KETIKA Gus Dur dan
Ibu Megawati menjadi presiden, saya sudah menjadi menteri senior, dan hubungan
tugas saya relatif dekat dengan kedua Presiden itu. Makusd saya, saya sudah
mengerti apa saja tugas dan kewajiban seorang presiden. Termasuk keseharian
seperti apa pula yang dijalaninya. Tetapi, setelah menjadi Presiden sendiri,
terus terang banyak yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Kehidupan
seorang presiden benar-benar berbeda dengan kehidupan-kehidupan sebelumnya.
Yang ingin saya ceritakan di bawah ini adalah apa saja yang saya katakan "tidak
akan dijumpai di kehidupan yang lain" itu. Maksud saya adalah
kehidupan yang sungguh berbeda.
Hal pertama yang segera saya dan istri rasakan adalah dibatasinya sejumlah kebebasan
dan sebelumnya saya jalankan. Misalnya, dulu, saya bisa berpergian kapan
pun dan ke manapun. Sebelumnya, kami bisa makan di manapun sesuai dengan
makanan kesukaan kami, entah di warung ataupun restoran. Sebelumnya, saya bisa
bertemu teman dan menerima tamu-tamu, kapan saja dan di mana saja. Sebelumnya,
tidak pernah ada protokol yang mengatur segala kegiatan resmi saya. Setelah
menjadi Presiden, kehidupan sehari-hari saya memang benar-benar telah berubah.
Saya merasa kehilangan suasana dan juga gaya kehidupan yang tidak serba diatur
dan dibatasi. Kehidupan yang lebih rileks.
Awalnya, terhadap "kehidupan baru" itu tentu saya dan istri merasa
tidak nyaman. Saya merasa terlalu diatur dan dibatasi. Tetapi, setelah saya
mengerti bahwa semuanya itu berkaitan dengan aspek keamanan dan keselamatan,
saya pun bisa menerimanya. Pasukan pengamanan Presiden dan Protokol
Kepresidenan memperlakukan saya seperti itu tujuannya untuk melindungi saya,
dan semua itu juga merupankan tugas dan kewajiban Paspampres yang diamanatkan
oleh undang-undang.
Menyangkut pengaturan dan pembatasan ini banyak pihak yang salah
mengerti. Mereka kerap berkomentar yang negatif, bahkan tidak sedikit yang
menyampaikan ketidaksenangannya kepada saya melalui SMS.
"Setelah jadi presiden, SBY berubah. Dulu kita bisa bertemu kapan saja.
Mau siang, mau malam. Sekarang repot, karena harus memberitahu staf pribadi
atau ajudan Presiden," komentar sejumlah kawan.
"Sebelum jadi presiden kita bisa amat dekat dan bebas bersalaman. Kita
kan pendukung Pak SBY. Sekarang kelihatan kalau suka menghalang-halangi. Untung
SBY masih mau juga. Tetapi enggak semudah dulu," ucap yang lain.
"Saya kesal, karena saya ini ingin mengajukan proposal kepada Presiden.
Kan wajar kalau kita minta bantuan sama SBY. Saya ingin SBY membaca langsung
berkas proposal saya itu. Tapi yang menerima selalu staf pribadinya. Alasannya
untuk keamanan. Memangnya kita teroris, mau mengirim bom surat kepada
SBY," ucap yang lain pula.
"Saya ini termasuk fans Pak SBY. Tetapi kemarin saya kecewa waktu saya
tawari mencicipi makanan yang saya perkenankan, kelihatannya SBY ragu-ragu.
Emangnya saya mau meracuni Presiden sendiri. Enggaklah," pernah sampai
ke telinga saya ucapan seperti itu.
Komentar, kritik, dan kesalahpengertian sejumlah kalangan itu sesungguhnya amat
saya pahami.
Saya sendiri dan istri sering protes kepada Paspampres. Sebenarnya saya tidak
suka kalau pengaman itu terlalu ketat. Sebagaimana sebelum menjadi Presiden
dulu, termasuk dalam masa kampanye pemilu, saya ingin tetap dekat dengan
rakyat. Bukan hanya dekat di hati, dalam arti terus memikirkan nasib dan masa
depannya, tetapi juga dekat secara fisik. Itulah sebabnya, jika pengaman untuk
saya terasa berlebihan biasanya saya langsung menegur, sehingga akhirnya saya
bisa menyalami rakyat dengan lebih akrab lagi.
Sebenarnya bagi para ADC ataupun staf pribadi mengetahui bahwa saya ini tidak
suka, dan bahkan melarang untuk menutup jalan ketika konvoi rombongan saya
lewat. Saya kira tidak banyak di dunia ini, bahkan di tanah air sendiri,
seorang presiden yang mobilnya sering harus ikut "macet" karena
memang jalan tidak ditutup. Oleh karena itu, saya prihatin jika mendengar
omelan di media sosial, katanya jalan macet karena rombongan SBY lewat .
Padahal, saya tidak kemana-mana. Saya ada di kantor, atau di Cikeas karena hari
libur.
Beberapa kali memang jalan mesti setengah ditutup. Tetapi, itu bisa dihitung
dengan jari. Saya masih ingat, misalnya, hal itu dilakukan ketika saya sedang
"dibuntuti" oleh kelompok teroris di sekitar Kota Bandung. Oleh
karena itu, baik ditempat saya bermalam, maupun di beberapa rute jalan yang
saya lalui, terasa lebih ketat pengamannya. Saya bisa memahami, karena memang
perkiraan ancaman terhadap keselamatan saya waktu itu sedang tinggi.
Mayor Jenderal Doni Monardo, Komandan Paspampres ketika buku ini ditulis, dan
juga para Danpaspampres sebelumnya sangat profesional. Di satu sisi pengamanan
presiden memang tidak ada toleransi apa pun untuk gagal (zero tolerance).
Tetapi, di sisi lain mereka juga memahami bahwa rakyat ingin menyapa dan dekat
dengan Presidennya. Oleh karena itu, meskipun harus tegas saya amati mereka
tetap punya hati.
Untuk melengkapi cerita tentang penutupan jalan ini, saya suka memilih
waktu-waktu yang lebih sepi ketika melakukan perpindahan tempat. Misalnya,
perjalanan saya dari Cikeas ke Istana, atau sebaliknya. Untuk diketahui, selama
lebih dari sembilan tahun ini pada prisipnya saya tingal di Istana. Dengan
tinggal di Istana, maka pengamanan menjadi lebih mudah, fasilitas kantor bisa saya
gunakan secara opimal, juga dapat mengurangi mondar-mandir saya dari rumah
pribadi ke kantor. Biasanya setiap akhir pekan saya berada di Cikeas. Atau jika
ada kegiatan partai dan kegiatan lain yang tidak tepat saya lakukan di Istana,
karena itu fasilitas negara, saya juga pulang ke Cikeas. Nah, untuk tidak
terlalu mengganggu masyarkat pengguna jalan, saya sering berangkat dari Cikeas
subuh dini hari. Setelah shalat, saya langsung berangkat. Jalanan masih sepi
dan sama sekali tidak mengganggu lalu lintas. Sebaliknya dari Istana saya
sering pulang tengah malam untuk tujuan yang sama. Dan jika terpaksa harus
meninggalkan Cikeas lebih siang, saya pilih jam-jam tertentu yang lalu
lintasnya tidak terlalu padat. Biasanya pukul delapan atau setengah delapan yang
paling aman.
Setelah merayakan Idul Fitri tahun 1434 Hijriyah, atau 2013 Masehi yang lalu,
ada dua hari libur. Yaitu hari Sabtu dan Minggu, tanggal 10 dan 11 Agustus
2013. Saya berencana untuk pergi ke Istana Cipanas. Disamping bisa sedikit
rileks, saya juga bermaksud untuk menuntaskan draft dua pidato penting
~pidato kenegaraan dan pidato RAPBN 2014 beserta Nota Keuangannya. Kedua
pidato itu akan saya sampaikan pada Sidang Bersama DPR RI dan DPD RI
Tanggal 16 Agustus 2013. Saya tidak pernah menyerahkan begitu saja naskah kedua
pidato penting itu kepada para menteri atau Staf Khusus Presiden. Saya yang
menentukan desain, konten, dan elemen utama yang harus ada. Bahkan, di akhir
proses penyusunan pidato itu, saya juga ikut memberikan sentuhan gaya bahasa ataupun
sisi detail yang lain.
Yang ingin saya ceritakan sebenarnya bukan soal pembuatan pidato itu sendiri.
Tetapi, kapan dan bagaimana saya harus berangkat dari Jakarta menuju ke Cipanas
tersebut. Semula saya ingin berangkat pada Jumat sore, setelah paginya
sungkeman kepada Ibunda Siti Habibah dan Ibunda Sarwo Edhie Wibowo. Tetapi,
saya melihat sendiri betapa padatnya iring-iringan mobil ke arah bogor, dan
saya yakini juga yang ke arah puncak. Saya segera meminta ADC saya, Kombes Imam
Sugianto, untuk menanyakan kepada satuan Polri yang mengatur lalu lintas ke
arah Puncak tersebut.
"Imam, tolong tanyakan situasinya seperti apa. Saya tidak ingin jalan
ditutup karena saya akan lewat. Kasihan rakyat. Nanti tambah macet lagi. Jam
berapa yang paling baik. Bagaimana kalau saya berangkat subuh saja?"
Istri yang duduk disamping saya juga bicara."Pak Imam, bisa ditanyakan
apakah rute Cileungsi - Cianjur - Cipanas tidak seramai kalau lewat Cisarua.
Siapa tahu kita bisa lewat sana?"
Apa hasil koordinasi Kombes Imam dengan koleganya yang mengatur lalu lintas
lebaran itu? Dijawab, kedua rute itu padat. Bahkan padat sekali. Mereka juga
menyarankan akan lebih baik kalau saya bisa berangkat subuh dini hari.
Akhirnya, memang saya berangkat dari Cikeas ke Cipanas waktu subuh.
Alhamdulillah lancar. Salah satu juru foto Presiden, Anung Anindito, yang
menjejaki rute Cianjur dan berangkat hari Jumat sore terjebak macet yang luar
biasa. Dari Jakarta ke Cianjur memakan waktu sekitar dua setengah jam. Dari
Cianjur ke Cipanas sekitar tiga jam. Sangat tidak biasa.
Kehidupan presiden yang begitu berbeda juga saya rasakan betapa boleh dikata
tidak ada yang bersifat pribadi. Seperti tidak ada lagi privileges bagi
seorang presiden dan keluarganya. Sepertinya 24 jam kami disorot dan "diburu"
oleh pers dan publik. Ada saja. Meskipun pers dan publik tidak selalu negatif
karena mereka hanya ingin tahu apa yang dilakukan oleh pemimpin mereka beserta
keluarganya, tetapi tentu jika berlebihan terasa kurang nyaman pula. Tak pelak
situasi ini, dengan kehidupan pers dan politik di negeri ini yang sering cynical,
kehidupan keluarga saya sering menjadi sorotan dan bahan komentar yang
miring. Anak-anak saya, terkadang juga anak menantu saya, sering menyampaikan
isi hatinya kepada saya. Unek-unek tentang perlakuan yang dianggap kurang adil
terhadap mereka.
"Pa, mengapa keluarga kita tidak pernah berhenti disorot dan
dipergunjingkan. Yang tidak ada pun menjadi ada. Hal yang sama yang dilakukan
oleh banyak orang tidak ditanggapi," begitu kita komentarnya tidak
habis-habis. "Karena kalian anak presiden. Begitu hukumnya. Semua harus
siap," jawab saya singkat
Yang jelas tidak ada hari yang sama bagi seorang presiden. Setiap hari selalu
ada yang baru. Setiap hari boleh dikata selalu ada berita dan laporan yang
berpasangan. Yang baik dan yang buruk. Setiap saya membaca SMS selalu ada yang
puas dan ada pula yang tidak puas. Meskipun, tentu ada kegiatan yang tergolong
reguler dan rutin. Rutin kegiatannya, tetapi isu yang dihadapi dan ditangani
selalu berbeda dan terus berkembang.
Untuk diketahui, ada satu titik penting yang dialami oleh seorang presiden
diawal pelaksanaan tugasnya. Titik atau momen itu adalah yang disebut dengan
masa "bulan madu", dan kemudian masa setelah bulan madu itu usai.
Saya ingin berbagi cerita tentang hal ini, karena pada periode ini muncul
sejumlah perilaku sosial dan politik yang tidak biasanya. Bukan berarti
anomali, tetapi memang tidak biasa. Jika tidak dipahami, baik sang presiden
maupun masyarakat bisa memiliki persepsi yang keliru.
Segera setelah seorang presiden terpilih diambil sumpahnya, dan kemudian mulai
memimpin pada minggu-minggu pertama, periode itulah yang dinamakan masa bulan
madu. Suasana euforia kemenangan masih mewarnai medan perpolitikan. Dukungan
masyarakat berada pada masa puncaknya. Lembaga survei biasanya juga melakukan polling,
dan hampir pasti hasilnya baik. Artinya, dukungan untuk presiden yang baru saja
mengawali tugasnya itu hampir pasti jauh di atas perolehannya dalam pemilihan
presiden yang belum lama berlangsung. Sebagai contoh, pada Pilpres tahun 2004,
perolehan saya sekitar 61 persen, pada bulan madu dukungan itu meningkat
menjadi 80 persen. Demikian pula pascapemilu tahun 2009, dari dukungan yang
saya peroleh sekitar 62 persen, pada masa bulan madu naik secara signifikan
menjadi 85 persen.
Sesudah itu, tiga sampai empat bulan kemudian, biasanya kembali dilaksanakan polling,
dan di situ dukungan publik kepada presiden biasanya menurun dan bisa
mendekati angka perolehan dalam pemilihan presiden. Untuk saya, setelah bulan
madu itu berakhir, pada awal tahun 2005 popularitas saya kembali ke angka 65
persen, dan awal tahun 2010 juga pada angka 65 persen. Di sinilah biasanya
langsung dibuat kesimpulan bahwa popularitas presiden jatuh atau meluncur
tajam. Padahal, jika dibandingkan dengan perolehan dalam pilpres masih lebih
tinggi. Apalagi jika dibandingkan dengan base line popularitas saya
sejak tahun 2004, yang biasanya berada pada angka sekitar 50-60 persen.
Memang bukan hanya menyangkut polling popularitas dan dukungan publik,
tetapi situasi politik memang berubah. Pers menjadi kritis kepada presiden
baru. Demikian pula masyarakat luas. Mulai terdengar kritik dan ketidakpuasan
dari sejumlah kalangan. Program 100 hari pemerintahan baru juga dianggap salah,
bahkan sering pula dinyatakan gagal. Kegagalan itu banyak yang mengaitkan
dengan janji-janji kampanye yang tidak dicapai pada 100 hari masa pemerintahan
yang baru itu. Tentu saja tidak dicapai. Mana mungkin masa kerja pemerintahan
yang akan berlangsung selama lima tahun sudah dihakimi sebagai gagal hanya
dalam waktu 100 hari? Tetapi, itulah suasana politik yang terjadi pasca masa
bulan madu.
Saya masih ingat menjelang berakhirnya program 100 hari setelah saya dipilih
kembali pada Pemilu tahun 2009, wartawan RCTI mewawancarai saya di Istana
Cipanas. Wartawan muda, Putra Nababan, menanyakan kepada saya kurang lebih
sebagai berikut:
"Pak Presiden, ada yang menilai program 100 hari pemerintah tidak
mencapai sasaran. Juga dianggap tidak sesuai dengan janji-janji kampanye yang
lalu. Apa komentar Pak SBY?"
"Benar jika belum menjawab atau tidak sesuai dengan tema dan janji
kampanye saya. Karena memang baru 100 hari dari lima tahun. Kalau mau menilai
nanti pada akhir tahun 2014." demikian jawab saya.
Untuk tahun 2009 saya sudah lebih siap dan lebih mengerti mengapa terjadi
perubahan situasi politik yang relatif drastis dibandingkan dengan masa bulan
madu. Tetapi, tidak demikian pada masa pascapemilu 2004. Saya baru menyadari
bahwa "perlawanan" dari mereka yang tidak berhasil dalam pemilihan
presiden sangat tampak. Demikian juga mereka-mereka yang tidak saya ajak dalam
pemerintahan, utamanya kabinet, juga mulai menunjukkan sikap dan gerakan
politik yang mengekspresikan ketidaksenangannya kepada saya.
Nasib dan kehidupan yang berbeda bagi seorang presiden seperti itu juga bukan
khas Indonesia. Ternyata di negara lain juga sama. Pada media 2013 lalu saya
menyaksikan tayangan sejumlah televisi internasional yang meliput unjuk rasa
besar di Paris, Prancis, menyambut setahun pemerintahan Presiden Hollande.
Digambarkan dalam tayangan televisi itu bahwa besarnya masa yang melakukan
protes kepada Presiden Prancis itu sama jumlahnya dengan masa yang merayakan
kemenangan Presiden Hollande setahun sebelumnya.
Saya juga menyimak apa yang dikatakan oleh Presiden Bill Clinton sebagai
berikut:
"Saya menyukai jabatan saya sebagai presiden. Hari-hari yang buruk
menjadi bagian dari itu. Saya mencalonkan diri sebagai presiden bukan untuk
mencari kesenangan. Saya ingin mendapatkan kesempatan untuk melakukan perubahan
bagi negara saya, sehingga jika hari-hari yang buruk itu datang, semua itu
merupakan bagian dari kehidupan saya. Semuanya sungguh menyenangkan dan penuh
pembelajaran. Semua membuat Anda tetap menjalankan tugas yang harus
diemban".
Kalimat di atas saya kutip dari Peter's Quotation: Ideas For Our Time, tulisan
Dr. Laurence J. Peter, yang kemudian saya terjemahkan secara bebas ke dalam
bahasa Indonesia. Presiden Clinton menjabat selama dua periode, dan kini masih
aktif berkontribusi kepada masyarakat dunia. Perhatiannya adalah pada bidang
kemanusiaan dan pemberdayaan masyarakat sedunia. Pertama kali saya bertemu
Presiden Clinton ketika bersama Presiden Bush (senior) berkunjung ke Aceh,
ketika Aceh mengalami musibah tsunami. Saya bertemu keduanya di Bandar Udara
Polonia Medan. Kemudian, tahun 2007 saya menemui Bill Clinton di kantornya
Clinton Foundation, New York. Sedangkan yang ketigakalinya beliau menemui saya
di Davos, Swiss, tanggal 27 Januari 2011, untuk membicarakan penanganan
pascabencana di Haiti.
Ketika saya tengah bertafakur di malam yang hening, di tengah himpitan
persoalan yang datang silih berganti, saya meski bersyukur kepada Tuhan Yang
Mahakuasa, Allah SWT, karena saya masih diberi kekuatan dan semangat untuk menjalankan
tugas saya sebagai Presiden. Bersyukur karena dapat melalui bertahun-tahun yang
berat dan tidak mudah. Barangkali yang membuat saya tetap bertahan selama ini,
selama lebih dari sembilan tahun ini, karena saya telah mempersiapkan hati dan
pikiran saya untuk menghadapi kritik, kecamann, dan berbagai perlawanan kepada
saya. Saya bertekad untuk menjadikan semuanya itu sebagai bagian dari hari-hari
yang panjang pengabdian saya. Bagian dari romantika dan dinamika kehidupan yang
harus saya jalani. ***) Dikutip dari: Susilo Bambang Yudhoyono 2014,
Selalu Ada Pilihan, Jakarta: Penerbit Buku Kompas, halaman 104 - 111.

Post a Comment