SELAMAT DATANG DI PORTAL LEMBAGA KANTOR BERITA KALIMANTAN (LKBK) - UNTUK INDONESIA KAMI ADA
Home » , , » Emrus Sihombing : Istana Perlu Melakukan Konsolidasi Diksi Komunikasi Politik

Emrus Sihombing : Istana Perlu Melakukan Konsolidasi Diksi Komunikasi Politik

Written By lkbk on Tuesday, August 7, 2018 | 5:13 PM

JAKARTA – Ditengah wacana #2019gantipresiden dan munculnya Dua Periode Presiden menjelang pendaftaran Paslon Capres-Cawapres, yang menurut Direktur Eksekutif Lembaga EmrusCorner, Emrus Sihombing, kepada media ini, Selasa (07/08/2018), bahwa sangat tidak bermanfaat bagi rakyat, muncul pernyataan dengan pilihan diksi yang kurang tepat. Lihat saja dalam bentuk video yang tersebar lewat WA, seorang dari tim komunikasi Istana, MN, bersama beberapa orang lainnya menyebut, “Lawan, Libas”. 

“Diksi ini sangat tidak produktif. Bahkan berpotensi kontraproduktif. Pemakaian kata lawan dan libas biasanya muncul ketika ada gangguan atau ketegangan relasi antar manusia dalam suatu kelompok sosial tertentu. Dengan kata lain, Lawan dan libas, kecuali dalam bentuk bercanda, tidak pernah ada ketika terjadi peristiwa suasana komunikasi kesejukan dalam relasi antar manusia dalam suatu komunitas sosial tertentu. Karena itu, diksi seperti lawan dan libas sangat tidak tepat baik dari segi timing dan konteks ke-Indonesiaan-an kita dulu, kini, dan ke depan.”, ungkap Emrus Sihombing, di Jakarta. 

Dikatakan Emrus lebih lanjut, bahwa sosok yang sama dengan mengenakan baju dominan warna kuning menyampaikan dengan lantang dukungan terhadap seseorang dua periode dan menyebut nama lembaga sebuah perguruan tinggi. Yang menarik pada setting ini, disamping sosok tersebut ada tokoh senior nasional, BP, dengan raut wajah penuh kehatian-hatian dengan jari kedua tangan terlipat di depan sedikit di bawah perut.

“Posisi tokoh tersebut tampak sebagai orang yang harus menuruti pesan komunikasi politik yang disampaikan oleh sosok yang berbaju kuning tersebut. Sebagai tokoh nasional, BP tidak perlu hadir di sana dalam konteks komunikasi seperti itu. Sebab, dapat menimbulkan berbagai persepsi yang kurang produktif dari publik bagi tokoh yang bersangkutan”, ujar Emrus.

Beda dengan TGB, kata Emrus, bahwa setiap pesan komunikasi yang dilontarkan TGB sangat efektif sembari menimbulkan kesejukan, kenyamanan dan kemanan bagi siapapun khalayaknya. "Tolong berhentilah berkontestasi politik dengan mengutip ayat-ayat perang dalam Al-Qur’an. Kita tidak sedang berperang. Kita ini satu bangsa. Saling mengisi dalam kebaikan," ucap TGB yang dimuat dalam satu media online, sebagai teladan. 

“Berdasarkan dua pola komunikasi dari dua sosok di atas, dari aspek komunikasi politik, dapat dipastikan akan menimbulkan efek yang berbeda. Tindakan komunikasi yang dilakukan oleh TGB, lebih menimbulkan kenyamanan, kebersamaan, ketenangan, simpati dan pluralis di tengah masyarakat yang pluralis”, kata Emrus.

Untuk itu Emrus berkata, sebagai komunikolog dia mengimbau Istana segera melakukan konsolidasi internal dalam mewujudkan komunikasi politik yang sejuk. Wajah Istana harus mengedepankan komunikasi dialogis, utamanya dalam tahun politik Pemilu 2019.

“Merujuk pada narasi di atas, saya hanya bisa menghimbau pihak Istana dapat meminta kesediaan TGB menata dan mengelola seluruh sistem komunikasi politik Istana sehingga lebih bisa menjaga kebersamaan dalam kebhinnekaan dan ke-Indonesia-an saat ini dan ke depan. Salam NKRI”, tutup Direktur Eksekutif Lembaga EmrusCorner, Emrus Sihombing.***(R/LKBK65).

Penulis      : Adjie Saputra
Editor        : M.Fahrozi
Gambar     : Direktur Eksekutif Lembaga EmrusCorner, Emrus Sihombing.***(Ist).
_________

“MENGUTIP SEBAGIAN ATAU SELURUH ISI PORTAL INI
HARUS MENDAPAT IZIN TERTULIS DARI REDAKSI, HAK CIPTA DILINDUNGI UNDANG-UNDANG”
__________
Share this post :

Post a Comment