JAKARTA-Pencabutan subsidi listrik bagi
pengguna listrik 900 watt, ditanggapi khusus oleh Anggota Komisi VII dari
Fraksi Partai Demokrat (FPD) Ichwan Datu Adam. Menurut Datu, sah saja
pemerintah menarik subsidi tersebut dengan alasan banyak pengguna yang tidak
termasuk kategori layak subsidi. Tetapi perhitungannya harus hati-hati dan
benar agar tidak salah sasaran dan menimbulkan dampak berupa kesulitan bagi
masyarakat banyak.
‘’Mau nambah
keuangan Negara, silakan. Mau merapikan siapa layak dapat subsidi siapa yang
tidak perlu, boleh saja. Tapi sudah dihitung tidak? Benar nggak data TNP2K (Tim
Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan) terkait siapa saja pengguna 900
watt. Harus hati-hati,’’ kata Datu.
Datu
meminta, pemerintah tidak bersembunyi di balik istilah yang seolah merakyat
tapi ternyata mencekik, jika memang benar-benar mau menaikkan tarif dasar
listrik.
‘’Saya cuma ingatkan, jangan pake bahasa tarik subsidi bagi pengguna yang mampu, tapi sebenarnya diam-diam mau naikkan TDL. Jangan sampai begitu, maksudnya ya?’’ kata anggota dari dapil Kalimantan Timur itu.
‘’Saya cuma ingatkan, jangan pake bahasa tarik subsidi bagi pengguna yang mampu, tapi sebenarnya diam-diam mau naikkan TDL. Jangan sampai begitu, maksudnya ya?’’ kata anggota dari dapil Kalimantan Timur itu.
Lebih jauh,
Datu memberikan sejumlah catatan penting terkait listrik sesuai kapasitasnya
sebagai anggota Komisi VII. Bahwa TDL harus berada di posisi asalnya,
terjangkau rakyat banyak karena secara umum perekenomian belum membaik. Di
samping itu, Tim TNP2K dan PLN harus memperoleh data secara valid dan
menyampaikan secara terbuka kepada masyarakat terkait pengguna, karena kelompok
rentan ada di pengguna 450 watt dan 900 watt.
‘’Jadi
begini, silakan tarik subsidi untuk pengguna yang tidak layak dapat subsidi.
Tapi catatan saya, pertama, perbaiki layanan di seluruh daerah. Kedua,
bagaimana dengan kondisi di daerah terpencil atau pulau terluar? Apakah sudah
sesuai dengan konsep pembangunan listrik berbasis pedesaan? Perhatikan itu!’’
tukas Datu lagi dengan nada suara meninggi kepada media ini di Jakarta,Selasa (13/06/2017) siang.
Menurut
Datu, dari perjalanannya sebagai anggota dewan, ia kerap mendengar aduan
masyarakat di pulau-pulau terluar yang sulit memasang listrik atau pasang
dengan harga sangat mahal. ‘’Ada yang sekitar 4 jutaan untuk pasang listrik.
Masalah-masalah seperti ini yang belum tersentuh pemerintah.
Pengurangan
subsidi sekitar 22 triliun, kalau mau, harus benar-benar menyentuh di aspek
itu,’’ kata Datu Adam.
Di Komisi
VII, Datu Adam sendiri dan kawan-kawan sudah dan hampir selalu mengingatkan
agar pemerintah tidak menaikkan TDL atau bahkan menarik subsidi, sejauh
pelayanan tidak diperbaiki. Di daerah—setidaknya di dapil Datu Adam—banyak
warga yang mengeluh sudah melakukan berbagai cara agar bisa hemat, hingga
mereka tidak menggunakan lampu pagar, dan pemanas air hanya dihidupkan 1 jam
setiap hari.
‘’Tetapi dengan
penghematan segitu, masyarakat tetap harus membeli voucher listrik Rp 1 Juta,
masing-masing 500 ribu untuk meteran atas dan 500 ribu untuk meteran
bawah. Tahu tidak, itu hanya tahan sekitar 6 hari. Nah, kondisi ini butuh
perhatian pemerintah,’’ kata Datu.
Menurutnya,
kadang masyarakat mengeluh karena seolah-olah menghirup udara saja harus bayar
retribusi dan pajak. Tentu, masyarakat harus disadarkan soal penggunaan
yang hemat atas apapun, tapi kewajiban disadarkan bahwa Negara butuh itu. Dan
masyarakat sebaiknya menggunakan cara-cara alternative yang mentradisi untuk
melakukan penghematan. Tapi bagaimanapun juga, tetap penting, Negara selalu
hadir untuk memberikan pelayanan yang baik agar masyarakat merasakan keadilan.
Gambar: Documen pribadi Ichwan Datu Adam untuk Portal LKBK65
_______
“MENGUTIP SEBAGIAN ATAU
SELURUH ISI PORTAL INI HARUS SEIZIN REDAKSI. HAK CIPTA DILINDUNGI
UNDANG-UNDANG”











Post a Comment