Oleh :
Dr.H.Susilo Bambang Yudhoyono
Saya dan istri sering mendengar kata-kata yang membuat hati kami sedih.
Keluarga besar kami sering merasa menjadi susah, atau dicurigai, karena tahu
mereka adalah keluarga SBY. Keluhan yang pernah saya dengar kurang lebih seperti
ini:
"Kita ini jadi saudaranya presiden kok malah susah. Apa-apa dicurigai. Di
zaman dulu, jadi saudara presiden sepertinya sering mendapatkan perlakuan yang
baik. Meskipun saya tahu bahwa zaman telah berubah, dan tak bisa begitu lagi,
tapi... jangan kita-kita ini malah menjadi sasaran tembak dan diperlakukan
dengan tidak baik".
Ada juga keluhan yang datang dari sejumlah teman saya. Misalnya seperti ini:
"Saya ini dari dulu bergerak di bidang bisnis. Jauh sebelum kenal dengan
Pak SBY. Hubungan kami juga tidak istimewa. Saya mengidolakan SBY sewaktu ia
tampil luar biasa pada saat reformasi dulu. Dengan kesantunan dan komunikasi
politiknya, ia bisa menjelaskan kepada rakyat bahwa ABRI yang dihujat
habis-habisan tidak sejahat yang kerap dituduhkan oleh sejumlah orang. Itulah
sejarahnya mengapa saya kenal dengan SBY. Tidak ada hubungan bisnis saya. Tapi,
justru setiap usaha bisnis yang saya jalankan dicurigai. Katanya ini bisnisnya
Pak SBY. Malah kadang-kadang dipersulit oleh mereka yang tidak senang dengan
presiden kita."
Atau, cerita kesedihan yang dialami oleh anak menantu saya, Annisa. Hal ini
diutarakan ketika ayahnya bersama sekian banyak mantan pejabat teras Bank
Indonesia sedang berurusan dengan KPK. Dengan nada sedih dan sulit mengerti
Annisa mengatakan:
"Pa, mengapa sepertinya Ayah yang terus jadi bulan-bulanan. Sepertinya
Ayah pula yang paling bersalah dan paling bertanggung jawab. Kami sekeluarga
sungguh menderita dengan apa yang disampaikan oleh pers dan media kita.
Sementara yang lain sedikit sekali jadi bahan pemberitaan. Apa begini ini adil,
Pa?"
Annisa memanggil Pak Pohan dengan kata "Ayah", dan kepada saya dengan
sebutan Papa.
Begitulah yang terjadi. Begitulah yang saya alami bersama keluarga selama
bertahun-tahun ini. Sepertinya, hampir semua anggota keluarga sudah kena. Baik
kena fitnah, kena serangan maupun pergunjingan.
Pertama tentang istri sendiri, Ibu Ani. Diisukan Ibu Ani memiliki hubungan
dengan kalangan bisnis termasuk BUMN. Diisukan ia memiliki dan menjalankan
sejumlah bisnis. Diisukan pula ia ikut campur dan menentukan jabatan-jabatan
tertentu. Saya harus mengatakan semuanya itu "nol besar". Alias tidak
benar.
Ketika Ibu Ani bertanya kepada saya sebenarnya apa yang harus diperankan
sebagai Ibu Negara, seminggu setelah saya dilantik sebagai Presiden, saya
berikan arahan dengan jelas dan tegas. Saya katakan, yang mesti dilakukan
adalah membangun suasana kekeluargaan di antara istri menteri, atau istri
anggota kabinet. Paguyuban para istri anggota kabinet yang selanjutnya disebut
SIKIB itu, saya harap juga aktif membantu pemerintah, dan juga bekerja sama
dengan pihak-pihak lain untuk sebuah misi pendidikan, sosial, kesehatan, dan
lingkungan hidup. Sedangkan yang tidak boleh dilakukan adalah kegiatan bisnis.
Baik secara pribadi maupun dalam hubungan SIKIB. SIKIB pun tidak boleh memasuki
wilayah politik praktis yang sifatnya partisan.
Di penghujung tahun 2013 ini Ibu Ani juga mendapatkan serangan dan pergunjingan
baru. Dipicu oleh artikel yang dimuat di sebuah surat kabar Australia, yang
sepertinya ingin melakukan pembenaran mengapa dalam penyadapan yang dilakukan
oleh pihak Australia, yang mencederai persahabatan dan hubungan baik ke dua
negara, telepon genggam Ibu Ani juga ikut disadap. Artikel itu juga sebenarnya
tidak luar biasa. Saya pikir tujuannya adalah untuk mengatakan penyadapan itu
berangkat dari asumsi bahwa Ibu Ani memiliki peran yang penting dalam dunia
perpolitikan di Indonesia.
Setelah melakukan penyadapan selama dua minggu itu, saya yakin Australia tidak
mendapatkan apa-apa. Tidak mendapatkan sesuatu yang bisa membenarkan asumsinya.
Mestinya, kalau Australia fair bisa menjelaskan setelah melakukan
penyadapan itu benarkah Ibu Ani memiliki peran yang menentukan di dunia politik
Indonesia? ikut mengurusi pemerintahan misalnya? Namun, intinya tidak di
situ. Pihak-pihak di tanah air sengaja melepas butir tentang dugaan peran Ibu
Ani itu lepas dari konteks dan makna yang sesungguhnya. Ceritanya jadi ke
mana-mana. Seperti biasanya. Semuanya bertentangan dengan fakta dan kebenaran.
Kemudian anak pertama saya, Agus Harimurti Yudhoyono, yang kini berpangkat
Mayor Infanteri Angkatan Darat dan berdinas di jajaran Satuan Lintas Udara
Kostrad, juga beberapa kali mendapatkan fitnah. Fitnah pertama yang ia alami
adalah ketika ia diisukan menerima pemberian mobil jaguar dari seorang
pengusaha. Yang mengisukan saudara Eggi Sudjana, yang sebenarnya juga sahabat
saya. Dalam persidangan, tuduhan itu sama sekali tidak terbukti, dan kemudian
majelis hakim menyatakan yang bersangkutan bersalah. Atas permintaan ayahanda
Bung Eggi Sudjana, saya dengan ikhlas memberikan maaf, yang saya tujukan kepada
majelis hakim. Peristiwa itu meskipun terasa menyakitkan, tetapi sudah saya
anggap selesai. Saya tidak ingin menyimpan suasana permusuhan dengan Eggi
Sudjana.
Disamping itu, Agus juga pernah mendapatkan fitnah yang lain. Ketika ia sedang
bertugas di Lebanon, sebagai bagian dari Pasukan Perdamaian PBB, tiba-tiba
tiada angin tiada hujan, Agus diberitakan melakukan desersi alias meninggalkan
tugas tanpa izin. Sebenarnya asal dari fitnah yang segera beredar luas itu amat
sederhana. Pak Jusuf Kalla, Wakil Presiden waktu itu, sedang melaksanakan
ibadah umroh di Tanah Suci. Singkat kata beliau bertemu dengan sejumlah perwira
dari kontingen di Indonesia yang bertugas ke Lebanon yang juga sedang beribadah
umroh. Pak Jusuf Kalla menanyakan apakah Agus ada dalam rombongan itu, kemudian
dijawab tidak ikut. Pak Jusuf Kalla bertanya seperti itu tidak ada maksud
jelek, justru menunjukkan perhatian yang baik kepada keluarga saya. Memang kami
saling memelihara hubungan antarkeluarga. Misalnya, saya sering pula bertanya
tentang kabar Solihin, salah satu putra beliau.
Konon, ketidakadaan Agus dalam rombongan umroh itu diisukan sebagai Agus
meninggalkan tugasnya. Demikian cepat beredarnya berita itu sampai-sampai pihak
TNI harus memberikan penjelasan bahwa Agus dan sejumlah temannya sedang
melaksanakan cuti, dan memang tidak ikut umroh. Cuti bagi anggota Pasukan
Pemelihara Perdamaian PBB itu termasuk wajib, dan harus diambil. Biasanya
setiap 3-4 bulan ada cuti selama 3 sampai 4 hari. Saya pun dulu ketika bertugas
di Bosnia, sebagai Komandan Pengamat Militer PBB, juga mengalami hal yang sama.
Akhir tahun 2012, ada acara seminar yang menampilkan tokoh-tokoh muda dari berbagai
kalangan dan profesi. Agus juga dihadirkan sebagai salah satu pembicara. Konon
acara seminar itu berlangsung dengan baik. Pandangan para pembicara, termasuk
Mayor Agus, dinilai baik oleh para peserta seminar itu. Tak lama kemudian di
media sosial muncul komentar negatif, yang kurang lebih isinya begini:
"Enak sekali baru dinas dua tahun sudah jadi mayor", sebuah komentar
untuk membangkitkan ketidaksenangan dan kebencian rakyat kepada Agus, yang
sesungguhnya juga kepada saya. Untung ada satu senior Agus yang lulus dari
Akmil, yang membaca komentar miring di media sosial itu, dan kemudian
membalasnya:
"Mayor Agus Harimurti Yudhoyono lulus Akmil tahun 2000. Sudah berdinas 12
tahun. Bukan baru dua tahun. Teman-temannya yang satu angkatan juga sudah menjadi
mayor semua."
Istri Agus, Annisa, juga tidak luput dari fitnah. Diberitakan Annisa berbisnis
dan memiliki saham di industri kerajinan batik dan jasa fashion yang
bernama Alleira. Yang benar adalah Annisa, bahkan kadang-kadang Aira, beberapa
kali dijadikan model oleh Alleira dalam rangka mempromosikan produk-produknya.
Untuk diketahui, sebelum menjadi istri Agus, Annisa berprofesi sebagai
presenter di sebuah stasiun televisi, dan sekali-sekali juga menjadi foto model
untuk produk-produk tertentu.
Sementara itu, anak kedua saya Edhie Baskoro Yudhoyono, yang akrab dipanggil
Ibas, juga tidak luput dari pergunjingan dan fitnah. Karena ia seorang anggota
DPR, sekaligus Sekretaris Jenderal Partai Demokrat, fitnah yang didapatkan juga
tidak tanggung-tanggung. Antara lain Ibas pernah diisukan menerima aliran dana
sebesar 500 miliar rupiah dari Bank Century, bersama sejumlah pihak yang dalam
Pemilu tahun 2009 menjadi tim sukses saya. Dalam kaitan ini saya kira publik
mengetahui bahwa terhadap fitnah yang dikatakan ada aliran dana lebih dari 6
triliiun rupiah dari Bank Century kepada kelompok Tim Sukses SBY itu telah
terbantahkan oleh sidang pengadilan. Pihak-pihak yang menyebarluaskan berita
tidak benar itu kepada masyarakat luas juga sudah mendapatkan sanksi hukuman.
Isu lain yang dituduhkan kepada Ibas juga dianggap berkaitan dengan uang.
Diembuskan berita bahwa Ibas menerima dana dari Nazaruddin, mantan kader Partai
Demokrat, yang sebenarnya akibat kesalahan yang bersangkutan telah dijatuhi
hukuman oleh KPK. Terhadap fitnah yang tiba-tiba berkembang itu adalah
Nazaruddin sendiri yang telah membantahnya, dan tidak benar kalau ia pernah
memberikan dana kepada Ibas. Saya diberi tahu oleh sejumlah orang yang dekat
dengan Nazaruddin, bahwa dia dibujuk untuk mengatakan bahwa Ibas terima aliran
dana Hambalang. Nazaruddin juga diminta untuk membenarkan apa saja yang akan
dikatakan oleh seorang yang tengah dijadikan tersangka oleh KPK karena tuduhan
korupsi, dengan imbalan dana yang amat besar.
Ada sejumlah saksi yang mendampingi saya ketika pihak-pihak itu menyampaikan
informasinya kepada saya. Dia datang atas kemauannya sendiri, karena katanya
hatinya terusik mengetahui adanya rencana gerakan yang tidak baik dan
membahayakan. Sementara itu, seseorang yang lain juga mengatakan kepada saya
bahwa sejak awal Nazaruddin tidak pernah mengatakan bahwa Ibas terima uang
darinya. Nama orang-orang itu saya simpan baik-baik, untuk kebaikan mereka.
Tentu, apabila sangat diperlukan akan saya buka ke publik.
Masih menyangkut Ibas, ada yang sangat mengganggu pikiran Aliya, istri Ibas.
Pada hari-hari pernikahan Ibas dan Aliya bulan November 2011, muncul
pergunjingan seputar pernikahan mereka. Aliya bahkan sempat menangis dan
mengadu kepada ibundanya, Ibu Okke Hatta Rajasa, besan saya.
"Aliya sakit hati, karena diberitakan perkawinan saya dengan Mas Ibas ini
adalah perkawinan politik. Padahal, kami benar-benar saling menyayangi."
Ibu Okke tentu memberi nasihat untuk sabar. Saya mengerti bahwa tampaknya Aliya
belum siap secara mental, karena baru beberapa hari menjadi bagian dari
keluarga besar SBY. Ibas dan Aliya telah saling mengenal sejak tahun 2007,
empat tahun sebelum akhirnya memutuskan untuk menikah. Meskipun ayahanda Aliya
adalah seorang menteri dan juga pimpinan sebuah partai politik, tentu tidak ada
kaitannya sama sekali dengan politik. Memang menyakitkan jika perkawinan mereka
itu dikatakan sebagai perkawinan politik.
Sampai sekarang pun hubungan saya dengan Menko Perekonomian Hatta Rajasa dalam
urusan pemerintahan adalah hubungan yang profesional. Tidak kami campuradukkan
dengan urusan keluarga. Jauh sebelum Pak Hatta menjadi besan saya, saya
mengenalnya sebagai seorang pekerja keras dan gigih dalam melaksanakan
tugas-tugasnya. Menghadapi persoalan apa pun selalu datang dengan solusi dan
jalan keluar yang ditawarkan. Saya mengenang, di hari-hari yang berat beberapa
menteri menghabiskan waktu bersama saya. Berhari-hari. Mencari akal bagi
penyelesaian masalah yang pelik. Pak Hatta dalam banyak hal ada di barisan itu.
Tampaknya, disamping saya, Ibas lah yang paling sering dihujani fitnah dan
pergunjingan. Seperti tak ada habis-habisnya. Istri saya sering menitikkan air
matanya mendengar betapa tiada hari tanpa fitnah bagi Ibas. Saya minta Ibu Ani,
dan tentunya juga berlaku bagi saya, bisa tetap kuat menghadapi ujian dan
cobaan ini. Kami mohonkan pula agar Ibas mendapatkan kemuliaan di kemudian
hari, karena bertahun-tahun harus menderita dan menanggung beban yang selalu
berat. Namanya pun terus-menerus dicemarkan.
Di hari tahun baru islam, 1 Muharram 1435 Hijriyah, Ibas kembali menerima
fitnah yang jahat. Ia dihajar di media sosial, termasuk dibikin karikaturnya,
yang mengatakan bahwa Ibas tidak pernah menggunakan baju lengan pendek karena
tangannya penuh tato. Dikatakan pula ada gambar salib di lengannya. bahkan
lebih kejam lagi, diberitakan tangan Ibas penuh dengan goresan silet,
menggambarkan bahwa ia mengonsumsi narkoba. Mungkin saya sudah kehabisan
kata-kata untuk mengatakan bahwa berita itu bohong besar dan juga fitnah yang kejam.
Terus terang, selama ini Ibas lebih nyaman menggunakan baju lengan panjang
karena ia menyadari badannya kurus. Seperti halnya masa muda saya dulu yang
juga relatif kurus. Itu saja. Dalam kesedihan Ibas dan Aliya, secara emosional
mereka berucap dan juga "menantang" kepada juru fitnah itu.
Bagi yang sangat ingin membuktikan bahwa lengan Ibas bersih dari tuduhan itu,
ia bisa datang untuk membuktikannya. Dengan catatan jika fitnahnya tidak
terbukti, ia harus meminta maaf ke seluruh media massa di Indonesia, termasuk
media sosial. Mendengar itu saya tenangkan hatinya. Sabar. Allah Maha Pengasih,
Maha Penyayang, dan Mahaadil. Lagi pula, manusia yang sering memfitnah itu
disamping tidak beriman dan tidak bermoral, dia juga seorang pengecut. Tidak
kesatria. Tidak mungkin ia berani datang untuk berhadapan langsung.
Pada tanggal 9 Desember 2013 lalu, bertepatan dengan Hari Anti Korupsi Sedunia,
Ibas dan keluarga saya kembali dihajar. Di Jakarta ada sejumlah spanduk gelap
yang dipasang di beberapa tempat yang intinya agar KPK segera
"menangkap" Ibas karena dianggap terlibat dalam kasus Hambalang. Saya
mengikuti pemberitaan bahwa akibat gencarnya pihak-pihak tertentu yang menekan
KPK agar Ibas diperiksa, pemimpin KPK sendiri Pak Abraham Samad terpaksa memberikan
penjelasan dan klarifikasi. Intinya, tidak ada alasan hukum dan bukti permulaan
apa pun bagi KPK untuk memanggil dan memeriksa Ibas.
Memang sudah cukup lama saya mendengar dari pihak-pihak yang selama ini bisa
dipercaya ucapannya bahwa ada gerakan untuk "salah tidak salah" Ibas
harus diperiksa oleh KPK. Panggil dan periksa dulu, hasilnya urusan belakang.
Konon, upaya ini juga sudah menerobos ke elemen tertentu di KPK. Tentu saja
saya sangat meragukan kebenaran berita ini yang menggambarkan seolah ada elemen
dalam tubuh KPK yang ikut "bermain". Saya sangat tidak percaya. Hal
begini bisa mengadu domba antara saya dengan KPK. Sementara itu ada pula yang
mengatakan bahwa Ibas sangat bisa dijebak, agar ada pintu masuk untuk
memperkarakannya. Alasannya, panggil saja Ibas oleh KPK, misalnya menjadi saksi
siapa pun dan untuk kasus apa pun, maka runtuhlah sudah kewibawaan saya sebagai
Presiden.
Momentum seperti ini akan dieksploitasi untuk sekaligus menghabisi Partai
Demokrat hingga benar-benar lenyap dari peredaran. Mendengar berita seperti ini
saya sungguh prihatin. Kalau hal ini benar, politik kita telah memasuki era
hitam dan gelap. Persis seperti apa yang ada dalam cerita-cerita film.
Mudah-mudahan kita bisa mencegah dan menghentikan perilaku politik apa pun, yang
hanya akan menghancurkan demokrasi yang berkeadaban, yang dengan sangat serius
tengah kita bangun di negeri ini.
Ada juga fenomena yang menarik, yang barangkali luput dari perhatian
masyarakat. Jika ada kader partai tertentu yang kena jerat KPK, tiba-tiba saya,
keluarga saya, dan Partai Demokrat segera kena serangan baru. Ada saja tema
serangannya. Yang konspirasi SBY-lah, yang intervensi politik kekuasaan-lah,
yang Cikeas juga harus diperiksalah, dan lain-lain. Untuk kesekian kalinya saya
katakan kalau seorang SBY bisa mengatur dan mengendalikan KPK, mana mungkin
sejumlah kader PD meringkuk dalam tahanan KPK. Sesuatu yang membikin
elektabilitas Partai Demokrat merosot. Sesuatu yang oleh masyarakat Partai
Demokrat dianggap partai yang paling korup.
Kalau saya boleh menambahkan satu hal menyangkut data dan fakta korupsi yang
dilakukan oleh politisi, apakah pejabat eksekutif ataupun legislatif, serta
baik pusat maupun daerah, maka fakta menunjukkan bahwa Partai Demokrat tidak
berada pada peringkat pertama. Artinya bukan yang paling korup. Dari sebuah
sumber yang dapat dipercaya, setelah dilakukan pendataan secara komprehensif
dari data yang ada di KPK, Kepolisian dan Kejaksaan, antara tahun 2004 hingga
tahun 2013, persepsi banyak pihak bahwa Partai Demokrat adalah partai yang
paling korup nyata-nyata tidak benar.
Rincian ringkas dari data korupsi yang ditangani oleh Kepolisian dan Kejaksaan
berdasarkan partai politik darimana pejabat yang bersangkutan berasal didapat
keterangan bahwa Partai Demokrat berada pada urutan ketiga dengan persentase
9,9 persen. Di atas Partai Demokrat, berarti lebih banyak kader yang partainya
melakukan korupsi berturut-turut pada angka 43,56 persen dan 25,74 persen.
Tentu jauh di atas, atau jauh lebih buruk, dibandingkan Partai Demokrat.
Khusus dengan kasus korupsi yang ditangani oleh KPK, data yang dihimpun hingga
tahun 2013, Partai Demokrat berada pada urutan ketiga (15,45 persen). Untuk
diketahui, dua parpol yang lebih buruk dibandingkan Partai Demokrat jumlah
kadernya yang terlibat korupsi berturut-turut adalah 36,36 persen dan 24,55
persen.
Sebenarnya saya tidak suka menjelaskan hal seperti ini. Mestinya kita marah dan
sedih karena masih ada saja kasus-kasus korupsi. Tetapi, secara moral saya
wajib menjelaskan fakta dan data yang benar. Agar segala sesuatunya menjadi
adil. Sebagai pemimpin Partai Demokrat, saya juga marah dan tidak suka melihat
kenyataan ada sejumlah kader yang terlibat korupsi. Tetapi, jika dipersepsikan
secara luas oleh rakyat kita bahwa Partai Demokrat-lah yang kadernya paling
banyak korupsi, tentu saja saya tidak bisa menerimanya. Disamping tidak adil,
juga merusak nilai-nilai kebenaran.
Saya ingin kembali pada topik utama yaitu betapa keluarga saya sering menjadi
korban fitnah dan pergunjingan.
Besan saya, Pak Auliya Pohan, yang pada saat sedang berurusan dengan KPK juga
mendapatkan pemberitaan yang tendensius dan berlebihan dari pers kita,
tampaknya harus mendapatkan fitnah dan serangan baru. Tiba-tiba, di akhir tahun
2011, Pak Pohan diisukan pergi ke luar negeri dan ditangkap di Prancis karena
terlibat dalam kegiatan pencucian uang (money laundering) yang juga
dikategorikan sebagai bentuk kejahatan. Tidak hanya itu, sang juru fitnah juga
amat kreatif dengan mengatakan bahwa ketika saya menghadiri Pertemuan Puncak
G-20 yang dilaksanakan di Cannes, Prancis, saya menyempatkan untuk melakukan
pertemuan bilateral dengan Presiden Nicolas Sarkozy, dengan tujuan untuk
memintakan pembebasan Pak Aulia Pohan tersebut. Sungguh luar biasa kebohongan
yang diedarkan ke masyarakat luas itu.***
Pertama, pada bulan itu Pak Pohan tidak pernah ke Eropa, dan bahkan aktif dalam
perhelatan pernikahan Ibas dengan Aliya. Tanggal yang diberitakan ia berada di
Prancis itu, justru sedang sibuk membantu acara pernikahan Ibas tersebut. Yang,
kedua, amat tidak masuk di akal jika saya berbicara dengan Presiden Sarkozy
untuk urusan begitu, andaikata kejadian itu benar-benar ada. Apalagi peristiwa
itu tidak pernah ada alias "dongeng". Kebetulan, dalam G-20 Summit
yang diselenggarakan di Cannes itu juga tidak ada pertemuan bilateral saya
dengan Presiden Sarkozy. Luar biasa. Lengkap sudah kebohongan yang dibangung
oleh pihak-pihak yang kebahagiaannya berbohong itu.
Untuk melengkapi penderitaan keluarga saya dari berbagai bentuk fitnah, serangan,
dan pergunjingan, saya ingin menambahkan satu lagi. Kebetulan perlakuan yang
tidak senonoh ini menyangkut Ibunda saya yang kini juga tinggal di Jakarta.
Ibunda saya, Ibu Hajjah Siti Habibah, kini berusia 82 tahun, dan sejak tahun
2007 tinggal di Jakarta setelah lebih dari 40 tahun tinggal di Blitar, Jawa
Timur. Ibu saya terlahir dari komunitas pesantren di Tremas Pacitan, di mana
saya juga dilahirkan di Pondok Pesantren itu. Sejak muda beliau adalah pengagum
Bung Karno, bahkan ketika saya sering sowan kepada beliau di Blitar, beberapa
kali kami berziarah di makan Proklamator Bung Karno, di Kota Blitar.
Nah, apa yang membuat ibu saya begitu sedih dan emosional adalah ketika ada
sebuah surat yang dialamatkan kepada beliau kurang lebih enam tahun yang lalu,
yang isinya sungguh tidak pantas dan tidak "beradab". Disamping
bahasanya sangat kasar, surat itu juga penuh dengan penghinaan dan penistaan,
baik kepada saya maupun kepada beliau. Surat itu juga disertai dengan sumpah
serapah dan doa-doa yang sangat buruk kepada keluarga saya. Karena begitu
terganggunya perasaan beliau, Ibunda saya sampai mengalami sakit berhari-hari.
Tentu ada puluhan lagi hal yang sejenis dan serupa dengan apa yang saya
ceritakan tadi. Saya dan istri sering merenung, bertanya dalam hati dan
tentunya juga sedih, mengapa harus mereka yang ikut menderita. Kalau saya,
ataupun istri saya yang juga sebagai Ibu Negara, sudah sewajarnya jika harus
menghadapi hantaman-hantaman seperti ini. Tetapi, kenapa harus mereka? Khusus
untuk saya, maksudnya fitnah yang dihantamkan kepada saya, telah saya ceritakan
di bagian lain dari tulisan ini.
Saya ingin menutup topik pembicaraan ini dengan menceritakan apa yang saya dan
keluarga dialogkan baru-baru ini. Selama ini saya sering melakukan perbincangan
dengan keluarga -istri, anak-anak dan anak-anak menantu. Perbincangan seperti
itu boleh saya katakan sebagai wahana untuk saling berbagi (sharing).
Doktrin yang kami anut dalam keluarga adalah love, caring, and sharing.
Kasih sayang, saling peduli, dan saling berbagi.
Tepat tanggal 17 Agustus 2013, di siang hari, setelah acara peringatan
Detik-Detik Proklamasi Kemerdekaan dan acara silaturahim dengan para perintis
kemerdekaan, veteran, dan pejuang '45, saya masuk ke ruang keluarga. Saya
terperanjat karena di hari yang istimewa dan seharusnya kita semua bersuka cita
itu, saya melihat istri dan anak-anak saya tampak sedih. Bahkan, Annisa dan
Aliya tidak kuasa membendung tetesan air matanya. Dari roman mukanya, istri
saya, Agus, dan Ibas juga memendam perasaan yang sama. Saya akhirnya bergabung
dengan mereka, karena pasti ada sesuatu yang amat mengganggu hati dan pikiran
mereka.
Kesedihan mereka, tentu juga kesedihan saya, bermula dari apa yang diceritakan
Annisa dan Aliya. Mereka mengatakan bahwa mereka harus dihujani fitnah dan
pergunjingan. Macam-macam. Hampir-hampir merasa tidak kuat. Selain itu, yang
membuat kami sekeluarga sedih, adalah juga apa yang kemudian dituturkan oleh
Ibas dalam pertemuan itu:
"Saya sekarang menarik diri dan menjauh dari kawan-kawan saya. Kasihan
mereka. Mereka juga ikut dicurigai dan diserang. Gara-gara menjadi kawan saya,
hidup mereka menjadi susah..." ucap Ibas.
Kami mendengarkan ucapan itu dengan hati tersayat. Kemudian ia melanjutkan
kata-katanya:
"Kawan-kawan saya itu memiliki profesi yang baik. Tidak ada yang jahat,
apalagi maling. Mereka profesional. Ada yang berusaha kecil-kecilan. Tidak
menggunakan APBN, karena saya ingat nasihat Papa. Papa melarang untuk berbisnis
yang menggunakan APBN, supaya tidak ada conflict of interest. Dan,
bahkan belum ada yang berhasil. Buka rumah makan bangkrut, dan akhirnya tutup.
Ada yang bekerja di pabrik, pabriknya juga tutup. Ada yang usaha di bidang
entertainment ya kurang sukses. Nah, ketika mereka ingin berusaha baik-baik
tetapi selalu gagal dan tersandung-sandung, pastilah mereka berharap saya bisa
membantu. Mereka pikir saya anak presiden," lanjut Ibas. Kami semua
menghela napas dalam-dalam.
Kemudian ia lanjutkan lagi:
"Jangankan menolong, saya pun terus dicurigai dan difitnah. Saya sedih,
karena mereka pikir saya tidak mau membantu mereka. Padahal saya memang tidak
bisa. Karenanya, saya memilih menarik diri. Dengan sedih saya menjauh dari
mereka. Untuk kebaikan mereka. Jangan karena banyak orang yang tidak suka sama
Papa, tidak suka dengan keluarga kita, mereka ikut-ikutan jadi korban. Kasihan
mereka," tutup Ibas.
Mendengar kata-kata itu saya pun ikut sedih. Keluarga saya bukan keluarga
berbisnis. Apalagi bisnis yang gila-gilaan. Barangkali seperti bumi dan langit
jika dibandingkan dengan mereka-mereka yang disamping memiliki kekuasaan, juga
berbisnis. Di era reformasi sekarang pun, menurut sejumlah kawan, bisnis yang
dijalankan oleh keluarga pejabat juga tetap marak. Bahkan hingga ke daerah.
Tetapi, sekali lagi, kami menjauhi dan tidak melakukan itu. Tetapi, sepertinya
apa yang kami alami justru yang sebaliknya. Barangkali banyak keluarga pejabat
yang berbisnis ria, tetapi tak satu pun yang mempergunjingkannya. Sementara,
keluarga kami yang tidak melakukan itu terus difitnah dan diserang.
Demikian juga urusan pemberantasan korupsi. Allah tahu bahwa saya sangat serius
untuk mencegah dan memberantas korupsi di negeri ini. Saya tahu ini pekerjaan
yang berat dan sangat tidak mudah. Tetapi, saya tidak menyerah. Nah, ketika
saya gigih perjuang untuk sebuah misi yang luhur ini, fitnah dan pergunjingan
terhadap saya dan keluarga tidak pernah berakhir. Terus dicurigai. Terus
diincar. Dicari-cari. Atau juga diserempet-serempetkan.
Di akhir pertemuan itu, untuk membangkitkan semangat dan ketegaran keluarga
saya, saya sampaikan kata-kata sebagai berikut:
"Kita harus kuat. Harus tegar. Cobaan dan ujian begini masih harus kita
hadapi. Yang penting mari terus kita jaga sikap, perilaku dan tindakan kita.
Kita harus tetap amanah. Percayalah Tuhan Mahabesar. Juga Mahaadil dan Maha
Pengasih."
Dengan segala cerita yang saya miliki ini, tentang drama kehidupan keluarga
saya yang sering getir dan tak putus, akhirnya kami sepakat untuk menunjuk
semacam juru bicara dan juga ahli hukum keluarga. Karena sebenarnya tidak ada
kasus hukum apa pun, tentunya kedudukan para lawyers tersebut lebih
bersifat pemberian nasihat dan bantuan hukum yang kami perlukan. Tentu ini
tidak ada kaitannya dengan negara. Tidak akan pula menggunakan fasilitas dan
anggaran negara. Benar-benar untuk keluarga. Kalau urusan pemerintah dan negara
ada Jaksa Agung, ada Kapolri, dan ada pula Menteri Hukum dan HAM.
Memang sejumlah pihak kembali menyerang saya ~ kenapa baru sekarang? Dari mana
biayanya? Dan sebagainya. Jawabannya mudah dan sederhana. Pertama,
setelah sembilan tahun saya bersabar dan diam saja, sudah saatnya keadilan dan
kebenaran saya bersabar dan diam saja, sudah saatnya keadilan dan kebenaran
saya tegakkan. Sekali lagi negara kita adalah negara hukum. Kedua,
dengan adanya tim hukum tersebut, saya bisa lebih fokus untuk menuntaskan
tugas-tugas yang saya emban sebagai Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan.
Sedangkan yang ketiga, keluarga kami tidak akan salah dalam melangkah
ketika harus menghadapi berbagai fitnah dan pencemaran nama baik. Saya taat
hukum. Menghormati hukum. Saya tidak akan menyalahgunakan kekuasaan yang saya
miliki. Saya harus mengikuti dan memedomani rule of law.
Saya mengetahui tidak sedikit pemimpin dunia yang juga melakukan seperti apa
yang saya pilih ini. Semua ingin menjaga kehormatan dan nama baik mereka. Jika
ada serangan yang luar biasa, biarkan hukum dan keadilan yang bicara. Bukan
politik dan kekuasaan.***
Dikutip dari: Susilo Bambang Yudhoyono, 2014, Selalu Ada Pilihan, Jakarta:
Penerbit Buku Kompas, halaman 248 - 259.

Post a Comment