Oleh : Dr.H.Susilo Bambang Yudhoyono
Program 100 Hari pertama yang dijalankan presiden baru selalu menarik
perhatian publik. Ini pula yang menjadi kesukaan pers dan media massa.
Tendensinya bersifat kritis. Kira-kira yang hendak diberitakan adalah kurang
berhasilnya program itu.
"Ternyata tidak ada yang luar biasa. Tidak ada perubahan," begitu
komentar yang lazim dilontarkan.
Atau komentar-komentar seperti ini.
"Mana gebrakannya?"
"Pemerintah ini gagal total. Apa yang dijanjikan dalam kampanye tidak bisa
dibuktikan."
Menghadapi komentar miring seperti ini jika Anda menjadi presiden mendatang,
saran saya Anda tidak perlu terganggu. Tetaplah berhati dan berkepala dingin.
Terus jalankan apa yang Anda ingin lakukan di tiga bulan pertama pemerintahan
yang Anda pimpim. The show must go on.
Pada akhir tahun 2004 yang lalu, Program 100 Hari pertama saya lebih saya
gunakan untuk mengonsolidasikan jajaran lembaga pemerintah, baik pusat maupun
daerah. Saya berikan briefing kepada jajaran kabinet dan juga para
gubernur. Apa yang menjadi visi, misi dan intensi saya sebagai presiden.
Termasuk agenda dan prioritas yang harus dijalankan pemerintah untuk periode
lima tahun ke depan. Mereka semua akan berlayar dalam 'satu perahu' dengan
saya, sehingga harus terbangun saling kepercayaan di antara kami. Trust.
Minggu awal dari program 100 Hari itu juga gunakan untuk saya berkunjung ke
sejumlah lembaga dan instansi yang memiliki peran penting, serta pula yang
banyak mendapat sorotan dari masyarakat. Tujuan saya agar mereka bekera makin
profesional dan sungguh-sungguh, sehingga kinerjanya menjadi meningkat. Yang
saya kunjungi antara lain adalah Direktoral Jenderal (Ditjen) Pajak, Diten Bea
dan Cukai, Mabes Polri, dan Kejaksaan Agung.
Tetapi, seperti sudah menjadi suratan sejarah, Program 100 Hari saya
pasca-Pemilu 2004 tersebut tidak terlaksana sesuai rencana, karena Indonesia
mengalami musibah besar. Aceh dan Nias mengalami gempa bumi dan tsunami. Sebuah
bencana alam terdahsyat dengan korban terbesar pada awal abad ke-21. Tentu saja
pikiran dan hari-hari saya segera beralih untuk melakukan berbagai tindakan
tanggap darurat dan pemulihan keadaan di Aceh dan Nias pascabencana tersebut.
Memang, sinisme dan kritik pers dan publik dalam Program 100 Hari pertama di
akhir tahun 2004 dulu relatif fair. Tidak berlebihan. Kalau saya telaah
mengapa pers tidak terlalu keras barangkali karena sebagai presiden baru mereka
masih relatif berpihak kepada saya. Kemudian, sebagaimana saya ceritakan
sebelumnya, tiba-tiba Indonesia berduka. Program 100 Hari tidak menjadi isu
yang menarik lagi.
Tahun 2009 situasinya menjadi lain.
Dalam menyoroti Program 100 Hari yang dijalankan pemerintah dunia pengamat dan
pers jauh lebih kritis jika dibandingkan dengan tahun 2004.
Sebagaimana yang telah saya sampaikan sebelumnya, dalam satu kesempatan saya
menerima wawancara RCTI, sebuah televisi terkemuka di Indonesia. Wawancara itu
dilaksanakan di Istana Cipanas, dan berlangsung dalam suasana yang santai.
Pewawancaranya adalah Putra Nababan, seorang tokoh muda pers. Meskipun
pertanyaan-pertanyaannya kritis, tetapi tetap konstruktif. Justru dengan
pertanyaan kritis seperti itu saya memiliki kesempatan untuk menjelaskan banyak
hal kepada rakyat Indonesia.
Pertanyaan yang dilontarkan kepada saya antara lain adalah sebagai berikut:
"Pak SBY banyak yang menilai bahwa Program 100 Hari pemerintah tidak
berjalan dengan baik. Bahkan ada yang mengatakan bahwa janji-janji kampanye
Bapak dalam Pemilu 2009 yang lalu tidak bisa diwujudkan. Apa komentar Pak
SBY?"
Sebuah pertanyaan yang saya nilai relevan.
"Bung Putra, ada dua hal yang ingin saya jelaskan. Pertama, kontroversi
dan kritik dari masyarakat itu saya anggap wajar. Saya menghormatinya. Itu yang
saya lakukan selama lima tahun lebih ini. Saya pun sesungguhnya juga mendengarkan
kritik-kritik itu".
Kemudian saya lanjutkan jawaban saya.
"Sedangkan yang kedua, yang saya kampanyekan dalam Pilpres 2009 yang lalu
adalah apa yang hendak pemerintah lakukan selama lima tahun ke depan. Apa saja
agenda dan prioritasnya, baik itu di bidang ekonomi, politik, hukum, keamanan,
hubungan internasional, maupun kesejahteraan rakyat. Tentu semua itu tidak
mungkin diwujudkan dalam waktu 100 hari. Yang bisa saya capai dalam 100 hari ya
sasaran 100 hari pertama," demikian kurang lebih jawaban saya.
Pesan saya kepada para Presiden Indonesia mendatang, jika Anda mendapat banyak
kritik dan komentar miring ketika baru saja Anda memulai menjalankan tugas,
jangan terlalu terperanjat. Apa pun komentar dan kritik yang Anda terima
teruslah fokus pada pekeraan. Teruslah bekerja. Tak perlu patah semangat.
Anggaplah itu ujian awal. Anda harus lulus, karena ujian ujian berikutnya
biasanya akan jauh lebih berat.
Tanpa bermaksud menggurui atau mengajari Anda para pemimpin mendatang, saya
ingin berbagi apa yang saya jadikan Agenda 100 Hari saya setelah saya dilantik
sebagai presden tanggal 20 Oktober 2004. Agenda 100 Hari ini juga saya
sampaikan kepada para menteri dan segenap anggota kabinet pada Sidang Kabinet
Paripurna yang pertama tanggal 22 Oktober 2004 di Jakarta.
- Review APBN 2oo5
- Kunjungan ke daerah konflik
- Review dan pengecekan langkah-langkah pemerantasan korupsi
- Review dan pengecekan langkah-langkah pemberantasan terorisme
- Review dan pengecekan langkah-langkah pemberantasan illegal logging
- Konsultasi awal dengan DPR dan DPD
- Konsultasi awal dengan MA, MK, dan BPK
- Review kebijakan dan langkah-langkah pengelolaan utang
- Review kebijakan dan program pengurangan pengangguran
- Review kebijakan dan program pengurangan kemiskinan
- Review kebijakan dan program pendidikan
- Review kebijakan peningkatan investasi
- Revitalisasi kerja sama internasional
Jika Anda membaca keseluruhan agenda 100 hari yang saya sampaikan tadi, pasti
Anda mengerti apa yang menjadi prioritas saya dan sekaligus yang menjadi
perhatian masyarakat luas. Itu juga yang dulunya saya sampaikan dalam kampanye
Pemilihan Presiden tahun 2004. ***
*) Dikutip dari: Susilo Bambang Yudhoyono, 2014, Selalu Ada Pilihan, Jakarta:
Penerbit Buku Kompas, halaman 520 - 523.

Post a Comment