SELAMAT DATANG DI PORTAL LEMBAGA KANTOR BERITA KALIMANTAN (LKBK) - UNTUK INDONESIA KAMI ADA
Home » , , » Asian Waterbird Census 2018, Untuk Ketapang Dilaksanakan di Pantai Tuan Tuan

Asian Waterbird Census 2018, Untuk Ketapang Dilaksanakan di Pantai Tuan Tuan

Written By lkbk on Monday, January 22, 2018 | 12:30 AM

KETAPANG – Kegiatan penghitungan burung air se-Asia atau Asian Waterbird Census (AWC) yang telah diselenggarakan sejak tahun 1986, dilaksanakan setiap bulan Januari setiap tahunnya, merupakan momen penting dalam mengetahui keberagaman jenis, populasi, dan keberadaan dari burung air serta hubungan dengan habitat, berupa lahan basah.

Pelaksanaan penghitungan burung air se-Asia untuk tahun 2018 di Indonesia, kali ini direkomendasikan untuk dilaksanakan secara serentak mulai tanggl 6 hingga 21 Januari 2018 yang dikordinir oleh Wetlands International Indonesia dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia.

Di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, kegiatan ini dilaksanakan secara sukarela oleh kelompok Konservasi Biodiversitas Ketapang, yang lebih dikenal sebagai Kawan Burung Ketapang (KBK), yang dilaksanakan pada tanggal 20 Januari 2018, berlokasi di pantai paling dekat dengan pusat kota Ketapang, Kalimantan Barat, yaitu di pantai yang ada di Kelurahan Tuan-tuan, Kecamatan Benua Kayong.

Dipilihnya tempat ini, menurut Abdurahman Al Qadrie, Ketua KBK, kepada media ini, Minggu (21/01/2018) malam, karena merupakan daerah transit penting bagi burung. Pantai ini memiliki karakter habitat dengan didominasi pantai pasang surut berpasir dengan sedikit sekali lumpur. Dan nyaris tidak ada hutan mangrove nya, dengan rawa tergenang air di sisi daratannya yang dijadikan lahan persawahan masyarakat setempat.

“Menjadi menarik lagi selain tempat persinggahan sementara bagi burung-burung pantai yang bermigrasi ke selatan, karena juga menjadi tempat berbiak bagi  Cerek melayu (Charadrius peroni). Sejauh yang diketahui saat ini, jenis ini adalah jenis satu satunya yang berbiak di Kalimantan dari sekian jumlah jenis-jenis burung pantai lainnya”, terang Abdurahman Al Qadrie.

Selanjutnya kata Abdurahman, bahwa sebagaimana telah menjadi kebiasaan setiap tahunnya, burung-burung bermigrasi dari belahan bumi utara ke belahan bumi selatan ketika terjadi musim dingin, yaitu dimulai pada bulan Agustus dan bermigarasi kembali dari selatan ke utara ketika menjelang musim semi pada bulan April.

“Fenomena alam ini menjadi alasan bagi burung-burung yang membutuhkan suhu lebih hangat dan makanan berlimpah dan kembali dimusim semi untuk berbiak. Kebanyakan burung-burung ini bermigrasi dari Siberia, Asia bagian utara, dan Alaska menuju ke selatan melewati semenanjung Malaysia. Filipina, Indonesia, Australia hingga Selandia Baru”, ungkap Abdurahman.

Selain itu, lanjut Abdurahman Al Qadrie, ada individu dari jenis ini yang merupakan jenis pengembara (migrant), terdapat juga individu dari 12 jenis lainnya yang terlihat saat pengamatan, serta 5 jenis penetap (resident), dengan jumlah total yang teramati 416 individu burung dari 18 jenis (spesis).

Hal ini mengindikasikan bahwa beberapa tempat di Kabupaten Ketapang masih dalam keadaan yang sangat baik. Tentu hal ini perlu sejalan dengan kebijakan pemerintah terutama mengenai pengembangan investasi wisata pantai, yang tentu saja jika tidak dilakukan secara arif akan menjadi ancaman bagi keberadaan burung-burung tersebut. Padahal keberadaan burung-burung tersebut menjadi daya tarik tersendiri bagi memancing minat wisatawan, terutama wisata pengamatan burung (Birdwatching)”, ujar Abdurahman.

Dikatakan Abdurahman, bahwa selain untuk mengetahui keragaman jenis dan populasi burung-burung air dan kemudian melakukan upaya konservasi, kegiatan ini juga dilaksanakan oleh KBK sebagai upaya untuk memberikan penyadartahuan kepada masyarakat di sekitar kegiatan ini dilakukan. Burung air merupakan indikator kesehatan lingkungan di lahan basah.

Hal ini juga sangat bermanfaat bagi pertanian dan perikanan yang memberi dampak pada kehidupan manusia, karena beberapa jenis dari burung migrasi ini menjadi predator belalang dan serangga lainnya yang menjadi hama bagi pertanian tanaman pangan.

Sudah sejak lama masyarakat pantai memanfaatkan lahan basah untuk membudidayakan padi sebagai bahan pangan utama. Dan menjadikan tempat yang cocok untuk budidaya ikan yang menjadi pemenuhan kebutuhan protein hewani bagi manusia, tentunya ketika lahan basah masih terjaga”, lanjut Abdurahman.

Hal inilah, kata Abdurahman, yang menjadikan burung air sebagai bagian yang tak terpisahkan dengan lahan basah. Walau ada beberapa jenis burung air yang dianggap sebagai hama, tapi nyata keberadaan mereka sebagai bagian dari mata rantai ekosistem.

Maka sudah semestinya, kata Ketua Kawan Burung Ketapang Abdurahman Al Qadri, kearipan lokal yang telah dipakai secara turun temurun perlu diterapkan kembali.

“Mengamati burung dengan memperhatikan prilaku dan kebiasaannya, merupakan pengetahuan tambahan diluar sekolah, memperkaya khazanah pengetahuan tentang hubungan antar makhluk hidup dalam sebuah ekosistem” kata Salsabilla, pelajar kelas XII MAN 1 Ketapang, yang juga ikut dalam kegiatan tersebut.***(Halim Anwar/LKBK65).

Gambar : Dokumen Kawan Burung Ketapang untuk LKBK65
_______

“MENGUTIP SEBAGIAN ATAU SELURUH ISI PORTAL INI HARUS SEIZIN REDAKSI. HAK CIPTA DILINDUNGI UNDANG-UNDANG”
_______
Share this post :

Post a Comment