MALUKU-Kabupaten Buru Selatan (BurSel)
adalah kabupaten yang boleh dikatakan baru 'seumur jagung.' Jika dibandingkan
secara umum dengan Kabupaten lainnya di Indonesia. Dan, dibandingkan secara
khususnya di Maluku maka Kabupaten BurSel tergolong masih muda belia. Tetapi,
saat ini kita tidak bisa melihat Kabupaten BurSel yang berada dalam wilayah
Provinsi Maluku dengan sebelah mata. Apalagi, hanya dengan menggunakan tolak
ukur usia Kabupaten tersebut sebagai barometer keberhasilannya. Karena, usia
tua suatu Kabupaten bukanlah suatu jaminan keberhasilan. Dan, usia muda suatu
Kabupaten bukan berarti tidak memungkinkan untuk bisa berkembang melebihi
Kabupaten yang berusia lebih tua. Semua ini tergantung kepada kegigihan dan
kesungguhan serta komitmen pemimpin daerah tersebut. Dan, dalam hal ini Bupati
mempunyai peranan yang sangat penting untuk melakukan perubahan demi kemajuan
Kabupaten tersebut.
Hal itu disampaikan
Arnold Thenu, Ketua Forum Masyarakat Maluku (FORMAMA) melalui Siaran Persnya
kepada Portal LKBK65.com, Senin (26/12/2016) sore.
“Dahulu,masyarakat Maluku sendiri
tidak banyak mengetahui tentang daerah tersebut (BurSel). Mungkin,daerah itu di
anggap sebagai daerah tertinggal yang tidak menarik perhatian.Tetapi,sekarang
justru menjadi menarik untuk diperhatikan sejak menjadi Kabupaten. Dan, daya
tarik tersebut tidak dapat kita pungkiri berkaitan dengan keberhasilan dari
kerja keras Tagop Soulisa sebagai Bupati BurSel. Perlahan tapi pasti Bupati
BurSel telah melakukan perubahan demi perubahan secara nyata sekalipun dengan
anggaran belanja yang tidak spektakuler;”kata Arnold Thenu.
Selanjutnya kata Arnold,bahwa menurut
keterangan anggotanya (FORMAMA-red) yang berasal dari BurSel; tingkat
kemiskinan di Kabupaten BurSel yang awalnya dapat dikatagorikan dibawah
standart. Sekarang, telah berangsur-angsur membaik seiring dengan berjalannya
waktu. Itu artinya ada suatu peningkatan taraf hidup di BurSel. Tetapi,kata
Arnold, ironisnya Provinsi Maluku di bawah kepemimpinan Said Assagaff sebagai
Gubernur tidak mampu membuat peningkatan taraf hidup masyarakat di Maluku pada
umumnya. Sehingga membuat Provinsi Maluku bertengger di posisi ke 4 sebagai
Provinsi termiskin di Indonesia. Dan, ini adalah signal negatif dari suatu
kegagalan mengelola suatu pemerintahan yang tidak berorientasi kepada
kepentingan rakyat sebagai prioritasnya.
“Dahulu,jika kita dari Ambon (Ibu Kota
Provinsi Maluku) ingin pergi menuju Namrole (Ibu Kota Kabupaten BurSel) harus
siap membuang banyak waktu menempuh jalur laut agar bisa sampai kesana. Karena,
keterbatasan sarana transportasi lainnya. Tetapi, saat ini kita bisa
menggunakan transportasi udara (pesawat) ke Namrole pada setiap harinya sebagai
salah satu pilihan yang efektif tanpa harus membuang banyak waktu. Ini bisa
kita indentifikasikan sebagai salah satu unsur adanya pertumbuhan ekonomi di
BurSel yang telah mencapai target tertentu. Karena, tidak mungkin suatu
maskapai penerbangan membuka line penerbangan dari Ambon ke Namrole pada setiap
harinya tanpa pertimbangan alasan yang obyektif”,ungkap Arnold Thenu, Ketua Forum
Masyarakat Maluku (FORMAMA).
Dalamkepemimpinan daerah (Bupati/Gubernur),ujar Arnold,bahwa kita tidak bisa hanya
sekedar berbicara soal pertumbuhan ekonomi dan pembangunan infrakstruktur saja.
Karena, jabatan tersebut tidak bisa kita lepaskan dari unsur politik. Sehingga
tidak bisa disalahkan jika jabatan tersebut dikatakan sebagai jabatan politik. Dan,
kebijakan politik serta hubungan setiap element yang ada akan mempengaruhi
harmonisasi suatu kemajuan yang ingin di capai oleh seorang pemimpin daerah.
Dalam hal ini, Gubernur harus belajar juga dari Bupati Bupati BurSel. Dimana
Bupati BurSel senantiasa berusaha merangkul dan membangun komunikasi yang baik
dengan semua element termasuk partai-partai politik.
“Sekalipun ada kerikil-kerikil kecil dalam
menjalankan kebijakan roda pemerintahannya. Bupati BurSel, tidak pernah
menjadikan hal tersebut sebagai suatu alasan untuk menjauhkan diri apalagi
memusuhi pihak-pihak yang berseberangan. Karena, idealnya sebagai pemimpin
harus mampu mengayomi seluruh kekuatan yang ada termasuk partai politik tanpa
tebang pilih. Ini tentu berbeda dengan rumours yang berkembang, dimana Gubernur
Maluku yang di usung oleh Partai Golkar hanya menganakemaskan Partai Keadilan
Sejahtera (PKS). Jika rumours ini adalah fakta, maka menjadi wajar bila
Gubernur Maluku akan mengalami kesulitan untuk mengelola stabilitas politik
guna menopang prestasi dalam masa kepemimpinannya yang minim prestasi seperti
sekarang ini”,kata Arnold.
Kemudian lanjut Arnold Thenu,bahwa dimasa jabatan Gubernur yang tinggal seumur jagung,
diharapkan Gubernur jangan hanya bisa melihat ke atas. Tetapi, mau melihat
kebawah agar bisa mengetahui suatu kenyataan yang terjadi di sekitarnya. Dan,
Gubernur tidak perlu belajar jauh-jauh membandingkan perihal kemajuan suatu
Provinsi di dalam atau di luar negeri jika ada contoh baik di sekitarnya untuk
dijadikan panutan.
“Gubernur Maluku harus banyak belajar kepada siapa saja; baik itu kepada
orang yang lebih tua ataupun orang yang lebih muda sekalipun. Karena, semua
tempat dan waktu serta setiap kesempatan adalah sekolah untuk kita semua
belajar. Jadi, Gubernur Maluku tidak perlu malu untuk menimba ilmu dari jajaran
dibawahnya. Termasuk belajar dari keberhasilan Bupati BurSel demi kemajuan
masyarakat Maluku pada khususnya dan bagi Provinsi Maluku pada umumnya di
penghujung masa jabatannya sebagai Gubernur”,pungkas Arnold Thenu, Ketua Forum
Masyarakat Maluku (FORMAMA).***(Halim
Anwar/LKBK65).
Gambar: Bupati Buru Selatan, Tagop Soulisa
(kiri) sebagai nara sumber Executive Business Forum & Matching About
Investation & Local Economic, belum lama ini.***(Ist).
____
“MENGUTIP SEBAGIAN ATAU
SELURUH ISI PORTAL INI HARUS SEIZIN REDAKSI. HAK CIPTA DILINDUNGI
UNDANG-UNDANG”
___

Post a Comment