KETAPANG – Kegiatan
penghitungan burung air se-Asia atau Asian Waterbird Census (AWC) yang telah
diselenggarakan sejak tahun 1986, dilaksanakan setiap bulan Januari
setiap tahunnya, merupakan momen penting dalam mengetahui
keberagaman jenis, populasi, dan keberadaan dari burung air serta hubungan
dengan habitat, berupa lahan basah.
Pelaksanaan penghitungan burung air se-Asia untuk tahun
2018 di Indonesia, kali ini
direkomendasikan untuk dilaksanakan secara serentak mulai tanggl 6
hingga 21
Januari 2018 yang
dikordinir oleh Wetlands International Indonesia dan Kementerian Lingkungan
Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia.
Di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, kegiatan ini
dilaksanakan secara sukarela oleh kelompok Konservasi Biodiversitas Ketapang,
yang lebih dikenal sebagai Kawan Burung Ketapang (KBK), yang dilaksanakan pada tanggal 20 Januari
2018, berlokasi di pantai paling dekat dengan pusat kota Ketapang, Kalimantan Barat, yaitu di pantai yang ada di Kelurahan Tuan-tuan, Kecamatan Benua Kayong.
Dipilihnya tempat ini, menurut Abdurahman Al Qadrie, Ketua
KBK, kepada media ini, Minggu (21/01/2018) malam, karena
merupakan daerah transit penting bagi burung. Pantai ini memiliki karakter habitat dengan didominasi pantai pasang
surut berpasir dengan sedikit sekali lumpur. Dan nyaris tidak ada hutan
mangrove nya, dengan rawa tergenang air di sisi daratannya yang dijadikan lahan
persawahan masyarakat setempat.
“Menjadi menarik lagi selain tempat persinggahan
sementara bagi burung-burung pantai yang bermigrasi ke selatan, karena juga
menjadi tempat berbiak bagi Cerek melayu
(Charadrius peroni). Sejauh yang
diketahui saat ini, jenis ini adalah jenis satu satunya yang berbiak di
Kalimantan dari sekian jumlah jenis-jenis burung pantai lainnya”, terang
Abdurahman Al Qadrie.
Selanjutnya kata Abdurahman, bahwa sebagaimana telah
menjadi kebiasaan setiap tahunnya, burung-burung bermigrasi dari belahan bumi
utara ke belahan bumi selatan ketika terjadi musim dingin, yaitu dimulai pada
bulan Agustus dan bermigarasi kembali dari selatan ke utara ketika menjelang
musim semi pada bulan April.
“Fenomena alam ini menjadi alasan bagi burung-burung yang
membutuhkan suhu lebih hangat dan makanan berlimpah dan kembali dimusim semi
untuk berbiak. Kebanyakan burung-burung ini bermigrasi dari Siberia, Asia
bagian utara, dan Alaska menuju ke selatan melewati semenanjung Malaysia.
Filipina, Indonesia, Australia hingga Selandia Baru”, ungkap Abdurahman.
Selain itu, lanjut Abdurahman Al Qadrie, ada individu
dari jenis ini
yang merupakan jenis pengembara (migrant), terdapat juga individu dari 12 jenis lainnya yang terlihat saat pengamatan,
serta 5 jenis penetap (resident), dengan jumlah total yang teramati 416
individu burung dari 18 jenis (spesis).
“Hal ini mengindikasikan bahwa beberapa tempat
di Kabupaten Ketapang masih dalam keadaan yang sangat baik. Tentu hal ini perlu
sejalan dengan kebijakan pemerintah terutama mengenai pengembangan investasi wisata pantai, yang tentu saja jika tidak dilakukan secara arif
akan menjadi ancaman bagi keberadaan burung-burung tersebut. Padahal keberadaan
burung-burung tersebut menjadi daya tarik tersendiri bagi memancing minat
wisatawan, terutama wisata pengamatan burung (Birdwatching)”, ujar Abdurahman.
Dikatakan Abdurahman, bahwa selain untuk
mengetahui keragaman jenis dan populasi burung-burung air dan kemudian
melakukan upaya konservasi, kegiatan ini juga dilaksanakan oleh KBK sebagai
upaya untuk memberikan penyadartahuan kepada masyarakat di sekitar kegiatan ini
dilakukan. Burung air merupakan indikator kesehatan lingkungan di lahan basah.
Hal ini juga sangat bermanfaat
bagi pertanian dan perikanan yang memberi dampak pada kehidupan manusia, karena beberapa jenis dari burung migrasi ini menjadi predator belalang
dan serangga lainnya yang menjadi hama bagi pertanian tanaman pangan.
“Sudah sejak lama masyarakat pantai
memanfaatkan lahan basah untuk membudidayakan padi sebagai bahan pangan utama.
Dan menjadikan tempat yang cocok untuk budidaya ikan yang menjadi pemenuhan
kebutuhan protein hewani bagi manusia, tentunya ketika lahan basah masih
terjaga”, lanjut Abdurahman.
Hal inilah, kata Abdurahman, yang
menjadikan burung air sebagai bagian yang tak terpisahkan dengan lahan basah.
Walau ada beberapa jenis burung air yang dianggap sebagai hama, tapi nyata
keberadaan mereka sebagai bagian dari mata rantai ekosistem.
Maka sudah semestinya, kata Ketua Kawan Burung Ketapang Abdurahman Al Qadri, kearipan lokal yang telah
dipakai secara turun temurun perlu diterapkan kembali.
“Mengamati burung dengan memperhatikan prilaku dan kebiasaannya, merupakan pengetahuan tambahan diluar sekolah, memperkaya khazanah pengetahuan tentang hubungan antar makhluk hidup dalam sebuah ekosistem” kata Salsabilla, pelajar kelas XII MAN 1 Ketapang, yang juga ikut dalam kegiatan tersebut.***(Halim Anwar/LKBK65).
Gambar : Dokumen Kawan Burung Ketapang untuk LKBK65
_______
“MENGUTIP SEBAGIAN ATAU SELURUH ISI PORTAL INI HARUS SEIZIN REDAKSI. HAK CIPTA DILINDUNGI UNDANG-UNDANG”
_______





Post a Comment