KETAPANG – Pemerintah Republik
Indonesia melalui Kementerian Pertanian di Direktorat Jenderal Tanaman Pangan
telah membuat strategi dalam rangka antisipasi terjadinya keadaan "Rawan Pangan"
dimasa yang akan datang, dan atas dasar strategi itu lah, maka muncul Proyek
BanPem (Bantuan Pemerintah), khusus untuk Kalimantan Barat namanya Budidaya
Padi Teknologi Hazton.
Diluncurkannya program tersebut mendapat sambutan positif dari para
kelompok tani, namun sebaliknya ada juga yang merasa kecewa, karena dinilai
pengadaan program itu tidak adil.
“Bantuan teknologi pertanian tidak pernah tembus ke daerah pedalaman dan
saat saya berkunjung ke daerah daerah pedalaman itu, saya tidak pernah
menemukannya”, terang Susilo Aheng salah satu politisi dari Partai NasDem
Ketapang, kepada media ini, Rabu (18/10/2017) sore.
Kata Susilo, masyarakat pedalaman sangat berharap infrastruktur pertanian
bisa menjangkau pedalaman, karena kalau tenaga manual sangat tidak efektif dan
masyarakat tetap memilih ladang berpindah.
“Seharusnya di pedalaman juga sejak dini yang digalakkan adalah mesin
pembajak sawah dan juga program pengairan. Selain itu perlu disosialisasikan
teknologi pertanian kepada para petani atau kelompok tani yang ada di pedalaman”,
pinta Susilo seraya menyatakan bahwa selama ini bantuan pertanian untuk
masyarakat dari aspirasi DPR RI tidak adil, karena hanya msyarakat yang dekat
kota saja yang dibantu, sedangkan yang di daerah pedalam nol.
Selain itu menurut Susilo Aheng, bahwa kalau pemerintah mau program bebas
asap menghadapi kemarau yang akan datang, “maka pemerintah harus sejak dini
mensosialisasikan kemasyarakat di pedalaman bagaimana mengatasi ladang berpindah
dialihkan ke sawah permanen”, tutup Susilo Aheng.***(Halim Anwar/LKBK65).
Gambar : Susilo Aheng dan
suasana salah satu sudut Desa Riam Dadab, Kecamatan Hulu Sungai, Ketapang,
Kalbar.***(Ist).
_______
“MENGUTIP SEBAGIAN
ATAU SELURUH ISI PORTAL INI HARUS SEIZIN REDAKSI. HAK CIPTA DILINDUNGI
UNDANG-UNDANG”
_______



Post a Comment