WASHINGTON DC - Dalam wawancara per
telepon dengan VOA, Jusuf Kalla menegaskan tiga prioritas utamanya setelah
dilantik Oktober nanti, yang salah satu di antaranya adalah mencabut subsidi
BBM.
Sejumlah pejabat Indonesia kini sedang berada di Amerika. Di antaranya
adalah wakil presiden terpilih Jusuf Kalla yang berada di
Rochester, Minnesota dan Ketua PDI-Perjuangan Megawati Soekarnoputri
yang sedang berlibur di Los Angeles.
Dalam wawancara melalui telepon, Jusuf Kalla mengatakan keberadaannya di
Amerika semata-mata untuk beristirahat, melakukan pemeriksaan kesehatan tahunan
dan menyiapkan rencana-rencana ke depan. “Kebetulan saja waktunya bersamaan
dengan Ibu Megawati”, ujarnya.
Jusuf Kalla kembali menegaskan tiga prioritas utamanya setelah dilantik
Oktober nanti, yang salah satu di antaranya adalah mencabut subsidi BBM.
Ia mengaku tidak khawatir menjadi tidak populer mengambil kebijakan itu.
“Sudah bukan waktunya mencari popularitas… justru saatnya mengambil
kebijakan-kebijakan yang tidak populer”, demikian ujar Jusuf Kalla pada
wartawan VOA Eva Mazrieva.
Banyak analis di Amerika menyambut baik kemenangan pasangan Jokowi-Jusuf
Kalla dalam pemilu presiden Indonesia Juli lalu, tetapi mereka juga
mengingatkan keberadaan PDI-Perjuangan – partai pendukung utama pasangan ini –
yang memiliki sejumlah isu pada masa lalu.
Direktur Forum Asia Tenggara di Shorenstein Asia Profesor Donald K. Emmerson
terang-terangan mengingatkan hal ini. “Jokowi memang jauh lebih menjanjikan
sebagai pemimpin baru dibanding Prabowo tetapi jangan lupa partai yang
mengusungnya ke puncak kekuasaan. PDI-Perjuangan dan pimpinannya Megawati
Soekarnoputri bukanlah orang baru, bukan orang luar, ia orang dalam yang juga
pernah berada dalam lingkaran kekuasaan, dengan segala pencapaian dan
masalahnya”, ujar pakar politik Universitas Stanford ini ketika diwawancara VOA
beberapa saat setelah pengumuman kemenangan pasangan Jokowi-JK sebagai presiden
dan wakil presiden mendatang di Indonesia oleh Komisi Pemilihan Umum 22 Juli
lalu.
Jusuf Kalla menampik anggapan bahwa dirinya akan mudah “disetir”
PDI-Perjuangan dan Megawati Soekarnoputri. “Bahwa kita berkonsultasi atau sowan
dengan partai yang mendukung, khan wajar saja! Tetapi keyakinan bersama lah
yang harus dijalankan”, tegasnya. Jusuf Kalla juga memuji Megawati
Soekarnoputri sebagai seorang negarawan yang hebat.
Berikut wawancara VOA selengkapnya bersama Jusuf Kalla beberapa jam sebelum
meninggalkan Rochester – Minnesota Senin malam (11/8).
VOA: Untuk kesekian kalinya Bapak
masuk ke pemerintahan dan bersama Jokowi siap memimpin Indonesia untuk lima
tahun ke depan. Apa ada target bersama yang sudah disusun dan siap diwujudkan
dalam waktu dekat?
“Bagi saya memang bukan hal yang baru untuk masuk ke pemerintahan, jadi
memang bukan sesuatu hal yang ‘surprise’ atau mengejutkan. Yang masalah
sekarang adalah bagaimana mengatur ulang waktu. Dulu sempat bebas, tetapi
sekarang kembali dihadapkan pada pekerjaan dengan tenggat tertentu. Juga
kembali berfikir keras menghadapi masa-masa ekonomi kita yang sulit”.
VOA: Segera setelah pasangan Jokowi-JK
terpilih, pasar bereaksi positif. Tidakkah hal ini menjadi signyal yang baik
bagi pemerintahan Bapak kelak?
“Pasar itu khan harapan, yang bisa jadi baik atau jelek. Ketiga pasar
bereaksi positif setelah pengumuman Juli lalu, artinya pasar berharap ekonomi
di bawah pemerintahan kita berjalan baik. Meskipun saya ingin katakan sejak
awal bahwa untuk mewujudkan harapan-harapan itu membutuhkan waktu. Pasar
keuangan pastinya akan cepat berubah jika harapan-harapan itu tidak terwujud”.
VOA: Bisa jadi yang ditunggu-tunggu pasar – dan juga
masyarakat – saat ini adalah formasi kabinet Bapak?
“Tentu. Tapi kabinet itu khan mengikuti apa program dan target yang
ditetapkan. Siapapun menterinya, ia harus ikut apa yang kami rencanakan”.
VOA: Sudah sejauh apa pembentukan kabinet Jokowi-JK
ini?
“Kami belum bicara orang. Baru tentang program dan target untuk
memenuhinya. Karena yang dibutuhkan Indonesia sekarang adalah tindakan. Program
sudah banyak, perencanaan sudah banyak, undang-undang sudah banyak – jangka
menengah dan jangka panjang. Yang kita butuhkan tindakannya! Ini yang masih
kurang”.
VOA: Belajar dari sebelumnya, masyarakat Indonesia
tampaknya lebih percaya pada tindakan Bapak khan?
“Ah itu pandangan saja. Saya tetap percaya pada presiden sebagai
nakhoda”.
VOA: Bapak juga pastinya sangat percaya pada kemampuan
Jokowi sebagai presiden?
“Ya tentu! Yang terpenting adalah niat baik kita. Membuat Indonesia jadi
lebih baik, kebijakan pemerintah lebih efesien dan yang terpenting – menyadari
hal-hal yang masih kurang, yang masih terasa sulit bagi masyarakat. Subsidi
yang demikian tinggi, impor yang juga masih banyak. Ini tantangan berat yang
harus dilaksanakan segera”.
VOA: Jika bisa disebutkan tiga saja kebijakan utama
dan segera akan Bapak ambil begitu dilantik?
“Yang paling pokok, paling mudah tapi paling banyak tantangannya adalah
mengurangi subsidi! Begitu subsidi dikurangi, kita bisa lebih cepat bergerak.
Kedua, meningkatkan stabilitas di dalam negeri. Ketiga, menegakkan
hukum”.
VOA: Apakah Bapak tidak khawatir mengambil kebijakan
tidak populer seperti mencabut subsidi?
“Bukan waktunya lagi kita mencari popularitas. Sudah selesai itu!
Pemerintahan apapun jangan lagi bicara popularitas pada tahun pertama hingga
ketiga. Justru saatnya mengambil kebijakan-kebijakan yang tidak populer”.
VOA: Jadi Bapak yakin mencabut subsidi dan menaikkan
BBM misalnya, masyarakat Indonesia tidak akan protes pada pemerintah?
“Pasti ada saja yang protes, tapi saya yakin akan lebih banyak yang bisa
menerima karena jika tidak bagaimana negeri ini? Infrastruktur bisa tidak
jalan, ekonominya lambat. Masalah-masalah sosial yang muncul juga tidak pernah
bisa terselesaikan. Jadi memang tidak ada cara lain!”
VOA: Pengamat-pengamat Amerika menyambut baik
terpilihnya Jokowi-JK tetapi juga mengingatkan keberadaan partai pendukung di
belakang Bapak – PDI-Perjuangan – yang menurut mereka, sewaktu berkuasa dulu
juga tidak luput dari persoalan dan berbagai isu lain. Bagaimana menurut Bapak?
“Isu itu sangat dinamis, tergantung Anda ada di mana. Seperti juga di
Amerika. Jika Anda ada di pemerintahan, isunya berbeda dengan kalau Anda ada di
pemerintahan”.
VOA: Bapak yakin PDI-Perjuangan tidak akan “menyetir”
Bapak atau Pak Jokowi kelak?
“Bahwa kita berkonsultasi dengan partai yang mendukung, khan wajar saja.
Tetapi keyakinan bersama lah yang harus kita jalankan”.
VOA: Bapak yakin memiliki keyakinan yang sama dengan
Megawati Soekarnoputri dan PDI-Perjuangan?
“Ibu Megawati itu seorang negarawan yang hebat. Coba Anda lihat, ketika semua
pimpinan partai ingin jadi presiden, beliau tidak! Justru menginginkan agar
orang yang lebih mampu dan lebih disukai masyarakat yang maju. Ia mendorong.
Apakah itu bukan negarawan yang hebat dibanding yang lain?”
VOA: Bapak tentunya lebih mengetahui kapabilitas
Megawati, tetapi yang kami lihat di permukaan adalah bagaimana Bapak dan Pak
Jokowi beramai-ramai “sowan” kepadanya ketika hendak dicalonkan, menjelang
pemungutan suara dan bahkan menjelang pengumuman. Tentunya tidak salah jika
kemudian muncul anggapan bahwa Bapak dan Pak Jokowi bisa “disetir” Megawati
atau PDI-Perjuangan?
“Wajar saja khan karena Megawati yang mengusulkan dan mendorong kami
menjadi calon presiden dan wakil presiden. Ia juga yang memiliki partai yang
paling besar. Wajar saja jika kami sowan dan berkonsultasi. Pengalaman saya
waktu beliau jadi presiden dan saya menjadi menteri, beliau tidak pernah
mencampuri hal-hal yang detail. Beliau hanya mencampuri hal-hal yang prinsip.
Sekarang khan beliau – katakanlah – sudah bukan presiden, tetapi tentu tetap
kita hargai sebagai tempat berkonsultasi. Itu wajar saja bagi saya!”.
VOA: Nah kami mendapat kabar bahwa Bapak berada
di Amerika sekarang ini bersama Megawati juga?
“Oh iya.. Megawati ada di Los Angeles. Saya di Rochester – Minnesota.
Beliau sudah kembali ke tanah air. Saya baru malam ini pulang ke Indonesia”.
VOA: Misinya berbeda?
“Sama-sama beristirahat sebenarnya. Dua bulan lalu kami dihadapkan pada
jadwal kampanye yang berat dan sebagainya. Sementara sekarang harus
mempersiapkan diri menjalankan pemerintahan. Jika berada di Jakarta saya tidak
bisa mempersiapkan diri, bahkan untuk sekedar membaca. Semua orang ingin
ketemu, semua orang ingin berfoto. Padahal saya butuh waktu untuk beristirahat
dan mempelajari masalah-masalah yang ada. Dan itu tidak bisa saya lakukan di
Jakarta. Ini bukan libur total. Ini sekedar mencari waktu untuk istirahat dan
mempelajari masalah-masalah yang bakal saya hadapi dan membuat perencanaan ke
depan”.
VOA: Sempat bertemu pejabat-pejabat Amerika disini?
“Wah tidak! Sama sekali tidak!”.
VOA: Atau (untuk) berobat?
“Annual check-up. Saya rutin melakukan
annual check-up disini sekali setahun. Jadi saya lanjutkan saja sekarang. Saya
tidak sakit, sekedar melakukan annual check-up. Insya Allah sehat terus”.***(VOA)
Foto : Cawapres Jusuf Kalla (depan) berada di
Rochester, Minnesota untuk melakukan pemeriksaan kesehatan rutin tahunan, Senin
11/8 ***(courtesy photo).

Post a Comment