JAKARTA – Ditengah wacana
#2019gantipresiden dan munculnya Dua Periode Presiden menjelang pendaftaran
Paslon Capres-Cawapres, yang menurut Direktur Eksekutif Lembaga EmrusCorner, Emrus
Sihombing, kepada media ini, Selasa (07/08/2018), bahwa sangat tidak bermanfaat
bagi rakyat, muncul pernyataan dengan pilihan diksi yang kurang tepat. Lihat
saja dalam bentuk video yang tersebar lewat WA, seorang dari tim komunikasi
Istana, MN, bersama beberapa orang lainnya menyebut, “Lawan, Libas”.
“Diksi ini sangat tidak produktif. Bahkan berpotensi kontraproduktif.
Pemakaian kata lawan dan libas biasanya muncul ketika ada gangguan atau
ketegangan relasi antar manusia dalam suatu kelompok sosial tertentu. Dengan
kata lain, Lawan dan libas, kecuali dalam bentuk bercanda, tidak pernah ada
ketika terjadi peristiwa suasana komunikasi kesejukan dalam relasi antar
manusia dalam suatu komunitas sosial tertentu. Karena itu, diksi seperti lawan
dan libas sangat tidak tepat baik dari segi timing dan konteks
ke-Indonesiaan-an kita dulu, kini, dan ke depan.”, ungkap Emrus Sihombing, di
Jakarta.
Dikatakan Emrus lebih lanjut, bahwa sosok yang sama dengan mengenakan baju
dominan warna kuning menyampaikan dengan lantang dukungan terhadap seseorang
dua periode dan menyebut nama lembaga sebuah perguruan tinggi. Yang menarik
pada setting ini, disamping sosok tersebut ada tokoh senior nasional, BP, dengan
raut wajah penuh kehatian-hatian dengan jari kedua tangan terlipat di depan
sedikit di bawah perut.
“Posisi tokoh tersebut tampak sebagai orang yang harus menuruti pesan
komunikasi politik yang disampaikan oleh sosok yang berbaju kuning tersebut.
Sebagai tokoh nasional, BP tidak perlu hadir di sana dalam konteks komunikasi
seperti itu. Sebab, dapat menimbulkan berbagai persepsi yang kurang produktif
dari publik bagi tokoh yang bersangkutan”, ujar Emrus.
Beda dengan TGB, kata Emrus, bahwa setiap pesan komunikasi yang dilontarkan
TGB sangat efektif sembari menimbulkan kesejukan, kenyamanan dan kemanan bagi
siapapun khalayaknya. "Tolong berhentilah berkontestasi politik dengan
mengutip ayat-ayat perang dalam Al-Qur’an. Kita tidak sedang berperang. Kita
ini satu bangsa. Saling mengisi dalam kebaikan," ucap TGB yang dimuat
dalam satu media online, sebagai teladan.
“Berdasarkan dua pola komunikasi dari dua sosok di atas, dari aspek
komunikasi politik, dapat dipastikan akan menimbulkan efek yang berbeda.
Tindakan komunikasi yang dilakukan oleh TGB, lebih menimbulkan kenyamanan,
kebersamaan, ketenangan, simpati dan pluralis di tengah masyarakat yang
pluralis”, kata Emrus.
Untuk itu Emrus berkata, sebagai komunikolog dia mengimbau Istana segera
melakukan konsolidasi internal dalam mewujudkan komunikasi politik yang sejuk.
Wajah Istana harus mengedepankan komunikasi dialogis, utamanya dalam tahun
politik Pemilu 2019.
“Merujuk pada narasi di atas, saya hanya bisa menghimbau pihak Istana dapat
meminta kesediaan TGB menata dan mengelola seluruh sistem komunikasi politik
Istana sehingga lebih bisa menjaga kebersamaan dalam kebhinnekaan dan
ke-Indonesia-an saat ini dan ke depan. Salam NKRI”, tutup Direktur Eksekutif Lembaga
EmrusCorner, Emrus Sihombing.***(R/LKBK65).
Penulis : Adjie Saputra
Editor : M.Fahrozi
Gambar : Direktur Eksekutif Lembaga EmrusCorner, Emrus
Sihombing.***(Ist).
_________
“MENGUTIP SEBAGIAN
ATAU SELURUH ISI PORTAL INI
HARUS MENDAPAT IZIN
TERTULIS DARI REDAKSI, HAK CIPTA DILINDUNGI UNDANG-UNDANG”
__________


Post a Comment