Oleh : Dr.H.Susilo Bambang Yudhoyono
Di bagian depan telah saya sampaikan bahwa dalam peperangan, termasuk
perang politik itu tidak ada istilah middle ground, dalam arti setengah
kalah atau setengah menang. Pilihannya hanya satu ~ menang.
Agar kita bisa memenangkan peperangan politik, bukan hanya pertempuran, maka
kita harus berjuang sekuat tenaga. Mulai dari perencanaan, persiapan sampai
pada pelaksanaan. Kita mesti mengerahkan segala energi dan sumber daya yang
kita miliki. Kita juga harus mengembangan strategi dan taktik yang terbaik,
yang bisa memenangkan peperangan itu. Pertanyaannya sekarang adalah apakah kita
pasti akan menang? Bagaimana kalau kita kalah?
Sebenarnya tidak terlalu sulît untuk menjawab pertanyaan di atas. Tetapi, yang
sulit adalah menjalankannya. Kalau kìta jujur, memang tidak mudah meneríma
kekalahan dalam sebuah kompetisi, termasuk yang namanya pemìlihan presiden.
Kita sering tidak siap. Itu kenyataan yang ada.
Oleh karena itu, Saya hanya íngín urun rembuk bagaimana kíta mempersiapkan mental
kita jika ternyata kita harus menerima kekalahan. Terus terang, Saya juga tidak
punya resep yang ajaib.
Guna menenangkan hati Anda yang tengah gundah karena kalah, barangkalí ada 2
hal yang harus Anda katakan berulang kalî dalam hati Anda.
Kata-kata pertama adalah "Saya tidak menyesal. Tidak ada yang salah. Saya
telah berjuang sekuat tenaga. Saya tídak mujur saja."
Sedangkan yang kedua, "Semua ini kehendak Tuhan. Ini takdir sejarah.
Pastilah rencana Tuhan lebih indah dibandingkan rencana manusia."
Sekali lagi kendalikan emosi Anda dengan dua kalimat bijak itu. Berkali-kali.
Hayati dan camkan benar-benar.
Di bawah ini Saya akan berbagi cerita dengan Anda semua, dialog saya dengan
sejumlah kandidat yang kalah dalam sebuah pemilihan. Yang ingin saya ceritakan
adalah percakapan berharga saya dengan 2 kandidat kandidat yang kalah dalam
sebuah pemilihan gubernur. Ceritanya indah dan menarik.
Begitu quick count (perhitungan cepat) memenangkan Pak Jokowi sebagai
Gubernur DKI Jakarta, Pak Fauzi Bowo, Gubernur Incumbent yang dìkalahkan
menelepon saya. Waktu itu hari Kamis, 20 September 2012, senja hari. Dalam
percakapan itu ada 2 hal yang saya anggap sebagai mutiara pembelajaran dalam
kehidupan demokrasi.
"Pak SBY, menurut quick count saya kalah. Saya minta maaf. Pak
Jokowi dapat 54,89 persen, sedangkan saya 45,11 persen. Sebenarnya saya bisa
saja mengadu, tetapì melìhat selisihnya cukup jauh. Oleh karena ini, saya
memutuskan untuk tidak perlu mengadukan ke pengadilan, baik MA maupun MK,"
demikian kata Dr. Fauzi Bowo.
Untuk diketahui, Pak Fauzi Bowo (Foke) diusung oleh Partai Demokrat dan
sejumlah partai politik yang lain, sedangkan Pak Jokowi dicalonkan oleh PDIP
dan Partai Gerindra. Sebelum Saya menjawab apa yang disampaikan oleh Pak Foke
tadi, yang bersangkutan kembali menyampaikan hal panting lainnya.
"Pak Presiden, setelah ini saya akan mengucapkan selamat kepada Pak
Jokowi, karena saya telah menerima kekalahan ini," ujarnya dengan suara
yang sedikit tergetar.
Mendengar 2 butir panting pembicaraan Pak Foke tadi, terus terang saya lega.
Lega, bersyukur dan terharu. Pikir saya, peristiwa saperi ini merupakan
tanda-tanda bakal makin matang dan berkualitasnya demokrasi di Indonesia.
Dengan terharu saya langsung merespons kata-kata Pak Foke tadi:
"Pak Poke, Anda telah berupaya dengan sungguh-sungguh. Sudah berikhtiar.
Tetapi, Allah menentukan lain. Terimalah takdir Tuhan ini," pembuka
kalimat yang saya sampaikan.
Kemudian saya teruskan:
"Barangkali oleh masyarakat Jakarta Pak Foke sudah dianggap cukup memimpin
mereka. Anda sudah dua kali menjadi Wakil Gubernur. Satu kali menjadi Gubernur.
Berarti sudah 15 tahun memimpin dan mengurusi Jakarta. Lihatlah dari kacamata
yang positif."
"Kalau Pak Foke berniat dan berencana akan menelepon Pak Jokowi untuk
mengucapkan selamat, itu suatu sikap yang luar biasa. Kesatria namanya. Sebagai
sahabat Pak Foke saya bangga," tutup Saya.
Beberapa orang yang mendengar percakapan saya dengan Pak Fauzi Bowo, Gubernur
DKI Jakarta, yang baru beberapa jam sebeiumnya dinyatakan kalah oleh
perhitungan cepat itu, jadi ikut terharu.
Setelah Pak Fauzi Bowo mengucapkan selamat kepada Pak Jokowi, Gubernur DKI
Jakarta Terpilih, saya juga mengucapkan selamat kepada yang bersangkutan.
Ketika saya telepon dan ucapkam selamat, dari nada suaranya, Pak Jokowi tampak
senang. Barangkali Pak Jokowi tidak menyangka kalau secepat itu saya
mengucapkan selamat kepadanya.
Percakapan serupa juga terjadi antara saya dengan Bung Dede Yusuf, calon
Gubernur Jawa Barat, yang juga dinyatakan kalah dalam pemilihan di sana.
"Bapak, saya melaporkan bahwa Saya belum berhasil memenangkan pemilihan
Gubernur Jawa Barat. Saya berada di peringkat ke tiga. Memang, terus terang,
banyak penyimpangan yang terjadi. Saksinya juga tidak sedikit. Tetapi, saya memilih
tidak akan mengadukàn penyimpangan-penyimpangan itu, karena juga tidak akan
mengubah keadaan. Saya menerima kekalahan ini. Saya minta maaf Pak SBY."
Saya pun langsung merespons Bung Dede Yusuf, juga dengan perasaan terharu
tetapi lega.
"Bung Dede, Anda kesatria. Itu teladan dalam demokrasi. Anda masih muda.
Masih panjang perjalanan yang akan Anda lalui. Ambil hikmah dan pelajarannya,
kemudian teruslah melangkah ke depan."
Saya kira Anda semua setuju, percakapan saya dengan 2 kandidat yang kalah itu
memiliki nilai panting dalam kehidupan politik dan demokrasi di negeri kita.
Sebagaimana diketahui oleh publik, bahwa baik Pak Fauzi Bowo maupun Bung Dede
Yusuf diusung oleh Partai Demokrat, sedangkan Pak Jokowi diusung oleh PDI
Perjuangan dan Pak Ahmad Heryawan diusung oleh PKS. Hubungan saya baik dengan
Pak Jokowi maupun Pak Ahmad Heryawan sebenarnya juga baik. Sebagai Presiden
saya harus adil dan menjalin hubungan baik dengan para gubernur, bupati dan
Wali kota, dari partai politik mana pun mereka berasal. Selama ini, kedua
pemimpin daerah itu saya nilai juga termasuk yang berprestasi baik.
*) Dikutip dari: Susilo Bambang Yudhoyono, 2014, Selalu Ada Pilihan, Jakarta:
Penerbit Buku Kompas, halaman 485 - 488.

Post a Comment