SELAMAT DATANG DI PORTAL LEMBAGA KANTOR BERITA KALIMANTAN (LKBK) - UNTUK INDONESIA KAMI ADA
Home » , , , » Tokoh Perempuan Tionghoa Ketapang Kho Susanti : “Pentingkah Keterwakilan Perempuan Etnis Tionghoa di Legislatif ? ”

Tokoh Perempuan Tionghoa Ketapang Kho Susanti : “Pentingkah Keterwakilan Perempuan Etnis Tionghoa di Legislatif ? ”

Written By lkbk on Tuesday, March 28, 2017 | 10:18 PM

KETAPANG-Etnis Tionghoa di Indonesia pada umumnya mempunyai mind set (sudut pandang-red) yang hingga saat ini masih merasa takut dan alergi serta apatis atau acuh tak acuh dengan dunia politik, sehingga mereka tidak berminat mencalonkan diri menjadi Calon Legislatif (Caleg), tim sukses, pengurus partai, dan lain lainnya. Hanya sedikit saja dari mereka yang tidak takut politik, dan mempunyai minat serta jiwa politik.

Hal itu disampaikan Kho Susanti,SE, salah satu Tokoh Perempuan Tionghoa yang ada di Ketapang, Kalimantan Barat, kepada Portal LKBK65, Selasa (28/03/2017) sore.

“Kemudian juga ada sebagian Etnis Tionghoa berpandangan bahwa, politik itu adalah suatu pembicaraan yang tidak boleh atau tabu dilakukan di depan umum, membicarakan politik haruslah extra hati hati, karena apabila salah bicara atau mengeluarkan pendapat, maka akan mendatangkan malapetaka”,ungkap Susanti yang aktif sebagai Sekretaris Jenderal di Wanita Peduli Kasih (WPK) Ketapang itu.

Selanjutnya,kata Susanti, bahwa khususnya Etnis Perempuan Tionghoa di Indonesia mereka tidak aktif berpolitik, selain karena mereka takut dan tidak mempunyai minat atau jiwa politik, mereka juga memang lebih suka berusaha dibidang ekonomi dan menjadi ibu rumah tangga saja, yang mana mereka merasa hidup tenang.

“Di Era Orde Baru (ORBA) khususnya kaum etnis WNI keturunan Tionghoa terbelenggu oleh politik diskriminasi, yaitu mereka diperlakukan diskriminasi sebagai etnis minoritas, dan karena mereka adalah perempuan, serta khususnya yang berdomisili di kota besar, mereka selalu jadi target kerusuhan massa dan berbagai tindak kejahatan (pemerkosaan dan lain lain, seperti peristiwa 12 – 13 Mei 1998 di Jakarta - red)”, ungkap Kho Susanti.

Menurut Susanti,salah satu event politik yang banyak melibatkan perempuan termasuk didalamnya adalah Etnis Perempuan Tionghoa di Indonesia, bahwa sebagaimana diketahui keberhasilan pelaksanaan Pemilu adalah ditentukannya oleh partisipasi memilih kaum perempuan. Dengan adanya Reformasi Politik sejak Mei 1998, format politik berubah ke arah yang lebih demokrasi yang dapat membawa pencerahan bagi etnis minoritas untuk berkiprah dalam dunia politik.

“Pencerahan itu jika dicermati dimulai pada masa pemerintahan Gus Dur yaitu dicabutnya Inpres No.14/1967, yang melarang upacara agama, kepercayaan, adat istiadat Etnis Tionghoa, secara terbuka. Diganti dengan Keppres No. 6/2000. Kemudian 2 tahun,Megawati mengeluarkan Keppres No. 191/2002, yaitu menetapkan Hari Raya Imlek menjadi hari libur Nasional”,ujar Susanti.

Hal yang lebih menggembirakan lagi lanjut Susanti,adalah dikeluarkannya kebijakan pada 11 Juli 2006 untuk mengakhiri  diskriminasi terhadap Etnis Tionghoa di Indonesia. Penghapusan diskriminasi ini tentunya mengacu pada UUD 1945 pasal 27 ayat 1 yang menganut prinsip non diskriminasi.

“Dengan adanya ketiga momentum diatas dan saat ini sudah cukup banyak Etnis Tionghoa berkiprah di dunia politik, maka sudah sepantasnya kita merubah mind set kita, agar kita sebagai perempuan Etnis Tionghoa tidak perlu lagi takut, alergi, dan apatis terhadap dunia politik. Marilah kita memasuki dunia politik, karena dengan keterwakilan perempuan Etnis Tionghoa di lembaga legislatif, maka kita dapat ikut serta berjuang untuk membuat suatu kebijakan kebijakan yang dapat memperjuangkan hak hak kita sebagai perempuan dan sebagai Etnis Minoritas, serta bisa berbuat apapun yang dapat dilakukan oleh kita sebagai wakil rakyat”, tegas Susanti.

Kemudian lanjut Susanti, bahwa dengan duduknya perempuan di legislatif, maka perempuan Etnis Tionghoa Ketapang, terbukti tidak hanya pandai bersolek, memasak, mengurus rumah tangga saja atau lain lainnya.

“Bahwa kita juga bisa meningkatkan pemberdayaan perempuan disegala bidang, baik dibidang ekonomi, pendidikan, agama, kebudayaan , sosial dan lain lainnya, agar kita kaum perempuan dapat setara dengan pria, dan juga agar dapat bersaing secara positif dengan pria”, pungkas Kho Susanti.***(Halim Anwar/LKBK65).

Gambar: Kho Susanti,SE,Tokoh Perempuan Etnis Tionghoa Ketapang.***(Ist).
_______

“MENGUTIP SEBAGIAN ATAU SELURUH ISI PORTAL INI HARUS SEIZIN REDAKSI. HAK CIPTA DILINDUNGI UNDANG-UNDANG”
______
Share this post :

Post a Comment