SELAMAT DATANG DI PORTAL LEMBAGA KANTOR BERITA KALIMANTAN (LKBK) - UNTUK INDONESIA KAMI ADA
Home » , » Keluarga dan Teman pun Ikut Jadi Korban

Keluarga dan Teman pun Ikut Jadi Korban

Written By lkbk on Friday, August 8, 2014 | 1:35 PM

Oleh : Dr.H.Susilo Bambang Yudhoyono


Saya dan istri sering mendengar kata-kata yang membuat hati kami sedih. Keluarga besar kami sering merasa menjadi susah, atau dicurigai, karena tahu mereka adalah keluarga SBY. Keluhan yang pernah saya dengar kurang lebih seperti ini:


"Kita ini jadi saudaranya presiden kok malah susah. Apa-apa dicurigai. Di zaman dulu, jadi saudara presiden sepertinya sering mendapatkan perlakuan yang baik. Meskipun saya tahu bahwa zaman telah berubah, dan tak bisa begitu lagi, tapi... jangan kita-kita ini malah menjadi sasaran tembak dan diperlakukan dengan tidak baik".



Ada juga keluhan yang datang dari sejumlah teman saya. Misalnya seperti ini:



"Saya ini dari dulu bergerak di bidang bisnis. Jauh sebelum kenal dengan Pak SBY. Hubungan kami juga tidak istimewa. Saya mengidolakan SBY sewaktu ia tampil luar biasa pada saat reformasi dulu. Dengan kesantunan dan komunikasi politiknya, ia bisa menjelaskan kepada rakyat bahwa ABRI yang dihujat habis-habisan tidak sejahat yang kerap dituduhkan oleh sejumlah orang. Itulah sejarahnya mengapa saya kenal dengan SBY. Tidak ada hubungan bisnis saya. Tapi, justru setiap usaha bisnis yang saya jalankan dicurigai. Katanya ini bisnisnya Pak SBY. Malah kadang-kadang dipersulit oleh mereka yang tidak senang dengan presiden kita."



Atau, cerita kesedihan yang dialami oleh anak menantu saya, Annisa. Hal ini diutarakan ketika ayahnya bersama sekian banyak mantan pejabat teras Bank Indonesia sedang berurusan dengan KPK. Dengan nada sedih dan sulit mengerti Annisa mengatakan:



"Pa, mengapa sepertinya Ayah yang terus jadi bulan-bulanan. Sepertinya Ayah pula yang paling bersalah dan paling bertanggung jawab. Kami sekeluarga sungguh menderita dengan apa yang disampaikan oleh pers dan media kita. Sementara yang lain sedikit sekali jadi bahan pemberitaan. Apa begini ini adil, Pa?"



Annisa memanggil Pak Pohan dengan kata "Ayah", dan kepada saya dengan sebutan Papa.



Begitulah yang terjadi. Begitulah yang saya alami bersama keluarga selama bertahun-tahun ini. Sepertinya, hampir semua anggota keluarga sudah kena. Baik kena fitnah, kena serangan maupun pergunjingan.



Pertama tentang istri sendiri, Ibu Ani. Diisukan Ibu Ani memiliki hubungan dengan kalangan bisnis termasuk BUMN. Diisukan ia memiliki dan menjalankan sejumlah bisnis. Diisukan pula ia ikut campur dan menentukan jabatan-jabatan tertentu. Saya harus mengatakan semuanya itu "nol besar". Alias tidak benar.



Ketika Ibu Ani bertanya kepada saya sebenarnya apa yang harus diperankan sebagai Ibu Negara, seminggu setelah saya dilantik sebagai Presiden, saya berikan arahan dengan jelas dan tegas. Saya katakan, yang mesti dilakukan adalah membangun suasana kekeluargaan di antara istri menteri, atau istri anggota kabinet. Paguyuban para istri anggota kabinet yang selanjutnya disebut SIKIB itu, saya harap juga aktif membantu pemerintah, dan juga bekerja sama dengan pihak-pihak lain untuk sebuah misi pendidikan, sosial, kesehatan, dan lingkungan hidup. Sedangkan yang tidak boleh dilakukan adalah kegiatan bisnis. Baik secara pribadi maupun dalam hubungan SIKIB. SIKIB pun tidak boleh memasuki wilayah politik praktis yang sifatnya partisan.



Di penghujung tahun 2013 ini Ibu Ani juga mendapatkan serangan dan pergunjingan baru. Dipicu oleh artikel yang dimuat di sebuah surat kabar Australia, yang sepertinya ingin melakukan pembenaran mengapa dalam penyadapan yang dilakukan oleh pihak Australia, yang mencederai persahabatan dan hubungan baik ke dua negara, telepon genggam Ibu Ani juga ikut disadap. Artikel itu juga sebenarnya tidak luar biasa. Saya pikir tujuannya adalah untuk mengatakan penyadapan itu berangkat dari asumsi bahwa Ibu Ani memiliki peran yang penting dalam dunia perpolitikan di Indonesia. 



Setelah melakukan penyadapan selama dua minggu itu, saya yakin Australia tidak mendapatkan apa-apa. Tidak mendapatkan sesuatu yang bisa membenarkan asumsinya. Mestinya, kalau Australia fair bisa menjelaskan setelah melakukan penyadapan itu benarkah Ibu Ani memiliki peran yang menentukan di dunia politik Indonesia? ikut mengurusi pemerintahan misalnya? Namun, intinya tidak di situ. Pihak-pihak di tanah air sengaja melepas butir tentang dugaan peran Ibu Ani itu lepas dari konteks dan makna yang sesungguhnya. Ceritanya jadi ke mana-mana. Seperti biasanya. Semuanya bertentangan dengan fakta dan kebenaran. 



Kemudian anak pertama saya, Agus Harimurti Yudhoyono, yang kini berpangkat Mayor Infanteri Angkatan Darat dan berdinas di jajaran Satuan Lintas Udara Kostrad, juga beberapa kali mendapatkan fitnah. Fitnah pertama yang ia alami adalah ketika ia diisukan menerima pemberian mobil jaguar dari seorang pengusaha. Yang mengisukan saudara Eggi Sudjana, yang sebenarnya juga sahabat saya. Dalam persidangan, tuduhan itu sama sekali tidak terbukti, dan kemudian majelis hakim menyatakan yang bersangkutan bersalah. Atas permintaan ayahanda Bung Eggi Sudjana, saya dengan ikhlas memberikan maaf, yang saya tujukan kepada majelis hakim. Peristiwa itu meskipun terasa menyakitkan, tetapi sudah saya anggap selesai. Saya tidak ingin menyimpan suasana permusuhan dengan Eggi Sudjana.



Disamping itu, Agus juga pernah mendapatkan fitnah yang lain. Ketika ia sedang bertugas di Lebanon, sebagai bagian dari Pasukan Perdamaian PBB, tiba-tiba tiada angin tiada hujan, Agus diberitakan melakukan desersi alias meninggalkan tugas tanpa izin. Sebenarnya asal dari fitnah yang segera beredar luas itu amat sederhana. Pak Jusuf Kalla, Wakil Presiden waktu itu, sedang melaksanakan ibadah umroh di Tanah Suci. Singkat kata beliau bertemu dengan sejumlah perwira dari kontingen di Indonesia yang bertugas ke Lebanon yang juga sedang beribadah umroh. Pak Jusuf Kalla menanyakan apakah Agus ada dalam rombongan itu, kemudian dijawab tidak ikut. Pak Jusuf Kalla bertanya seperti itu tidak ada maksud jelek, justru menunjukkan perhatian yang baik kepada keluarga saya. Memang kami saling memelihara hubungan antarkeluarga. Misalnya, saya sering pula bertanya tentang kabar Solihin, salah satu putra beliau.



Konon, ketidakadaan Agus dalam rombongan umroh itu diisukan sebagai Agus meninggalkan tugasnya. Demikian cepat beredarnya berita itu sampai-sampai pihak TNI harus memberikan penjelasan bahwa Agus dan sejumlah temannya sedang melaksanakan cuti, dan memang tidak ikut umroh. Cuti bagi anggota Pasukan Pemelihara Perdamaian PBB itu termasuk wajib, dan harus diambil. Biasanya setiap 3-4 bulan ada cuti selama 3 sampai 4 hari. Saya pun dulu ketika bertugas di Bosnia, sebagai Komandan Pengamat Militer PBB, juga mengalami hal yang sama. 



Akhir tahun 2012, ada acara seminar yang menampilkan tokoh-tokoh muda dari berbagai kalangan dan profesi. Agus juga dihadirkan sebagai salah satu pembicara. Konon acara seminar itu berlangsung dengan baik. Pandangan para pembicara, termasuk Mayor Agus, dinilai baik oleh para peserta seminar itu. Tak lama kemudian di media sosial muncul komentar negatif, yang kurang lebih isinya begini: "Enak sekali baru dinas dua tahun sudah jadi mayor", sebuah komentar untuk membangkitkan ketidaksenangan dan kebencian rakyat kepada Agus, yang sesungguhnya juga kepada saya. Untung ada satu senior Agus yang lulus dari Akmil, yang membaca komentar miring di media sosial itu, dan kemudian membalasnya:



"Mayor Agus Harimurti Yudhoyono lulus Akmil tahun 2000. Sudah berdinas 12 tahun. Bukan baru dua tahun. Teman-temannya yang satu angkatan juga sudah menjadi mayor semua."



Istri Agus, Annisa, juga tidak luput dari fitnah. Diberitakan Annisa berbisnis dan memiliki saham di industri kerajinan batik dan jasa fashion yang bernama Alleira. Yang benar adalah Annisa, bahkan kadang-kadang Aira, beberapa kali dijadikan model oleh Alleira dalam rangka mempromosikan produk-produknya. Untuk diketahui, sebelum menjadi istri Agus, Annisa berprofesi sebagai presenter di sebuah stasiun televisi, dan sekali-sekali juga menjadi foto model untuk produk-produk tertentu.



Sementara itu, anak kedua saya Edhie Baskoro Yudhoyono, yang akrab dipanggil Ibas, juga tidak luput dari pergunjingan dan fitnah. Karena ia seorang anggota DPR, sekaligus Sekretaris Jenderal Partai Demokrat, fitnah yang didapatkan juga tidak tanggung-tanggung. Antara lain Ibas pernah diisukan menerima aliran dana sebesar 500 miliar rupiah dari Bank Century, bersama sejumlah pihak yang dalam Pemilu tahun 2009 menjadi tim sukses saya. Dalam kaitan ini saya kira publik mengetahui bahwa terhadap fitnah yang dikatakan ada aliran dana lebih dari 6 triliiun rupiah dari Bank Century kepada kelompok Tim Sukses SBY itu telah terbantahkan oleh sidang pengadilan. Pihak-pihak yang menyebarluaskan berita tidak benar itu kepada masyarakat luas juga sudah mendapatkan sanksi hukuman. 



Isu lain yang dituduhkan kepada Ibas juga dianggap berkaitan dengan uang. Diembuskan berita bahwa Ibas menerima dana dari Nazaruddin, mantan kader Partai Demokrat, yang sebenarnya akibat kesalahan yang bersangkutan telah dijatuhi hukuman oleh KPK. Terhadap fitnah yang tiba-tiba berkembang itu adalah Nazaruddin sendiri yang telah membantahnya, dan tidak benar kalau ia pernah memberikan dana kepada Ibas. Saya diberi tahu oleh sejumlah orang yang dekat dengan Nazaruddin, bahwa dia dibujuk untuk mengatakan bahwa Ibas terima aliran dana Hambalang. Nazaruddin juga diminta untuk membenarkan apa saja yang akan dikatakan oleh seorang yang tengah dijadikan tersangka oleh KPK karena tuduhan korupsi, dengan imbalan dana yang amat besar.



Ada sejumlah saksi yang mendampingi saya ketika pihak-pihak itu menyampaikan informasinya kepada saya. Dia datang atas kemauannya sendiri, karena katanya hatinya terusik mengetahui adanya rencana gerakan yang tidak baik dan membahayakan. Sementara itu, seseorang yang lain juga mengatakan kepada saya bahwa sejak awal Nazaruddin tidak pernah mengatakan bahwa Ibas terima uang darinya. Nama orang-orang itu saya simpan baik-baik, untuk kebaikan mereka. Tentu, apabila sangat diperlukan akan saya buka ke publik. 



Masih menyangkut Ibas, ada yang sangat mengganggu pikiran Aliya, istri Ibas. Pada hari-hari pernikahan Ibas dan Aliya bulan November 2011, muncul pergunjingan seputar pernikahan mereka. Aliya bahkan sempat menangis dan mengadu kepada ibundanya, Ibu Okke Hatta Rajasa, besan saya.



"Aliya sakit hati, karena diberitakan perkawinan saya dengan Mas Ibas ini adalah perkawinan politik. Padahal, kami benar-benar saling menyayangi."



Ibu Okke tentu memberi nasihat untuk sabar. Saya mengerti bahwa tampaknya Aliya belum siap secara mental, karena baru beberapa hari menjadi bagian dari keluarga besar SBY. Ibas dan Aliya telah saling mengenal sejak tahun 2007, empat tahun sebelum akhirnya memutuskan untuk menikah. Meskipun ayahanda Aliya adalah seorang menteri dan juga pimpinan sebuah partai politik, tentu tidak ada kaitannya sama sekali dengan politik. Memang menyakitkan jika perkawinan mereka itu dikatakan sebagai perkawinan politik.



Sampai sekarang pun hubungan saya dengan Menko Perekonomian Hatta Rajasa dalam urusan pemerintahan adalah hubungan yang profesional. Tidak kami campuradukkan dengan urusan keluarga. Jauh sebelum Pak Hatta menjadi besan saya, saya mengenalnya sebagai seorang pekerja keras dan gigih dalam melaksanakan tugas-tugasnya. Menghadapi persoalan apa pun selalu datang dengan solusi dan jalan keluar yang ditawarkan. Saya mengenang, di hari-hari yang berat beberapa menteri menghabiskan waktu bersama saya. Berhari-hari. Mencari akal bagi penyelesaian masalah yang pelik. Pak Hatta dalam banyak hal ada di barisan itu. 



Tampaknya, disamping saya, Ibas lah yang paling sering dihujani fitnah dan pergunjingan. Seperti tak ada habis-habisnya. Istri saya sering menitikkan air matanya mendengar betapa tiada hari tanpa fitnah bagi Ibas. Saya minta Ibu Ani, dan tentunya juga berlaku bagi saya, bisa tetap kuat menghadapi ujian dan cobaan ini. Kami mohonkan pula agar Ibas mendapatkan kemuliaan di kemudian hari, karena bertahun-tahun harus menderita dan menanggung beban yang selalu berat. Namanya pun terus-menerus dicemarkan.



Di hari tahun baru islam, 1 Muharram 1435 Hijriyah, Ibas kembali menerima fitnah yang jahat. Ia dihajar di media sosial, termasuk dibikin karikaturnya, yang mengatakan bahwa Ibas tidak pernah menggunakan baju lengan pendek karena tangannya penuh tato. Dikatakan pula ada gambar salib di lengannya. bahkan lebih kejam lagi, diberitakan tangan Ibas penuh dengan goresan silet, menggambarkan bahwa ia mengonsumsi narkoba. Mungkin saya sudah kehabisan kata-kata untuk mengatakan bahwa berita itu bohong besar dan juga fitnah yang kejam. Terus terang, selama ini Ibas lebih nyaman menggunakan baju lengan panjang karena ia menyadari badannya kurus. Seperti halnya masa muda saya dulu yang juga relatif kurus. Itu saja. Dalam kesedihan Ibas dan Aliya, secara emosional mereka berucap dan juga "menantang" kepada juru fitnah itu.



Bagi yang sangat ingin membuktikan bahwa lengan Ibas bersih dari tuduhan itu, ia bisa datang untuk membuktikannya. Dengan catatan jika fitnahnya tidak terbukti, ia harus meminta maaf ke seluruh media massa di Indonesia, termasuk media sosial. Mendengar itu saya tenangkan hatinya. Sabar. Allah Maha Pengasih, Maha Penyayang, dan Mahaadil. Lagi pula, manusia yang sering memfitnah itu disamping tidak beriman dan tidak bermoral, dia juga seorang pengecut. Tidak kesatria. Tidak mungkin ia berani datang untuk berhadapan langsung. 



Pada tanggal 9 Desember 2013 lalu, bertepatan dengan Hari Anti Korupsi Sedunia, Ibas dan keluarga saya kembali dihajar. Di Jakarta ada sejumlah spanduk gelap yang dipasang di beberapa tempat yang intinya agar KPK segera "menangkap" Ibas karena dianggap terlibat dalam kasus Hambalang. Saya mengikuti pemberitaan bahwa akibat gencarnya pihak-pihak tertentu yang menekan KPK agar Ibas diperiksa, pemimpin KPK sendiri Pak Abraham Samad terpaksa memberikan penjelasan dan klarifikasi. Intinya, tidak ada alasan hukum dan bukti permulaan apa pun bagi KPK untuk memanggil dan memeriksa Ibas.



Memang sudah cukup lama saya mendengar dari pihak-pihak yang selama ini bisa dipercaya ucapannya bahwa ada gerakan untuk "salah tidak salah" Ibas harus diperiksa oleh KPK. Panggil dan periksa dulu, hasilnya urusan belakang. Konon, upaya ini juga sudah menerobos ke elemen tertentu di KPK. Tentu saja saya sangat meragukan kebenaran berita ini yang menggambarkan seolah ada elemen dalam tubuh KPK yang ikut "bermain". Saya sangat tidak percaya. Hal begini bisa mengadu domba antara saya dengan KPK. Sementara itu ada pula yang mengatakan bahwa Ibas sangat bisa dijebak, agar ada pintu masuk untuk memperkarakannya. Alasannya, panggil saja Ibas oleh KPK, misalnya menjadi saksi siapa pun dan untuk kasus apa pun, maka runtuhlah sudah kewibawaan saya sebagai Presiden. 



Momentum seperti ini akan dieksploitasi untuk sekaligus menghabisi Partai Demokrat hingga benar-benar lenyap dari peredaran. Mendengar berita seperti ini saya sungguh prihatin. Kalau hal ini benar, politik kita telah memasuki era hitam dan gelap. Persis seperti apa yang ada dalam cerita-cerita film. Mudah-mudahan kita bisa mencegah dan menghentikan perilaku politik apa pun, yang hanya akan menghancurkan demokrasi yang berkeadaban, yang dengan sangat serius tengah kita bangun di negeri ini. 



Ada juga fenomena yang menarik, yang barangkali luput dari perhatian masyarakat. Jika ada kader partai tertentu yang kena jerat KPK, tiba-tiba saya, keluarga saya, dan Partai Demokrat segera kena serangan baru. Ada saja tema serangannya. Yang konspirasi SBY-lah, yang intervensi politik kekuasaan-lah, yang Cikeas juga harus diperiksalah, dan lain-lain. Untuk kesekian kalinya saya katakan kalau seorang SBY bisa mengatur dan mengendalikan KPK, mana mungkin sejumlah kader PD meringkuk dalam tahanan KPK. Sesuatu yang membikin elektabilitas Partai Demokrat merosot. Sesuatu yang oleh masyarakat Partai Demokrat dianggap partai yang paling korup. 



Kalau saya boleh menambahkan satu hal menyangkut data dan fakta korupsi yang dilakukan oleh politisi, apakah pejabat eksekutif ataupun legislatif, serta baik pusat maupun daerah, maka fakta menunjukkan bahwa Partai Demokrat tidak berada pada peringkat pertama. Artinya bukan yang paling korup. Dari sebuah sumber yang dapat dipercaya, setelah dilakukan pendataan secara komprehensif dari data yang ada di KPK, Kepolisian dan Kejaksaan, antara tahun 2004 hingga tahun 2013, persepsi banyak pihak bahwa Partai Demokrat adalah partai yang paling korup nyata-nyata tidak benar.



Rincian ringkas dari data korupsi yang ditangani oleh Kepolisian dan Kejaksaan berdasarkan partai politik darimana pejabat yang bersangkutan berasal didapat keterangan bahwa Partai Demokrat berada pada urutan ketiga dengan persentase 9,9 persen. Di atas Partai Demokrat, berarti lebih banyak kader yang partainya melakukan korupsi berturut-turut pada angka 43,56 persen dan 25,74 persen. Tentu jauh di atas, atau jauh lebih buruk, dibandingkan Partai Demokrat.



Khusus dengan kasus korupsi yang ditangani oleh KPK, data yang dihimpun hingga tahun 2013, Partai Demokrat berada pada urutan ketiga (15,45 persen). Untuk diketahui, dua parpol yang lebih buruk dibandingkan Partai Demokrat jumlah kadernya yang terlibat korupsi berturut-turut adalah 36,36 persen dan 24,55 persen.



Sebenarnya saya tidak suka menjelaskan hal seperti ini. Mestinya kita marah dan sedih karena masih ada saja kasus-kasus korupsi. Tetapi, secara moral saya wajib menjelaskan fakta dan data yang benar. Agar segala sesuatunya menjadi adil. Sebagai pemimpin Partai Demokrat, saya juga marah dan tidak suka melihat kenyataan ada sejumlah kader yang terlibat korupsi. Tetapi, jika dipersepsikan secara luas oleh rakyat kita bahwa Partai Demokrat-lah yang kadernya paling banyak korupsi, tentu saja saya tidak bisa menerimanya. Disamping tidak adil, juga merusak nilai-nilai kebenaran.



Saya ingin kembali pada topik utama yaitu betapa keluarga saya sering menjadi korban fitnah dan pergunjingan.



Besan saya, Pak Auliya Pohan, yang pada saat sedang berurusan dengan KPK juga mendapatkan pemberitaan yang tendensius dan berlebihan dari pers kita, tampaknya harus mendapatkan fitnah dan serangan baru. Tiba-tiba, di akhir tahun 2011, Pak Pohan diisukan pergi ke luar negeri dan ditangkap di Prancis karena terlibat dalam kegiatan pencucian uang (money laundering) yang juga dikategorikan sebagai bentuk kejahatan. Tidak hanya itu, sang juru fitnah juga amat kreatif dengan mengatakan bahwa ketika saya menghadiri Pertemuan Puncak G-20 yang dilaksanakan di Cannes, Prancis, saya menyempatkan untuk melakukan pertemuan bilateral dengan Presiden Nicolas Sarkozy, dengan tujuan untuk memintakan pembebasan Pak Aulia Pohan tersebut. Sungguh luar biasa kebohongan yang diedarkan ke masyarakat luas itu.***



Pertama, pada bulan itu Pak Pohan tidak pernah ke Eropa, dan bahkan aktif dalam perhelatan pernikahan Ibas dengan Aliya. Tanggal yang diberitakan ia berada di Prancis itu, justru sedang sibuk membantu acara pernikahan Ibas tersebut. Yang, kedua, amat tidak masuk di akal jika saya berbicara dengan Presiden Sarkozy untuk urusan begitu, andaikata kejadian itu benar-benar ada. Apalagi peristiwa itu tidak pernah ada alias "dongeng". Kebetulan, dalam G-20 Summit yang diselenggarakan di Cannes itu juga tidak ada pertemuan bilateral saya dengan Presiden Sarkozy. Luar biasa. Lengkap sudah kebohongan yang dibangung oleh pihak-pihak yang kebahagiaannya berbohong itu. 



Untuk melengkapi penderitaan keluarga saya dari berbagai bentuk fitnah, serangan, dan pergunjingan, saya ingin menambahkan satu lagi. Kebetulan perlakuan yang tidak senonoh ini menyangkut Ibunda saya yang kini juga tinggal di Jakarta. 



Ibunda saya, Ibu Hajjah Siti Habibah, kini berusia 82 tahun, dan sejak tahun 2007 tinggal di Jakarta setelah lebih dari 40 tahun tinggal di Blitar, Jawa Timur. Ibu saya terlahir dari komunitas pesantren di Tremas Pacitan, di mana saya juga dilahirkan di Pondok Pesantren itu. Sejak muda beliau adalah pengagum Bung Karno, bahkan ketika saya sering sowan kepada beliau di Blitar, beberapa kali kami berziarah di makan Proklamator Bung Karno, di Kota Blitar.



Nah, apa yang membuat ibu saya begitu sedih dan emosional adalah ketika ada sebuah surat yang dialamatkan kepada beliau kurang lebih enam tahun yang lalu, yang isinya sungguh tidak pantas dan tidak "beradab". Disamping bahasanya sangat kasar, surat itu juga penuh dengan penghinaan dan penistaan, baik kepada saya maupun kepada beliau. Surat itu juga disertai dengan sumpah serapah dan doa-doa yang sangat buruk kepada keluarga saya. Karena begitu terganggunya perasaan beliau, Ibunda saya sampai mengalami sakit berhari-hari.



Tentu ada puluhan lagi hal yang sejenis dan serupa dengan apa yang saya ceritakan tadi. Saya dan istri sering merenung, bertanya dalam hati dan tentunya juga sedih, mengapa harus mereka yang ikut menderita. Kalau saya, ataupun istri saya yang juga sebagai Ibu Negara, sudah sewajarnya jika harus menghadapi hantaman-hantaman seperti ini. Tetapi, kenapa harus mereka? Khusus untuk saya, maksudnya fitnah yang dihantamkan kepada saya, telah saya ceritakan di bagian lain dari tulisan ini.



Saya ingin menutup topik pembicaraan ini dengan menceritakan apa yang saya dan keluarga dialogkan baru-baru ini. Selama ini saya sering melakukan perbincangan dengan keluarga -istri, anak-anak dan anak-anak menantu. Perbincangan seperti itu boleh saya katakan sebagai wahana untuk saling berbagi (sharing). Doktrin yang kami anut dalam keluarga adalah love, caring, and sharing. Kasih sayang, saling peduli, dan saling berbagi. 



Tepat tanggal 17 Agustus 2013, di siang hari, setelah acara peringatan Detik-Detik Proklamasi Kemerdekaan dan acara silaturahim dengan para perintis kemerdekaan, veteran, dan pejuang '45, saya masuk ke ruang keluarga. Saya terperanjat karena di hari yang istimewa dan seharusnya kita semua bersuka cita itu, saya melihat istri dan anak-anak saya tampak sedih. Bahkan, Annisa dan Aliya tidak kuasa membendung tetesan air matanya. Dari roman mukanya, istri saya, Agus, dan Ibas juga memendam perasaan yang sama. Saya akhirnya bergabung dengan mereka, karena pasti ada sesuatu yang amat mengganggu hati dan pikiran mereka.



Kesedihan mereka, tentu juga kesedihan saya, bermula dari apa yang diceritakan Annisa dan Aliya. Mereka mengatakan bahwa mereka harus dihujani fitnah dan pergunjingan. Macam-macam. Hampir-hampir merasa tidak kuat. Selain itu, yang membuat kami sekeluarga sedih, adalah juga apa yang kemudian dituturkan oleh Ibas dalam pertemuan itu:



"Saya sekarang menarik diri dan menjauh dari kawan-kawan saya. Kasihan mereka. Mereka juga ikut dicurigai dan diserang. Gara-gara menjadi kawan saya, hidup mereka menjadi susah..." ucap Ibas. 



Kami mendengarkan ucapan itu dengan hati tersayat. Kemudian ia melanjutkan kata-katanya:



"Kawan-kawan saya itu memiliki profesi yang baik. Tidak ada yang jahat, apalagi maling. Mereka profesional. Ada yang berusaha kecil-kecilan. Tidak menggunakan APBN, karena saya ingat nasihat Papa. Papa melarang untuk berbisnis yang menggunakan APBN, supaya tidak ada conflict of interest. Dan, bahkan belum ada yang berhasil. Buka rumah makan bangkrut, dan akhirnya tutup. Ada yang bekerja di pabrik, pabriknya juga tutup. Ada yang usaha di bidang entertainment ya kurang sukses. Nah, ketika mereka ingin berusaha baik-baik tetapi selalu gagal dan tersandung-sandung, pastilah mereka berharap saya bisa membantu. Mereka pikir saya anak presiden," lanjut Ibas. Kami semua menghela napas dalam-dalam.



Kemudian ia lanjutkan lagi:



"Jangankan menolong, saya pun terus dicurigai dan difitnah. Saya sedih, karena mereka pikir saya tidak mau membantu mereka. Padahal saya memang tidak bisa. Karenanya, saya memilih menarik diri. Dengan sedih saya menjauh dari mereka. Untuk kebaikan mereka. Jangan karena banyak orang yang tidak suka sama Papa, tidak suka dengan keluarga kita, mereka ikut-ikutan jadi korban. Kasihan mereka," tutup Ibas.



Mendengar kata-kata itu saya pun ikut sedih. Keluarga saya bukan keluarga berbisnis. Apalagi bisnis yang gila-gilaan. Barangkali seperti bumi dan langit jika dibandingkan dengan mereka-mereka yang disamping memiliki kekuasaan, juga berbisnis. Di era reformasi sekarang pun, menurut sejumlah kawan, bisnis yang dijalankan oleh keluarga pejabat juga tetap marak. Bahkan hingga ke daerah. Tetapi, sekali lagi, kami menjauhi dan tidak melakukan itu. Tetapi, sepertinya apa yang kami alami justru yang sebaliknya. Barangkali banyak keluarga pejabat yang berbisnis ria, tetapi tak satu pun yang mempergunjingkannya. Sementara, keluarga kami yang tidak melakukan itu terus difitnah dan diserang.



Demikian juga urusan pemberantasan korupsi. Allah tahu bahwa saya sangat serius untuk mencegah dan memberantas korupsi di negeri ini. Saya tahu ini pekerjaan yang berat dan sangat tidak mudah. Tetapi, saya tidak menyerah. Nah, ketika saya gigih perjuang untuk sebuah misi yang luhur ini, fitnah dan pergunjingan terhadap saya dan keluarga tidak pernah berakhir. Terus dicurigai. Terus diincar. Dicari-cari. Atau juga diserempet-serempetkan.



Di akhir pertemuan itu, untuk membangkitkan semangat dan ketegaran keluarga saya, saya sampaikan kata-kata sebagai berikut:



"Kita harus kuat. Harus tegar. Cobaan dan ujian begini masih harus kita hadapi. Yang penting mari terus kita jaga sikap, perilaku dan tindakan kita. Kita harus tetap amanah. Percayalah Tuhan Mahabesar. Juga Mahaadil dan Maha Pengasih."



Dengan segala cerita yang saya miliki ini, tentang drama kehidupan keluarga saya yang sering getir dan tak putus, akhirnya kami sepakat untuk menunjuk semacam juru bicara dan juga ahli hukum keluarga. Karena sebenarnya tidak ada kasus hukum apa pun, tentunya kedudukan para lawyers tersebut lebih bersifat pemberian nasihat dan bantuan hukum yang kami perlukan. Tentu ini tidak ada kaitannya dengan negara. Tidak akan pula menggunakan fasilitas dan anggaran negara. Benar-benar untuk keluarga. Kalau urusan pemerintah dan negara ada Jaksa Agung, ada Kapolri, dan ada pula Menteri Hukum dan HAM.



Memang sejumlah pihak kembali menyerang saya ~ kenapa baru sekarang? Dari mana biayanya? Dan sebagainya. Jawabannya mudah dan sederhana. Pertama, setelah sembilan tahun saya bersabar dan diam saja, sudah saatnya keadilan dan kebenaran saya bersabar dan diam saja, sudah saatnya keadilan dan kebenaran saya tegakkan. Sekali lagi negara kita adalah negara hukum. Kedua, dengan adanya tim hukum tersebut, saya bisa lebih fokus untuk menuntaskan tugas-tugas yang saya emban sebagai Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan. Sedangkan yang ketiga, keluarga kami tidak akan salah dalam melangkah ketika harus menghadapi berbagai fitnah dan pencemaran nama baik. Saya taat hukum. Menghormati hukum. Saya tidak akan menyalahgunakan kekuasaan yang saya miliki. Saya harus mengikuti dan memedomani rule of law.



Saya mengetahui tidak sedikit pemimpin dunia yang juga melakukan seperti apa yang saya pilih ini. Semua ingin menjaga kehormatan dan nama baik mereka. Jika ada serangan yang luar biasa, biarkan hukum dan keadilan yang bicara. Bukan politik dan kekuasaan.***




Dikutip dari: Susilo Bambang Yudhoyono, 2014, Selalu Ada Pilihan, Jakarta: Penerbit Buku Kompas, halaman 248 - 259.
Share this post :

Post a Comment