KETAPANG – Bertempat di Pondok Pesantren Nurul Iman Kelurahan
Sukaharja Kecamtan Delta Pawan, Ketapang, Kalbar, telah dilaksanakan Dialog
Kebangsaan dengan Tema "Aplikasi Detadikalisasi Dalam Kehidupan Bernegara”
bersama Ust. M. Abdul Azis Nor, Minggu (27/08/2017) pagi.
Ust M.Abdul
Azis Nor selaku Pimpinan Ponpes Nurul Iman pada kesempatan itu mengatakan antar
lain bahwa, perjuangan sudah dilaksanakan oleh para pahlawan,para ulama,dan
santri. Dan ada beberapa ciri dari gerakan ini yang perlu diperhatikan oleh
guru dan orang tua.
“Faham
radikal menganggap Pemerintahan manapun dan siapa pun yang tidak berpegang pada
Alquran berarti melawan Tuhan dan mereka mesti dijauhi, atau bahkan
dilawan. Sebagai contoh ada para santri yang sudah masuk pada jaringan ini
menolak menyanyikan lagu-lagu kebangsaan, terlebih lagi upacara hormat bendera.
Kalaupun mereka melakukan, itu semata hanya untuk mencari selamat, tetapi
hatinya mengumpat”, kata Ust M. Abdul Azis Nor.
Seanjutnya
kata Abdul Azis, bahwa mereka tidak mau tahu bahwa sebagai warga negara mesti
mengikuti dan menghargai tradisi, budaya, dan etika berbangsa dan bernegara, dibedakan
dari ritual beragama.
“International
State in Irak and Suriah (ISIS) yang baru-baru ini muncul dan marak diberitakan
di media massa, baik media nasional maupun internasional, serta masih banyak
kelompok dan gerakan sejenis lainnya yang bermunculan di negeri ini, yang
semuanya penting untuk diketahui dan diwaspadai oleh santri, yang notabene
telah ribuan tahun lamanya, sejak Islam pertama kali masuk ke Nusantara pada
abad ke-7 M / 1 H, menganut paham Ahlus Sunnah wal Jama’ah”,ungkap Abdul Azis.
Selain itu,
kata Abdul Azis, sebagai bentuk tanggungjawab moral untuk memberikan sedikit
pencerahan dan peringatan dini kepada masyarakat kita, khususnya para santri
dan generasi muda Muslim, agar dapat membentengi diri dengan pemahaman
keagamaan yang benar dan lurus.
“Sehingga
tidak mudah terprovokasi oleh doktrin-doktrin “meresahkan” dan memecah-belah
yang gencar dilakukan oleh kelompok-kelompok radikal yang dalam setiap aksi dan
gerakannya selalu menggunakan cara-cara dengan mengatas-namakan dan membawa
simbol-simbol Keislaman namun hakikatnya sangat tidak Islami bahkan jauh dari
nilai-nilai luhur ajaran Islam itu sendiri yang dibawa oleh Rasulullah SAW yang
bersifat rahmatan lil ‘alamin”,ujra Abdul Azis Nor.
Sementara
itu Kapten Inf. E. Andi, Pasi Intel Kodim 1203/Ketapang, Kalbar yang juga
sebagai pemateri pada acara dialog itu mengatakan, bahwa ada aliran yang
bersifat radikal dengan mengatakan jihad,bagaimana mau mengatakan jihad
sementara yang dibunuh ada yang Muslim juga, itu hanya fanatis yang tidak
mewakili Islam.
“Para santri
sebagai seorang muslim yang mendalami Al Quran dan Hadist, agar di pesantren
ini tidak membuat figur atau mengkultuskan seorang ulama, karena Nabi Muhammad
sendiri tidak mau dikultuskan. Apabila mengkultuskan seseorang maka dengan
sendiri nya hati nurani akan mengikuti tingkah laku orang tersebut”, kata Andi.
Manusia yang
terpilih saja, lanjut Andi, masih ada kesalahan,apalagi saat ini berhadapan
dengan ulama yang lebih mementingkan dunia. Saat ini di Indonesia ada ustad
besar yang mengajarkan tidak boleh menghormati bendera, dimana setelah diteliti
ternyata dalam sejarahnya pernah berbenturan dengan TNI”,ungkapnya.
Kemudian
kata Andi bahwa di dalam pesantren ada elemen pondok, ada Kyai atau ustad, dimana
seharusnya ustad dapat memberikan pemahaman untuk tidak mengikuti radikal.
“Ketika Nabi
memimpin perang dan musuh nya menyerahkan diri,maka nabi masih memperlakukan
nya secara manusiawi. Didalam perbedaan ada suatu keindahan,seperti perbedaan
agama, suku, profesi dan sebagainya”, ujar Andi.
Kemudian
kata Andi, berbicara dalam sebuah negara, apabila ada pemimpin yang salah maka kewajiban
kita adalah mendoakannya. Karena alangkah indahnya apabila pemimpin salah maka
didoakan agar bisa berubah, agar diberi rahmat.
“Apabila ada
ajakan ustad untuk demo kepada pemimpin untuk tidak diikuti,tetapi di doakan. Jangan
mudah untuk mengikuti ajakan jihad, apabila ragu-ragu untuk ditanyakan, dan
dari 72 ajaran Islam cuma satu”,tukas Kapten Inf. E. Andi.
Dialog
Kebangsaan yang berlangsung pagi itu dihadiri sekitar 100 orang, dan juga turut
hadir, Ust. M Abdul Azis Nor, Pimpinan Ponpes Nurul Iman, AKP Sutrisno, Kasat
Binmas Polres Ketapang, Kapten Inf. E Andi Pasi Intel Kodim 1203, dan Iptu
Topo,Kasat Intel Polres Ketapang. ***(SP/LKBK65).
Gambar : Kegiatan Dialog Kebangsaan di Ponpes Nurul Iman,
Minggu (27/08/2017) pagi.***(Ist).
_______
“MENGUTIP SEBAGIAN ATAU
SELURUH ISI PORTAL INI HARUS SEIZIN REDAKSI. HAK CIPTA DILINDUNGI
UNDANG-UNDANG”
______


Post a Comment