Pekerjaan terbanyak
saya selama tiga hari Lebaran tahun ini adalah: membalas SMS. Karena banyak
tamu, balasan itu baru bisa saya lakukan di malam hari atau dini hari
menjelang/setelah subuh. Tidak sopan sibuk membalas SMS di tengah-tengah
silaturahmi. Apalagi, SMS itu datangnya seperti air bah. Belum selesai membalas
yang satu, sudah datang puluhan yang baru.
"SMS Minal
Aidin" itu sudah mulai bermunculan sehari sebelum Lebaran. Pengirim
pertama adalah Prof Dr Puruhito, ahli jantung Surabaya yang pernah jadi rektor
Unair tahun "80-an. Setelah itu tidak henti-hentinya SMS mengalir deras
hingga hari kedua Lebaran kemarin. Dari para pemain Persebaya/Mitra, para
wartawan/karyawan Jawa Pos Group, dari para karyawan BUMD Jatim, karyawan PLN,
dari teman-teman BUMN, para Dahlanis, dari politisi, masyarakat barongsai, dari
paguyuban Tionghoa, dan banyak lagi. Sabang sampai Merauke.
Tentu saya bisa
membedakan mana SMS yang ditulis khusus untuk saya dan mana "SMS
kodian" atau "SMS konfeksi": ditulis sekali untuk semua orang.
Ada juga SMS yang isinya untuk semua orang, tapi dimodifikasi sedikit di awal
atau di akhirnya. Tidak sedikit juga SMS yang isinya, kalimatnya, dan bahasanya
sangat indah dan puitis. Tapi, saya sulit membedakan mana yang asli bikinan
sendiri dan mana yang kopi dari orang lain. Mula-mula saya puji isi SMS indah
seperti itu. Tapi, begitu SMS berikutnya isinya sama, saya sulit yang mana yang
seharusnya saya puji.
Mula-mula saya
bermaksud tidak membalas SMS yang dikirim secara kodian seperti itu. Saya agak
ragu apakah pengirimnya benar-benar mengirimkan SMS itu dengan hati. Tapi,
akhirnya saya putuskan saya balas: dari keluarga, teman kecil, rekan kerja,
termasuk dari teman-teman yang belakangan sering mendemo atau menyerang saya.
Sebagai orang yang
tidak suka dengan "SMS paketan", tentu saya tidak melakukan hal yang
sama. Senjata pun makan tuan. Saya harus menjawab satu per satu ribuan SMS itu
dengan tangan saya sendiri. Benar-benar satu per satu. Seperti juga dengan
Twitter, saya tidak mau pakai admin untuk SMS Lebaran ini. Dengan satu per satu
membalas sendiri SMS itu, rasanya saya seperti bisa bersalaman sendiri dengan
orang itu sambil menatap matanya.
Tidak lelah? Tidak.
Saya sudah sangat terbiasa dengan gadget ini. Menulis naskah artikel pun sudah
biasa saya lakukan dengan alat ini. Tidak pernah lagi nulis artikel di laptop.
Hanya, saya tidak bisa membalas SMS itu seketika SMS itu tiba. Begitu banjirnya
SMS di hari pertama Lebaran, hanya sebagian yang bisa saya balas hari itu juga.
Sisanya saya cicil di malam kedua dan ketiga.
Alhamdulillah, hari
ketiga kemarin, jam 14.00, ketika tamu sudah berkurang, saya bisa menuntaskan
membalas semua SMS yang masuk. SMS terakhir datang dari Mendikbud Pak Nuh.
"Saya sengaja mengirim SMS ini di hari ketiga Lebaran untuk menunggu
berkurangnya trafik SMS," tulis Pak Nuh di akhir SMS Lebarannya. Manajemen
yang baik.
Mengingat semua
balasan itu saya ketik sendiri, tidak ada SMS dari saya yang panjang. Paling
begini: Prof Endin, lahir batin juga ya. Hampura kuring. Itu untuk Prof Endin,
tokoh Sunda. Atau balasan untuk rektor UGM ini: "Prof Pratik, sugeng
riyadi ya. Nyuwun gunging pangaksami". Atau untuk tokoh pengusaha Tionghoa
ini: "Xie xie, Pak Prajogo. Bao zhong". Atau untuk teman Kristen ini:
"Thanks. Tuhan memberkati Pak Vincent selalu". Dan sebangsanya.
Sangat pendek. Memang
banyak yang nadanya sama, tapi semua saya ketik lagi sendiri. Untuk kalimat
pendek seperti itu, mengopi toh lebih lama daripada mengetik yang baru. Dan itu
tadi, saya merasa seperti salaman sendiri dengan tiap orang.
Tentu ada juga yang
tidak bisa saya balas. Jumlahnya lumayan. Yakni SMS yang tidak menyebut nama
pengirimnya. Mungkin mereka mengira saya tahu siapa dia. Mungkin dulu namanya
memang ada dalam daftar di BB saya. Namun, karena nama itu hilang saat terjadi
kerusakan BB, jadinya saya tidak tahu lagi siapa dia.
Yang juga sulit adalah
SMS yang hanya menyebut nama pengirimnya Didik, Dadik, Bambang, Ahmad, Supri,
dan sebagainya. Saya sulit mengira-ngira Didik yang mana ya" Atau Bambang
yang mana ya" Apalagi kalau isi SMS-nya berupa "SMS konfeksi".
Saya tidak bisa menangkap getaran bahasa dari Didik yang mana atau Bambang yang
mana.
Untuk SMS yang tidak
terjawab seperti itu, saya mengucapkan, "Minal aidin wal faizin, mohon
maaf lahir batin." (*)
Dahlan Iskan
Menteri BUMN

Post a Comment