PONTIANAK - Masyarakat
dunia saat ini sedang “bergerak”. Berbagai bentuk migrasi terjadi,
memberikan dampak positif dan negatif. Banyak
orang yang harus bermigrasi dengan terpaksa, karena mereka tidak punya pilihan lain. Secara global,
saat ini ada sekitar 64 juta orang terlantar karena konflik dan kekerasan,
termasuk 500.000 orang Rohingya dari Myanmar, tetapi juga masih ada jutaan
orang lagi di Timur Tengah, Afrika dan wilayah lain. Ini adalah jumlah
tertinggi sejak Perang Dunia Kedua.
Tema
internasional Hari Pangan Sedunia 2017 adalah dampak migrasi, bukan hanya pada
manusia, tetapi juga pada perbaikan status ketahanan pangan mereka. Tema
tersebut adalah: “Mengubah masa depan migrasi; Investasi di Bidang Ketahanan
Pangan dan Pembangunan Pedesaan” memaparkan faktor ekonomi, sosial dan politik
yang menyebabkan perpindahan orang secara besar-besaran di dunia.
Orang bermigrasi
terutama dari daerah pedesaan, karena lebih dari 75 persen penduduk dunia yang
miskin dan rawan pangan tinggal di daerah pedesaan. Di Indonesia, dari 2 dari 3
dari 28 juta orang hidup di bawah garis kemiskinan, tinggal di daerah pedesaan,
dan banyak keluarga bermigrasi karena alasan-alasan ekonomi, di mana mereka
tidak melihat pilihan lain yang layak untuk keluar dari kemiskinan selain
bermigrasi, baik itu ke perkotaan atau ke negara lain.
Mark Smulders, Perwakilan FAO di
Indonesia dan Timor Leste pada pidatonya di pembukaan peringatan Hari Pangan
Sedunia di Pontianak, Kamis (19/10/2017), menekankan pentingnya investasi di
pedesaan untuk mengubah masa depan migrasi.
“Pembangunan yang komprehensif di
pedesaan dapat mengubah banyak hal. Menghapus kemiskinan, mengurangi potensi konflik,
and memberdayakan masyarakat miskin di pedesaan untuk terlibat dalam rantai
makanan yang menguntungkan dan keberlanjutan, akan membuat migrasi sebagai
pilihan, alih-alih dilakukan karena keputusasaan” ujarnya.
Migrasi sendiri
juga memainkan peran penting dalam pembangunan pedesaan. Migrasi musiman
dilakukan dilakukan sesuai dengan kalender pertanian, dan remintansi
(pengiriman uang) adalah sebuah kekuata besar untuk memperbaiki baik
kesejahteraan desa dan produktivitas peternakan.
Menurut data
Bank Dunia, Indonesia berada di rangking ke-14 di antara negara-negara penerima
remitansi pada tahun 2015, dengan perkiraan sebanyak 10,5 miliar dolar dikirim
oleh pekerja Indonesia yang tinggal di luar negeri. Aliran remitansi ke
Indonesia meningkat sebesar 22 persen hanya dalam waktu satu tahun
(dibandingkan tahun 2014). Jumlah remitansi yang dikirim ke Indonesia hampir
setara dengan 1% PDB Indonesia
Generasi muda amat dibutuhkan untuk
membangun sektor pangan dan pertanian
Tema nasional Hari Pangan
Sedunia “Menggerakkan Generasi Muda dalam
Pembangunan Pertanian Indonesia untuk menjadi Lumbung Pangan Dunia” terkait
dengan tema internasional. Tema yang juga bertujuan untuk mengatasi penyebab
utama migrasi desaa-ke-kota dengan penekanan khusus pada generasi muda di
pedesaan.
Di Indonesia
sendiri, saat ini 45 persen penduduknya tinggal di daerah pedesaan, dan meski
1/3 pekerja formal di seluruh negeri masih bekerja di bidang pertanian, pekerjaan
mereka menjadi semakin penting. Dengan migrasi desa-ke-kota yang konstan, dan
terlepas dari jumlah penduduk yang meningkat, setiap tahun semakin sedikit
orang yang tinggal di daerah pedesaan.
Selama 15 tahun
terakhir, penduduk daerah perkotaan di Indonesia meningkat sebanyak 50 juta
orang, sementara jumlah penduduk di pedesaan menyusut sebanyak 5 juta orang.
Pada tahun 2016 saja, jumlah orang yang pindah dari daerah pedesaan ke
perkotaan mencapai sekitar 7 juta orang.
“ Generasi muda amat dibutuhkan di
pedesaan. Untuk mengurangi laju migrasi keluar dari pedesaan, kita harus
memberikan insentif yang tepat, dan mendemonstrasikan bahwa terlibat dalam
pertanian menjadi amat menguntungkan, dan dapat membuat hidup lebih
nyaman”
Perlu digaris
bawahi, dalam rangka untuk menarik generasi muda untuk menggeluti bidang
Pertanian, Perikanan dan kehutanan dengan cara yang lebih produktif, maka kita
harus menggaris bawahi pentingnya “inovasi pertanian”, dengan menanamkan
investasi yang memadai untuk sekolah kejuruan dan pelatihan praktis teknologi
pertanian .
Kita juga
memperkuat proses penyuluhan, yang mampu memberikan akses generasi muda ke
pengetahuan terkini dengan dukungan penyuluhan eletronik (e-extension), inovasi
modern metode pertanian sekaligus didukung oleh mudahnya mendapatkan faktor
produksi dan fasilitas kredit bagi generasi muda
FAO
gelar miniatur teknik Pertanian Konservasi dan Mina Padi pada pameran WFD 2017
Pada Hari
Pangan Dunia di Pontianak tahun ini, FAO menampilkan miniatur program-program
unggulan yang telah diaplikasi di berbagai daerah di Indonesia.
Teknik yang ditampilkan antara lain miniatur denplot mina padi,
yang menggabungkan antara padi dan ikan dalam satu area, dan menekankan
penggunaan sumber daya alam (tanah dan air) secara efektif dan
efisien.
FAO juga
menggelar miniatur Pertanian Konservasi, yang saat ini masih dijalankan
programmnya di wilayah NTT-NTB dan telah dipraktikkan oleh lebih dari 12 ribu
petani. Pertanian Konservasi mempromosikan pengolahan tanah yang lebih
baik untuk meningkatkan kesuburan tanah.
Kedua
program tersebut telah terbukti meningkatkan jumlah produksi dan pendapatan
petani dengan cukup signifikan.***(SP/LKBK65).
Gambar : Documen Harriansyah/FAO Indonesia untuk
LKBK65
_______
“MENGUTIP SEBAGIAN
ATAU SELURUH ISI PORTAL INI HARUS SEIZIN REDAKSI. HAK CIPTA DILINDUNGI
UNDANG-UNDANG”
_______

Post a Comment