SELAMAT DATANG DI PORTAL LEMBAGA KANTOR BERITA KALIMANTAN (LKBK) - UNTUK INDONESIA KAMI ADA
Home » , , , » Sebaiknya Anies Fokus Urus Jakarta

Sebaiknya Anies Fokus Urus Jakarta

Written By lkbk on Tuesday, July 10, 2018 | 5:40 PM

Oleh : Emrus Sihombing, Direktur Eksekuitif Lembaga Emrusorner

MELIHAT sosok Anies Baswedan, segala kemungkinan bisa saja terjadi. Menurut saya Anies adalah politisi yang sangat cair. Kita bisa melihat dari sikap politiknya, ketika Pilpres 2014 dia bersebrangan dengan Prabowo, dan merapat ke Joko Widodo. Kemudian mendapatkan kursi menteri. Namun ketika hendak dicalonkan sebagai Cagub DKI Jakarta, dia merapat ke Prabowo. Artinya Anies meninggalkan kursi Gubernur DKI Jakarta untuk maju sebagai capres-cawapres sangat mungkin terjadi.

Saya berpandangan bahwa tidak ada jaminan Anies akan menyelesaikan tugas-tugasnya di Jakarta selama 5 tahun ke depan, dan tidak menutup kemungkinan dirinya akan running pada cawapres atau capres. Bagi saya, sikap politik Anies sangat cair dan sangat dinamis.

Sementara itu jika dikatakan Anies tidak punya partai dan bukan kader partai, saya kira sangat mungkin ketika partai-partai pengusung tidak memiliki jalan keluar/mentok, nama pihak ketiga muncul sebagai alternatif. Dalam hal ini nama Anies yang diajukan. Mungkin saja kejadian serupa dengan Pilkada DKI Jakarta terjadi lagi.

Dalam menentukan dukungan, pasti ada beberapa variable yang dilihat oleh partai-partai pengusung, salah satunya elektabilitas. Namun ketika awal dicalonkan menjadi Cagub DKI Jakarta, elektabilitas Anies rendah. Tapi setelah maju ke putaran kedua, Anies berhasil mendulang suara AHY untuk menang dalam Pilkada DKI Jakarta.

Oleh karena itu, Anies bisa saja dimajukan ketika kawan-kawan partai tidak menemukan kesepakatan atau titik temu. Ini bisa terjadi dalam konteks negosiasi atau kompromi politik. Bisa saja di antara pihak yang sebelumnya tidak ada kesepakatan, ketika ditawarkan pihak ketiga terjadi kesepakatan itu. Kompromi politik di sini, antara lain: komposisi kabinet kalau Anies menang; biaya yang hendak dikeluarkan; dan perjuangan politik dari para partai pengusung yang nantinya akan dibawa Anies.

Salah satunya mungkin  ada kesepakatan Anies naik jadi capres/cawapres Sandiaga secara konstitusional akan naik sebagai Gubernur DKI Jakarta. Dan undang-undang yang baru menyatakan kalau seorang kepala daerah mencalonkan diri sebagai presiden, dia harus mundur dari jabatannya. Anies mundur, Sandiaga naik jadi gubernur, wakilnya diambil dari PKS sebagai partai koalisi. Bisa saja ini jadi salah satu kesepakatannya.

Namun, saran saya secara pribadi kepada Anies, janganlah dia tergiur untuk maju sebagai capres atau cawapres yang belum tentu bisa dimenangkan. Tapi tetaplah dia mempertahankan kursi gubernur dan fokus mengurusi rakyat Jakarta selama kurang lebih 4 tahun lebih masa jabatannya ini. Sesuai dengan janji kampanye yang diucapkan secara eksplisit ketika debat kandidat. Dengan fokus mengurusi DKI Jakarta dan membuktikan kinerjanya bisa lebih baik dari Ahok, ini bisa menjadi tangga bagi dirinya untuk maju pada Pilpres 2024.

Ahok menjadi standard bagi Anies dalam menunjukan kinerja mengurus Jakarta. Misalkan kalau dalam kurun waktu 3 tahun Ahok bisa buat jembatan 5, dengan kalkulasi tertentu Anies harus bisa melakukan dua kali lebih baik dari itu. Kalau itu berhasil dilakukan dan dibuktikan kepada warga Jakarta dan Indonesia pada umumnya, 2024 akan menjadi tahun politik bagi Anies.***(AST/R/LKBK65).

Gambar : Emrus Sihombing, Direktur Eksekuitif Lembaga Emrusorner.***(Ist).

Editor    : M. Fahrozi 
_________

“MENGUTIP SEBAGIAN ATAU SELURUH ISI PORTAL INI
HARUS MENDAPAT IZIN TERTULIS DARI REDAKSI, HAK CIPTA DILINDUNGI UNDANG-UNDANG”
__________



Share this post :

Post a Comment