon dari
pejabat-pejabat yang dimaksud di tanah air. Semuanya mengatakan tidak ada.
Berarti klop sudah. Saya katakan klop karena Pak Boediono dan Ibu Sri Mulyani
memang tidak berhubungan dengan saya, sementara delegasi dan pembantu-pembantu
yang menyertai saya menghadiri pertemuan puncak G-20 di Washington DC dan APEC
di Kota Lima juga tidak pernah berkomunikasi via telepon dengan para pengambil
keputusan bail-out Bank Century itu.
Khusus isu Bank Century itu, beberapa kali saya menyatakan bahwa baik Gubernur
BI maupun Menteri Keuangan memiliki kewenangan untuk melakukan penyelamatan
bank tersebut. Saya yakin Pak Boediono dan Bu Sri Mulyani mengambil keputusan
itu semata-mata untuk menyelamatkan perbankan kita dari krisis berantai.
Bicara tentang fitnah memang tidak akan pernah selesai. Termasuk apa yang saya
alami sendiri.
Pernah sebuah surat kabar ibu kota mewartakan yang intinya keluarga saya
dianggap tidak membayar pajak. Sungguh melukai perasaan saya di tengah
kenyataan bahwa saya amat getol untuk mengajak, sekaligus memberi contoh, semua
wajib pajak untuk membayar pajak dengan benar.
Ada lagi nyanyian sumbang yang menuduh istri saya sebagai "otak di
belakang kasus Hambalang". Sesuatu yang seujung rambut pun tidak ada
kaitannya. Oleh karenanya, mohon maaf, saya harus mengatakan bahwa otak orang
yang menebar fitnah inilah yang tidak beres. Amat menyakitkan.
Berkaitan dengan urusan penegakan hukum dan pemberantasan korupsi ini ada satu
lagi yang saya sekeluarga harus benar-benar belajar bersabar. Beberapa kali,
dalam persidangan atau pemeriksaan seseorang yang dituduh melakukan korupsi,
nama saya dan keluarga suka"diserempet-serempetkan".
Maksud saya begini. Jika ada nama seseorang disebut, entah sebagai saksi atau
sekedar namanya dibawa-bawa, sebagian pers dan publik tampak bersemangat untuk
menghubung-hubungkan dengan SBY dan keluarganya. Misalnya, kebetulan seseorang
itu kenal dengan saya, atau saya kenal dengan yang bersangkutan, opini digiring
pasti SBY tahu. Jangan-jangan ada kaitannya dengan SBY. Memang terasa
menjengkelkan. Mengapa menjengkelkan? Sama sekali saya dan keluarga tidak tahu
menahu. Bahkan, ada saudara jauh saya yang kebetulan memiliki masalah hukum,
beritanya segera di-blow up sebagai "saudara SBY". Padahal,
sudah puluhan tahun saya tidak ketemu. Saya juga tidak tahu apa yang dilakukan.
Pikir saya, kalau begitu cara berfikir sebagian kalangan masyarakat kita,
berarti setiap orang yang saya kenal berurusan dengan hukum, saya diminta untuk
ikut "bertanggung jawab". Aneh, tapi nyata kan?
Sebenarnya, saya ingin segera berganti topik. Tidak habis-habisnya untuk membicarakan
kecurigaan kalangan terhadap saya yang tak pernah berhenti ini. Tetapi, maaf.
Saya masih tergoda untuk menambahkan satu lagi. Kebetulan yang satu ini
tergolong baru.
Seorang teman mengirimkan (mem-forward-kan) SMS kepada saya, yang
dikirim oleh seseorang kepadanya. Lagi-lagi soal kecurigaan terhadap saya.
Begini Bunyinya:
"Lihat itu. SBY sudah bicara dengan Amien Rais. Mereka akan memasangkan
Hatta Rajasa dengan Pramono Edhie Wibowo. Ngapain itu ada Konvensi
Partai Demokrat?" Kurang lebih bunyi SMS itu dengan nada ketus.
Saya kembali menghela napas dalam-dalam. Di tengah kepenatan saya menjalankan
tugas hari itu, saya dapat dua hadiah yang "manis" ~ fitnah dan
kecurigaan.
Dua hari sebelumnya saya memang bertemu Pak Amien Rais di Yogyakarta. Saya
bersama sejumlah menteri yang sedang ada kegiatan dinas di Yogyakarta
bertandang ke kediaman Pak Amien Rais. Untuk diketahui, jauh sebelum ada
rencana Konvensi Capres Partai Demokrat saya sudah janjian dengan Pak Amien
Rais bahwa saya dan istri akan berkunjung ke rumah beliau. Secara kekeluargaan.
Nah, dalam acara santai dan informal malam itu kami berbincang santai, sambil
mencicipi masakan Ibu Amien Rais yang sangat "jos". Pak Amien Rais
juga didampingi oleh putra-putri beliau. Tidak ada namanya bicara soal calon
presiden secara khusus. Tidak bicara konvensi Partai Demokrat. Tidak bicara Pak
Hatta dan Pak Edhie Wibowo dalam konteks Pilpres tahun 2014 mendatang. Apalagi
dituduh menjodoh-jodohkan. Coba..., ajaib, kan?
Yang begini-begini, di samping memang ada pihak-pihak yang terus bekerja untuk
menghantam dan mendiskreditkan saya, juga boleh dikatakan sebagai salah satu
contoh kecurigaan yang tak pernah henti terhadap saya dan keluarga.***) Dikutip
dari: Susilo Bambang Yudhoyono 2014,Selalu Ada Pilihan, iJakarta:
Penerbit Buku Kompas, halaman 162 - 170.

Post a Comment