KETAPANG – Komisi VII DPR RI
berharap PT Well Harvest Winning Alumina Refinery dapat menjadi pusat
pengembangan industri berbasis bauksit di Indonesia. Komisi menilai PT WHW
mampu mengelola dan memurnikan bijih bauksit menjadi alumina yang menghasilkan
Smelter Grade Alumina dengan kadar 98,6 persen, dan kapasitas produksi 1 juta
ton per tahun.
“Kami berharap PT WHW dapat menjadi pusat pengembangan industri berbasis
bauksit di Indonesia,” ujar anggota Komisi VII DPR RI Katherine Anggela Oendoen
saat memimpin Tim Kunjungan Kerja Spesifik (Kunspek) Komisi VII DPR RI ke
PT WHW AR di Ketapang, Kalimantan Barat, Senin (26/11/2018), seperti dikutip
dalam website : www.dpr.go.id .
Tujuan kunjungan anggota Komisi VII tersebut untuk mendapat gambaran secara
utuh mengenai kegiatan hilirisasi mineral bauksit menjadi alumina dan ketaatan
perusahaan dalam melakukan kegiatan pengelolaan lingkungan hidup. Sehingga
anggota Komisi VII dapat memperoleh informasi yang komprehensif terkait kegiatan
hilirisasi mineral bauksit di Kalimantan Barat dan permasalahan yang
dihadapi.
Menurut Katherine, adanya Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang
Pertambangan Minerba telah memberikan angin segar bagi pertumbuhan dan
perkembangan industri pengelolaan dan pemurnian mineral di dalam negeri, salah
satunya adalah PT WHW AR ini.
“Kami berharap kegiatan usaha pertambangan, termasuk kegiatan hilirisasinya
yang ada di Ketapang dapat berjalan dengan baik,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Katherine juga menekankan mengenai Undang-Undang
Dasar 1945 Pasal 33 ayat (3) yang menegaskan bahwa bumi, air, dan kekayaan alam
yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk
sebesar-besar kemakmuran rakyat. Ia mengingatkan bahwa mineral dan batu bara
sebagai kekayaan alam yang terkandung di dalam bumi merupakan sumber daya alam
yang tak terbarukan, sehingga pengelolaannya perlu dilakukan seoptimal mungkin,
efisien, transparan, berkelanjutan, dan berwawasan lingkungan.
Menurutnya, bauksit merupakan salah satu sumber daya alam tidak terbarukan
(non-renewable) yang banyak terdapat di Kalbar. Cadangan bauksit di Kalbar
sejumlah 0,84 milyar ton dari total cadangan nasional 1,26 milyar ton atau
66,77 persen cadangan bauksit nasional ada di Kalbar, sedangkan sumber
daya bauksit nasional sebanyak 3,61 milyar ton.
“Besarnya cadangan bauksit di Kalimantan Barat diharapkan mampu
meningkatkan perekonomian masyarakat di Kalimantan Barat, khususnya di
Kabupaten Ketapang ini,” kata Katherine.
Hal senada diungkapkan anggota Komisi VII DPR Maman Abdurrahman. Ia
berharap agar kegiatan usaha pertambangan termasuk kegiatan hilirisasinya yang
ada di Ketapang, Kalbar dapat berjalan dengan baik sesuai dengan Undang-Undang
(UU) Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Minerba dan UU Nomor 32 Tahun 2009
Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.
Sementara itu, Direktur External Relation PT WHWAR Stevi Thomas
mengapresiasi kunjungan anggota Komisi VII DPR RI tersebut. Menurutnya,
kunjungan ini menandakan jika DPR turut memberikan perhatian khusus kepada PT
WHW AR.
“Dengan adanya kunjungan ini menandakan bahwa DPR, khususnya Komisi VII
turut memperhatikan keberadaan PT WHW AR. Apalagi mereka juga memberikan
beberapa rekomendasi yang akan menjadi bahan untuk perbaikan kinerja kami ke
depannya dan kami yakin kunjungan ini dapat menjadi salah satu motivasi untuk
kami dalam meningkatkan produksi dan ekspor ke negara-negara lain,” katanya.
Dalam kunjungan itu, anggota Komisi VII DPR juga meninjau tempat
penempatan residu bauksit dan proses pengolahan residu bauksit yang sudah
sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang ada.
Hadir juga dalam kegiatan itu Direktur Operasional PT. WHWAR Zhao
Jialiang dan Deputy General Manager PT. WHWAR Dev Herindra.
Kemudian anggota DPR yang ikut dalam kunjungan diantaranya Denny Jaya Abri
Yani, Ivan Doly Gultom, Maman Abdurrahman, Nawafie
Saleh, Ihwan Datu Adam, Pegigi Patricia Pattipi, dan Muhamnad
Yudi Kotoucky.***(ADV/LKBK65).
Gambar : Anggota Komisi VII DPR RI Katherine A. Oendoen
menerima cinderamata dari Zhao Jialiang selaku Direktur Operasional PT WHWAR
disaksikan anggota lainnya Maman Abdurrahman pada Kunjungan Kerja Spesifik
Komisi VII DPR RI ke Site PT WHWAR di Sungai Tengar, Kendawangan, Ketapang -
Kalbar pada 26 November 2018.***(Ist).
Editor
: Fahrozi
_____________________
“MENGUTIP SEBAGIAN ATAU SELURUH ISI PORTAL INI HARUS MENDAPAT
IZIN TERTULIS DARI REDAKSI, HAK CIPTA DILINDUNGI UNDANG-UNDANG”


Post a Comment