JAKARTA-Tidak terasa saat
ini khususnya bagi umat Islam di seluruh dunia, bahwa pelaksanaan puasa di
bulan suci Ramadhan 1438 H sudah berada di hari ke sembilan, tentu masing
masing telah, sedang dan akan diuji oleh Allah SWT untuk berperang melawan
musuh terbesarnya yakni hawa nafsu.
Menurut
Profesor Doctor H.M.Ikhsan Tanggok,M.Si, Guru Besar Antropologi Agama di
Fakultas Ushuluddin (Theology) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif
Hidayatullah, Jakarta, bahwa Ramadan adalah bulan pendidikan, dimana umat Islam
dididik melatih jasmani dan rohaninya selama 1 bulan.
“Pendidikan
jasmani membuat tubuh kita untuk beristirahat sejenak, karena selama 11 bulan
diporsir untuk makan dan minum pada siang hari, sehingga organ-organ tubuh kita
menjadi lelah. Pendidikan rohani karena puasa dapat melatih jiwa untuk menjadi
orang yang sabar, menahan hawa nafsu, menahan emosi atau amarah dan lain-lain.
Setelah satu bulan kita mengalami proses pendidikan, maka sebelas bulan ke
depan kita dituntut untuk menerapkan apa yang kita dapatkan selama 1 bulan itu”,kata
Ikhsan Tanggok melalui telpon genggamnya kepada Portal LKBK65,Sabtu
(03/06/2017) malam.
Selanjutnya
kata Ikhsan Tanggok yang juga merupakan salah satu putra terbaik asal
Kalimantan Barat yang saat ini bermukim di Jakarta ini, mengatakan bahwa puasa
membuat kita merasa seperti menjadi orang yang kurang mampu secara ekonomi. “Selama
satu bulan berpuasa kita merasakan beginilah hidup orang yang kurang mampu, apa
yang menjadi keinginannya harus ditahan, karena keterbatasan uang untuk
memenuhi keinginannya. Begitu juga bagi orang yang berpuasa, dia harus menahan
keinginannya walaupun ia mampu mewujudkannya”,ujarnya.
Selain
itu lanjut Ikhsan Tanggok, puasa juga melatih diri untuk berbagi pada orang
lain yang kurang mampu, seperti membayar zakat fitrah yang juga terjadi di
bulan Ramadhan. Walaupun zakat fitrah jumlahnya kecil, namun itu memiliki makna
bagi orang yang kurang mampu.
“Puasa
Ramadhan juga memupuk silahturrahmi, karena di bulan Ramadhan kita disunahkan
untuk melaksanakan Shalat Taraweh. Pada Shalat Taraweh kita berjumpa banyak
orang, saling bersalaman dan menghilangkan sikap permusuhan di antara sesama
umat Islam”,ungkap guru besar ini.
Hal
yang tak kalah penting dari bulan suci Ramadhan ini, kata Ikhsan Tanggok,
adanya peningkatan ekonomi yang luar biasa, bukan saja dirasakan umat Islam
tapi juga oleh Non Islam. “Dengan membeli kebutuhan berpuasa dan lebaran
peningkatan ekonomi para pedagang (baik Islam dan Non Islam-Red) meningkat tajam.
Dengan demikian puasa tidak hanya memberikan pengaruh pada umat Islam saja,
tapi juga Non Islam”,kata M.Ikhsan Tanggok.
Kemudian
lanjut Ikhsan,sikap saling menghargai dan menghormati juga dibina dan dipupuk,
di mana rumah-rumah makan sebagian tutup atau libur selama bulan Ramadhan ini, “tujuannya
adalah untuk menghormati orang yang berpuasa. Jika sikap saling menghormati ini
diteruskan selama sebelas bulan ke depan, Insya Allah kerukunan antar bangsa dan
agama akan dapat terjaga selamanya di Indonesia. Untuk itu jadikanlah bulan Ramadhan
ini sebagai bulan Tarbiyah (pendidikan) bagi orang beriman,”tukas Ikhsan
Tanggok dari ujung telpon genggamnya.***(Halim
Anwar/LKBK65).
Gambar: Profesor
Doctor H.M.Ikhsan Tanggok,M.Si, Guru Besar Antropologi Agama di Fakultas
Ushuluddin (Theology) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah,
Jakarta.***(Ist).
_______
“MENGUTIP SEBAGIAN ATAU
SELURUH ISI PORTAL INI HARUS SEIZIN REDAKSI. HAK CIPTA DILINDUNGI
UNDANG-UNDANG”
______







Post a Comment